Dikutip dari penulis besar Pramodya ananta Toer bahwa menulis untuk keabadian ini masih diragukan. Keabadian siapa yang dimaksud? Keabadian tulisan? Keabadian si penulis? Atau penulis abadi dalam tulisan? Sebelum anda menghujat tulisan di sini, pastikan anda mengenal tokoh yang dituliskan, termasuk Pram dan Hok Gie. Tokoh yang benar-benar gila pada masanya. Kembali kepada judul, ahh.. itu bukan judul sebenarnya hanya kalimat pemanis untuk tulisan yang hambar rasa.
Ini hari bumi bukan? Katanya sih begitu. Hampir seluruh akun media sosial isinya ucapan selamat pada bumi. Bumi ini tidak baik-baik saja karena ulah manusia. Pikirku bukan ucapan selamat seharusnya, tapi RIP. Bumi, bumi kenapa kau diciptakan untuk dihancurkan? Ehh, bukankah memang di sini tercipta untuk dihancurkan? Seperti tulisan Pram. Menulis untuk dihancurkan, sialan. Semoga lekas sembuh manusia serakah, perkosa rimba sekaligus penguasa seperti dewa.
Bukankah sekarang era digital, teknologi semakin maju bukan? Andai manusia dapat menciptakan cara menanam pohon lewat media sosial. Jadi begini… Bumi tak lagi menjadi media utama pertumbuhan tanaman. Seperti tanah dan air, kita tidak membutuhkan. Hidupnya di akun-akun peretas, akun pecundang, akun ku sendiri. cara merawat dengan membeli kuota, gitu. Setiap up date status atau netijen bersuara menambah nyawa tanaman. Biar netijen ada faedah dan kaum hoax menerima berkah.
Sayang, itu hanya harapan. Dan aku tau, harapan itu lebih keparat dari pada takdir. Bumiku hancur, sehancur kemanusiaan. Dapatkah menanam menjadi obat bagi bumi? Yah, selain mengurangi polusi dan membuang eco brick menaman adalah salah satu penyembuh.
Jika anda penulis, jika anda aktifis, jika anda manusia cobalah menanam. Jangan kau buat genarisiku mendelik karena lihat kemaluan alam. Bukankah kita nanti akan menjadi nenek moyang? Jadilah nenek moyang atau kakek moyang yang baik. Mampukah?
Cukup untuk menggembor-gemborkan kemanusiaan, penghijauan, keadilan. Coba turun lapangan dan jangan wacanakan. Anda masih waras, bukan?
Komentar