Hujan Malam Akhir Pekan
Buku yang bersampul putih dengan lukisan gaya perempuan dan laki-laki berada di kehidupan gelap terang ini terbit pada Mei 2019. Pada halaman depan sebelum daftar isi tertulis “Kekasih terima kasih telah kau beri tahu aku. Sebelum kenal cinta, dulu tahuku cuma pisau yang bisa melukai.” Begitulah tulisnya. Penulis yang menyuguhkan bahasa komunikatif ini menyajikan dua tokoh ke dalam tulisannya, yakni Sastro dan Jendro sebagai peran utama.
Kedua tokoh yang disajikan oleh penulis menjalani berbagai macam peran, dari mulai sebagai pacar, sepasang suami dan istri, mantan, hingga tetangga. Berbagai bab yang dibuat dari mulai Move on, Surya Telah Tenggelam hingga Sawang Sinawang mengkisahkan tentang kehidupan sehari-hari. Politik, sosial, hingga cinta ada di dalam buku karangan Sujiwo Tejo.
Sujiwo tejo adalah seorang pengangguran yang produktif. Ia pernah menjadi wartawan pada salah satu media sebelum menjadi seperti sekarang (Tulusuri aja biar kenal). Panggilan yang cocok untuk sujiwo tejo adalah “su”. Cukup dengan nama depan itu sudah pantas bagiku. Su. Nama seperti tokoh idolaku soe hok gie. Serta sapaan yang bisanya digunakan salah satu teman untuk memanggilku, a-su. Sesuka hatiku dan mereka. Siapa dan apa pun namanya, manusia dikenang karena jasa dan kebaikan. Hal itu dapat dibuktikan bahwa pada masa kanjeng nabi Muhammad dan para sahabatnya yang memiliki nama samaran masing-masing, atau bahkan dari kera yang memiliki nama ilmiah hingga manusia sekarang (Teori Evolusi).
Kembali lagi pada buku yang diterbitkan di bentang pustaka dengan halaman berjumlah 220. Itu bukan termasuk sampul, daftar isi, hingga briografi. Bisalah dihitung sendiri jika sudah bereinginan menghitung. “Makannya, tentang apa pun, termasuk tentang berita miring, jangan buru-buru bereaksi. Sabar. Ibu kota Israil ngak bakal pindah ke Yarussalem. Buktinya ibu kota Indonesia mau pindah ke Palangkaraya juga ngak pindah-pindah. Hayo?” (Hal. 149). Biasanya kerjaan warga-net yang suka ngobrolin media ke sana-kemari. Untng saja warganet bebas berpendapat dari pada saudara saya seorang penyanyi yang berpendapat ehh malah dimasukkan ke sel tahanan. Jangan lupa pada tahun ini kasus Bali tolak reklamasi belum usai, JRX SID diperuwet.
Tak hanya itu, sentilan seksi lain yang dibuatnya begitu tak disangka-sangka telah membuat ketawa saat baca buku ini. Pada halaman 133 pun di sebutkan tentang penamaan kereta api. Disebut kereta api ketika kereta tersebut muncul apinya. Ini hal konyol, kenapa saya tidak berfikir seperti itu dulu. Jawaban yang anggun dari Jendro pun keluar “Sudahlah, dulu orang jahat kelihatan jahatnya, sekarang?.”
Kisah Sastro dan Jendro ini apik, namun alurnya sedikit njlimet. Tapi taka pa. sampul belakang dari buku ini telah tertulis “Bahwa tak perlu keluh kesah, hidup hanya mengolah keluh kesah menjadi senandung.”
Komentar