Hujan Malam Akhir Pekan

Gambar
Photo: Dendysky, 2022 oleh Penulis Pagi ini muncul notifikasi dari laki-laki milik ibunya yang kucintai. Ehh, aku bingung soal cinta dan tak cukup pandai perihal tersebut. Ucapan permohonan maaf yang sering diulang setiap pagi dan esok paginya. Kadang aku, kadang juga laki-laki milik ibunya. Sayang, bolehkah aku memanggilmu seperti itu?. Rasanya pun canggung bila diucapkan dengan perasaan mendalam. Tapi, logatku yang biasanya slengek an alias peringisan membuat kata sayang tak segan-segan keluar. Notif, notifikasi itu kubiarkan menganga. Sebab masing-masing kita hancur dan sadar. Aku diam, kau pun tidur. Siang, kusimak linimasa milikmu, beberapa menit online. Aku diam. Itu berlaku sampai sore menjelang pulang kerja. Sore, aku yakin dengan sepenuh jiwa bahwa kau memberanikan diri untuk menghubungi lewat whats app. Lalu berakhir dengan kericuhan dan maaf untuk segala amarah, sayang.

Tanam tulisan untuk keabadian, tanam pohon raih kewarasan


Dikutip dari penulis besar Pramodya ananta Toer bahwa menulis untuk keabadian ini masih diragukan. Keabadian siapa yang dimaksud? Keabadian tulisan? Keabadian si penulis? Atau penulis abadi dalam tulisan? Sebelum anda menghujat tulisan di sini, pastikan anda mengenal tokoh yang dituliskan, termasuk Pram dan Hok Gie. Tokoh yang benar-benar gila pada masanya. Kembali kepada judul, ahh.. itu bukan judul sebenarnya hanya kalimat pemanis untuk tulisan yang hambar rasa. 
Ini hari bumi bukan? Katanya sih begitu. Hampir seluruh akun media sosial isinya ucapan selamat pada bumi. Bumi ini tidak baik-baik saja karena ulah manusia. Pikirku bukan ucapan selamat seharusnya, tapi RIP. Bumi, bumi kenapa kau diciptakan untuk dihancurkan? Ehh, bukankah memang di sini tercipta untuk dihancurkan? Seperti tulisan Pram. Menulis untuk dihancurkan, sialan. Semoga lekas sembuh manusia serakah, perkosa rimba sekaligus penguasa seperti dewa.  
Bukankah sekarang era digital, teknologi semakin maju bukan? Andai manusia dapat menciptakan cara menanam pohon lewat media sosial. Jadi begini… Bumi tak lagi menjadi media utama pertumbuhan tanaman. Seperti tanah dan air, kita tidak membutuhkan. Hidupnya di akun-akun peretas, akun pecundang, akun ku sendiri. cara merawat dengan membeli kuota, gitu. Setiap up date status atau netijen bersuara menambah nyawa tanaman. Biar netijen ada faedah dan kaum hoax menerima berkah.
Sayang, itu hanya harapan. Dan aku tau, harapan itu lebih keparat dari pada takdir. Bumiku hancur, sehancur kemanusiaan. Dapatkah menanam menjadi obat bagi bumi? Yah, selain mengurangi polusi dan membuang eco brick menaman adalah salah satu penyembuh.
Jika anda penulis, jika anda aktifis, jika anda manusia cobalah menanam. Jangan kau buat genarisiku mendelik karena lihat kemaluan alam. Bukankah kita nanti akan menjadi nenek moyang? Jadilah nenek moyang atau kakek moyang yang baik. Mampukah?
Cukup untuk menggembor-gemborkan kemanusiaan, penghijauan, keadilan. Coba turun lapangan dan jangan wacanakan. Anda masih waras, bukan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan Malam Akhir Pekan

Muak

Hilangnya Kesadaran yang Menyenangkan