Hujan Malam Akhir Pekan

Gambar
Photo: Dendysky, 2022 oleh Penulis Pagi ini muncul notifikasi dari laki-laki milik ibunya yang kucintai. Ehh, aku bingung soal cinta dan tak cukup pandai perihal tersebut. Ucapan permohonan maaf yang sering diulang setiap pagi dan esok paginya. Kadang aku, kadang juga laki-laki milik ibunya. Sayang, bolehkah aku memanggilmu seperti itu?. Rasanya pun canggung bila diucapkan dengan perasaan mendalam. Tapi, logatku yang biasanya slengek an alias peringisan membuat kata sayang tak segan-segan keluar. Notif, notifikasi itu kubiarkan menganga. Sebab masing-masing kita hancur dan sadar. Aku diam, kau pun tidur. Siang, kusimak linimasa milikmu, beberapa menit online. Aku diam. Itu berlaku sampai sore menjelang pulang kerja. Sore, aku yakin dengan sepenuh jiwa bahwa kau memberanikan diri untuk menghubungi lewat whats app. Lalu berakhir dengan kericuhan dan maaf untuk segala amarah, sayang.

Setan-setan Tanah; Konservasi Jadi Ekskursi


Malam sekitar pukul 23.46 dirinya melihat sebuah unggahan salah satu media sosial. Ungguhan tersebut adalah foto sebuah aktivitas di kampung sebelah. Pustaka kampung begitulah nama yang tertulis pada kain hitam bercat putih. Pustaka tersebut baru dibangun tiga minggu lalu oleh beberapa pemuda di sana. Gila, ternyata terdapat orang yang lebih antusias memajukan generasi daripada dirinya. Dengan senang hati dirinya misuh dan bergumam “Kenapa kalian duluan yang mendirikan ini?, sial.”
Esok harinya dibuka lapak di depan rumah orang berhalaman luas. Tak disangka antusias anak-anak balita hingga lansia tinggi. Meski mereka sekedar ngoceh ngalur ngidul atu bahkan gibah, terserah mereka aja. Bahkan, para manusia bermadzab radikal, feminis, anarkis, kapitalis, sosialis, hingga riligiositas berkumpul jadi satu. Gila yang kedua kalinya, momen inilah yang sanga dirindukan selama masa pandemi, sayang untuk ditinggalkan. 
Ahh sudahlah, itu hanya prolog untuk mengawali sambatku malam ini. Aku ingin bercerita tentang kota kelahiran yang sepertinya kali ini tak secantik tempo lalu. Rumahku sebelah ujung timur, lebih praktis ke kota tetangga daripada pusat kota ini sendiri. Dari depan terlihat sawah dengan bukit-bukit yang agaknya warna biru kehijauannya memudar. Di sanalah lokasi setan-setan tanah menanam saham. 
Banyak berdiri area wisata magak. Lahan yang harusnya jadi area konservasi disulap jadi ekskursi. Ini sebuah sirkus yang berlomba mempertontonkan keterampilan cara mengais pesugihan. Korban-korban berupa lahan dan warga sekitar.
Sebelah Tenggara rumahnya terdapat galian tambang C yang sekarang belum diuruk. Atau jangan-jangan memang tidak akan diuruk karena memakan biaya tambahan. Dasar manusia keparat. Bulan ini terdapat 3 korban anak-anak yang berenang di kubangan tambang. Seluruhnya tidak terselamatkan atau tewas. Macam seperti film pendek milik Mas Dendy Laksono yang berjudul sexy killers. 
Bukan hanya sebelah tenggara, Timur rumahnya juga terdapat aktivitas manusia agak bijak dalam memperlakukan alam. Di sana diajarkan cara menjernikan jenis air, kecuali air seni dan air liur. Salawat air hujan lebih tepatnya. Bisalah main-main ke sana.
Beberapa bulan lalu digegerkan kasus pembuangan limbah B3 yang tepat di sebelah utara. Lagi-lagi ada oknum di sana. Pemodal. Dan arah barat terdapat kasus kiai mesum. Ini malah… sumpah, inihal konyol di suatu kota yang katanya santri. Dasar biadab.
Agaknya dia malu mengakui ini kota santri. Hmm… Faktanya, dunia ini dikacau oleh manusia pengacau. Ada yang besar hati, ada juga yang foya-foya. Hidup makin berengsek jika menerima apa adanya. Lain kali coba aja seperti mereka!!! Ada yang berusaha memperbaiki, ada pula yang merusak. Ada yang miskin juga ada yang kaya. Yang penting jangan lupa doa dan sedekah. Agar hidup ini dimuliakan seluruhnya.

Komentar

Anonim mengatakan…
Kenapa kok berubah nama blognya?
Kok nggak kaos biru?
Kaosbiru mengatakan…
Karena lama kelamaan tulisan di dalamnya semakin kacau. Persis seperti kehidupan di dunia.

Postingan populer dari blog ini

Hujan Malam Akhir Pekan

Muak

Hilangnya Kesadaran yang Menyenangkan