Hujan Malam Akhir Pekan

Gambar
Photo: Dendysky, 2022 oleh Penulis Pagi ini muncul notifikasi dari laki-laki milik ibunya yang kucintai. Ehh, aku bingung soal cinta dan tak cukup pandai perihal tersebut. Ucapan permohonan maaf yang sering diulang setiap pagi dan esok paginya. Kadang aku, kadang juga laki-laki milik ibunya. Sayang, bolehkah aku memanggilmu seperti itu?. Rasanya pun canggung bila diucapkan dengan perasaan mendalam. Tapi, logatku yang biasanya slengek an alias peringisan membuat kata sayang tak segan-segan keluar. Notif, notifikasi itu kubiarkan menganga. Sebab masing-masing kita hancur dan sadar. Aku diam, kau pun tidur. Siang, kusimak linimasa milikmu, beberapa menit online. Aku diam. Itu berlaku sampai sore menjelang pulang kerja. Sore, aku yakin dengan sepenuh jiwa bahwa kau memberanikan diri untuk menghubungi lewat whats app. Lalu berakhir dengan kericuhan dan maaf untuk segala amarah, sayang.

Tragedi di bawah tiang listrik



Sekujur tubuh mendingin bersamamu. Malam-malam penuh kemunafikan. Lagakmu seperti orang tolol yang selalu dibohongi dan tak pernah sadar saat terbohongi. Wanita tulus yang kau cumbu malam itu adalah teman karibmu. Semasa berjuang, ia selalu berjalan tak membelakangi tubuh dan sikap panasmu. Ia sering mengkoyak rambut kumal yang kau pasang setiap selesai bertengkar atau nyerang teman-teman sialan. Coba buka otak mesummu, wanita itu pernah menangis karena luka yang kau biarkan dipergelangan tangan kirimu. Ingatkah engkau akan hal itu? Demi apa atau siapa engkau sakiti dia lagi dan lagi, terus dan terus. Kau sendiri yang suka berteman dengan wanita asik. Wanita yang tak pernah menggangap dirinya terikat kebudayaan maupun tatanan sosial. Dia wanita dan engkau laki-laki secara fisik, tetapi akal dan perbuatanmu seperti binatang yang gak karuan tololnya. Dia wanita yang sayang dengan laki-laki brengsek sepertimu.
Pertemuan kedua setelah saling berjauhan di media sosial. Dongak seperti orang menyombongkan diri, ku tatap langit yang isinya bersih disapu dewa angin. Andai matahari datang saat gelap dan para kelalawar tak kluyuran saat diriku menyeberang jalan malam itu. Sungguh perasaan ini plin plan di tengah jalan yang ramai dengan kendaraan. Keinginan antara menyeberang dan berdiam diri seperti orang sembelit, imbang.
Menunggu di bawah tower berketinggian tak kira untuk ku panjat menggunakan dua kaki. Tower merah putih yang melambangan bumi pertiwi. Tiga jam menatap si tower keingat hukuman ketika SMP, dipaksa hormat kepada merah putih di bawah panasnya dewa surya. Ini malam sabtu yang membosankan sekaligus menegangkan urat-urat leher yang tak kunjung memasang kepala seperti mengheningkan cipta saat upacara. Aku menunggu orang yang ingin menunaikan janjinya pada malam itu. Ku tunggu selama tiga jam di area telkom dengan gadget yang nyawanya hampir lenyap ditelan cahayanya sendiri. “Gila, malam ini dingin sekali”. Empat hingga lima kali tukang becak menawarkan kursinya kepadaku. Tiga kali pak ojek memaksa ingin mengantarku dan dua kali aku membohongi mereka. Mungkin hal itu menjadi rutinitas ditahun ini. Anggap saja ini tahun kekonyolan atau apalah yang seharusnya bisa di pause untuk mencari jawaban yang pas. Yah, andai hidup bisa di pause maupun di resume seperti download game yang wifinya lemot, pasti asik bukan?. Tapi apalah daya seorang manusia lemah seperti ku, hingga pertengahan tahun aku menjumpai banyak tragedi gila yang membuang sia-sia sisa umur di bumi. 
Orang-orang yang niat ngopi di pinggir telkom satu persatu hilang ditelan waktu. Para sopir roda tiga dan ojek masih bisa dihitung dengan jari tangan kanan. Indra penglihatku mengarah kepada petugas keamanan yang keluar masuk gedung. Mungkin karena melihat diriku yang duduk sendiri dan sering menolak ajakan para sopir pencari nafkah. Serasa lama angka di gadget tak kunjug ganti, orang yang ku tunggu masih antri kendaraan. Katanya sih, jam setengah sembilan malam sudah sampai lokasi, gak taunya malah hilang kabar. Lama sekali hingga terpaksa harus ngobrol sama petugas keamanannya.
“Mau kemana, Mbak?”.  
“Mau ke kota seberang. Ini masih nunggu jemputan”. 
“Jam berapa?”.
“Habis ini sampai, mungkin kurang 15 menitan, pak”.
Hal itu adalah pembohongan kepada petugas keamanaan setelah melakukan kebohongan kepada salah satu sopir roda tiga. Kira-kira jam setengah sebelas sudah sampai, sebab perjalanannya 30 menit dari rumah menuju lokasi. Padahal katanya kepada petugas hanya 15 menitan, tapi gak apalah. Petugas keamanan memang ditugaskan untuk menjaga agar aman, layak jika dirinya ditanya seperti itu. 
Detik-detik terakhir sebelum penjemputnya hadir, petugas tersebut menyuruh untuk naik bis sebab ia tahu pasti nih gerbang akan dikunci. Tapi biarlah, petugas keamanan dibayar untuk mengamankan bukan menutup gerbang. Telkom pada saat itu adalah tempat umum untuk para manusia, hewan, tumbuhan, dan mungkin ada makhluk lainnya yang tidak bisa dilihat. 
Didapati ia membalas kabar dengan rasa malas. Dirinya tahu betul itu orang, pasti sedang ada apa-apa. Sekian minggu tidak bertemu, akhirnya ketemu juga pada malam yang dingin. Realitanya ia datang dengan waktu tempuh satu jam setengah. Gilaaaa.... ini namanya nelat. Mata dan mulut si gadis ingin marah dihadapannya. Ingin sekali memaki-maki seperti yang biasa ia lakukan terhadapnya saat melakukan kesalahan. Ketika melihat punggungnya, sumpah demi dirinya sendiri, si gadis tak sanggup mengatakan sepatah kata pun malam itu. Mukanya dibuang saat si gadis berada di depan punggungnya. Kini rasa yang awalnya gembira dan jengkel sekarang ditambah takut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan Malam Akhir Pekan

Muak

Hilangnya Kesadaran yang Menyenangkan