
Buku bersampul kuning ini ku dapat ketika salah seorang manusia sedang duduk sambil tertawa di depan ruang dosen, sembari menunggu mahasiswa yang berada di dalam untuk disidang skripsinya. Mungkin juga karena umurnya telah melampaui batas alias sudah tua untuk usia mahasiswa strata satu. Buku yang diterjemahkan oleh Bakdi Soemanto selaku guru besar di universitas gajah mada ini mengkisahkan sebuah peternakan Manor. Peternakan yang di dalamnya terdapat berbagai macam jenis binatang adalah milik manusia pemabuk bernama Jones.
Didalam buku yang berjudul Animal Farm karya Goerge Orwel menceritakan tentang keberangasan manusia terhadap binatang. Bakdi menerjemahkan bahwa terdapat binatang babi yang pada saat itu menguasai peternakan di sana. Babi tersebut bernama Major, ia mendapat gelar sebagai babi yang dituakan dan patut untuk dihormati.
Dalam cerita dikisahkan bahwa pemilik peternakan Manor ini baru pulang ke rumah, lalu segera menyusul istrinya diranjang yang telah mengorok. Si pemilik peternakan lupa tidak menutup kandang ayam malam itu, akibatnya ayam dan bintangan lainnya ramai karena si Mayor ingin berwasiat. Seluruh warga peternakan Manor rela kehilangan satu jam waktu tidur untuk mendengarkan wasiat. Babi yang telah dituakan oleh usianya sendiri ini berpenampilan seperti priayi yang membaringkan diri di atas tumpukan jerami. Meski terlihat gemuk, babi Mayor masih terlihat gagah dengan penampilan bijak dan siap menolong sesama binatang.
Buku yang diterbikan oleg Bentang Pustaka dengan halaman berjumlah 174 menyuguhkan binatang yang menjadi tokoh utama. Apakah ini cerita fabel? Cerita yang menggambarkan watak manusia yang diperankan oleh sejumlah binatang. Terdapat tokoh bernama Boxer yang terlihat tolol karena garis belang putih terletak turun dari kepala ke hidung. Ia tidak termasuk binatang yang memiliki intelegensi tinggi, tapi ia dihormati dengan alasan kekuatan kerja yang luar biasa. Kemudian Banjamin, seekor keledai tua jarang ngomong dan tak pernah tertawa. Gilanya lagi, si keledai tua ketika ditanya mengapa tak pernah tertawa, ia memberikan jawaban bahwa tidak ada yang pantas ditertawakan. Wahh, filosofis.
Isi pidato Major pada halaman 5, “Kamerad, apa sih sifat kehidupan kita? Mari kita hadapi: hidup kita ini sengsara, penuh kerja keras, dan pendek. Kita lahir, kita diberi begitu banyak makanan sehingga menjaga napas dalam tubuh kita, dan di antara kita yang mampu dipaksa kerja dengan seluruh kekuatan kita sampai atom terakhir kekuatan kita. Sedang segera ketika kegunaan kita berakhir, kita disembelih dengan cara yang keji. Tak seekor binatang pun di Inggris tahu arti hidup bahagia atau waktu senggang sesudah ia berusia satu tahun. Tidak ada satu ekor binatang pun di Inggris ini yang bebas. Hidup seekor binatang super sengsara dan penuh perbudakan. Ini adalah kenyataan yang sebenar-benarnya.”
Pidato tak selesai di kalimat tersebut, banyak pidato provokatif Mayor yang diamini oleh warga peternakan major. Mayor yang menuntut kesetaraan pada seluruh warga peternakan dengan dalih “ Apapun yang berjalan dengan dua kaki tetaplah musuh. Apapun yang berjalan dengan empat kaki atau bersayap adalah teman.” Warga major telah memiliki lagu kebangsaan sendiri, bahkan ideologi telah terbentuk ketika usia melakukan pidato. Binatang terbodoh pun telah hafal lagunya dengan secepat mungkin.
Mayor yang seperti priayi itu meninggal dunia dan kepemimpinan dialihkan kepada babi yang beranama Snowball dan Napoleon. Bayangkan aja sebuah negara dipimpin oleh dua pemimpin, pasti muncul kubu-kubu didalamnya. Wah, apalagi masing-masing pemimpin memiliki ideologi berbeda. Wah, pemimpin yang biadab mereka, kasihan warganya dong. Napoleon pemimpin yang suka menuruti kemauan sendiri nan otoriter dan pernah menjebak si Snowbel yang inovatif.
Pernah terjadi penyerangan di peternakan Manor antara binatang dan manusia. Akibat penyerangan tersebut, binatangisme membangun sebuah benteng besar yang dapat menyelamatkan peradaban.
Dalam pembuatan benteng terjadi pro-kontra. Jelas saja, dua pemimpin yang berbeda. Buku ini mengisahkan kemenangan si Napoleon dengan segala tipu muslihatnya. Nyatanya, kecurangan dimenangkan, beringas diunggulkan, bunuh membunuh tanpa disengaja tapi direncanakan. Ahh, sialan buku ini, kisah pilu soal manusia dan hewan. Ditambah lagi tokoh bernama Pak Plingkiton yang sama-sama memiliki kartu as dengan Napoleon.
Kalimat penutup di dalam buku ini begitu indah, yakni “Makhluk-makhluk di luar memandang dari babi ke manusia, dan dari manusia ke babi lagi; tetapi mustahil mengatakan mana yang satu dan mana yang lainnya.” Halaman 172. Atau sama artinya dengan manusia serupa binatang atau binatang berupa manusia.
Komentar