Hujan Malam Akhir Pekan

Gambar
Photo: Dendysky, 2022 oleh Penulis Pagi ini muncul notifikasi dari laki-laki milik ibunya yang kucintai. Ehh, aku bingung soal cinta dan tak cukup pandai perihal tersebut. Ucapan permohonan maaf yang sering diulang setiap pagi dan esok paginya. Kadang aku, kadang juga laki-laki milik ibunya. Sayang, bolehkah aku memanggilmu seperti itu?. Rasanya pun canggung bila diucapkan dengan perasaan mendalam. Tapi, logatku yang biasanya slengek an alias peringisan membuat kata sayang tak segan-segan keluar. Notif, notifikasi itu kubiarkan menganga. Sebab masing-masing kita hancur dan sadar. Aku diam, kau pun tidur. Siang, kusimak linimasa milikmu, beberapa menit online. Aku diam. Itu berlaku sampai sore menjelang pulang kerja. Sore, aku yakin dengan sepenuh jiwa bahwa kau memberanikan diri untuk menghubungi lewat whats app. Lalu berakhir dengan kericuhan dan maaf untuk segala amarah, sayang.

Hilangnya Kesadaran yang Menyenangkan

(pixabay.com)
Tulisan ini ditujukan untuk orang-orang bernasib sama seperti diriku, budak.
Penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya untuk saudara yang sering terpanggil dengan sebutan Bastomi oleh bekas pimpinan Umum pada saat itu. Semoga Bastomi memaafkannya. Bastomi harus mengerti terkait malam kemarin yang tidak pernah dipikirkan atau bahkan tidak disengaja untuk pergi meninggalkannya. Bas, kemarin dia telah diculik. Asal kau tahu, Bas, dia senang dengan penculikan seizin dirinya sendiri. 
Bastomi yang malang, ia menunggu salah satu budak berengsek yang tidak sengaja lupa dengan rencananya hari ini, yakni menengok lady hard atau apalah itu Si Budak berengsek lupa. Dia pergi dengan sejenisnya. Para budak berkumpul merencanakan agresi secara psikis untuk orang-orang yang membudakkan dirinya sendiri nantinya.
Ahh itu karangan beberapa bulan yang lalu. Yang berhenti karena otak reot dan pikiran kacau. Bukannya kalian semua pernah merasakan hal yang sama sepertiku. Duduk berjam-jam bahkan berhari-hari di depan layar laptop atau apalah sebutannya untuk mengetik tulisan, akan tetapi tidak menghasilkan karya apapun. Tulis, delete, tulis, delete, tulis, delete, hingga akhirnya menutup si layar. Kemudian tidur….  
Kukira tidak ada teman dan di tempat yang sepi seperti surga, 10 tulisan bakal kelar, ndak taunya tidur berjam-jam. Uji coba yang  kedua, di tempat yang ramai seperti neraka, sekedar buka laptop sudah dibilang sok rajin.
Ya Tuhan, TULISAN INI HARUS TUMBUH DI LINGKUNGAN SEPERTI APA?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan Malam Akhir Pekan

Muak