Hujan Malam Akhir Pekan

Gambar
Photo: Dendysky, 2022 oleh Penulis Pagi ini muncul notifikasi dari laki-laki milik ibunya yang kucintai. Ehh, aku bingung soal cinta dan tak cukup pandai perihal tersebut. Ucapan permohonan maaf yang sering diulang setiap pagi dan esok paginya. Kadang aku, kadang juga laki-laki milik ibunya. Sayang, bolehkah aku memanggilmu seperti itu?. Rasanya pun canggung bila diucapkan dengan perasaan mendalam. Tapi, logatku yang biasanya slengek an alias peringisan membuat kata sayang tak segan-segan keluar. Notif, notifikasi itu kubiarkan menganga. Sebab masing-masing kita hancur dan sadar. Aku diam, kau pun tidur. Siang, kusimak linimasa milikmu, beberapa menit online. Aku diam. Itu berlaku sampai sore menjelang pulang kerja. Sore, aku yakin dengan sepenuh jiwa bahwa kau memberanikan diri untuk menghubungi lewat whats app. Lalu berakhir dengan kericuhan dan maaf untuk segala amarah, sayang.

Rumah juga penjara suci


Apa kabar jalanan? Apa kabar bukit, gedung, pantai, dan debu di cendela kaca ruang toska ? aku rindu. Semoga hal baik menyertai kita semua.
Hampir sebulan berada di atap gubuk milik bapak, insyaallah. Rasanya ingin kembali lari pagi hingga otot kaki memaksa keluar menembus kulit. Ahh, itu mustahil. Pandemi ini harus diselesaikan secepatnya. Jika tak mampu, ya sudah lah pasrah aja sama yang buat takdir.
Pulangku disambut dengan seorang gadis cilik umur 6 tahunan dengan ketawa. Balasku seperti itu. Lagi-lagi bertopeng, padahal pulangku ini bukan atas keinginan sendiri. Tetapi terdapat banyak nabi di sini yang menjelma jadi manusia di rumah. Tak sanggup menolaknya lagi, aku pun pulang.
Gubuk kecil di pojok kerumunan rumah-rumah itu sungguh menyimpan kisah pelik. Di mana cadangan topengku sebanyak isi langit. Ehh, topeng. Satu peristiwa memakai topeng, ganti peristiwa yah ganti topeng lagilah. Itu tuntutan, kewajiban. Dan diriku payah waktu itu. Semua harus seperti yang mereka ucap. Seperti tak diberi hak suara, hak tidur, hak makan, bahkan hak berpakaian. Sialan benar-benar sialan. Itu pujian yang cocok bagi mereka semua.
Manusia diperlakukan seperti peliharaan. Diberi layanan agar kembali ke pangkuan. Dibungkam agar tidak berkicau soal kemanusiaan. Payah, aku benar-benar payah. Kembaliku bersua rindu.
Ahh… mereka semua itu makhluk sejenisku. Tapi akhlaknya lebih buas dari kupu-kupu. Ini jalan paling benar diantara yang benar, ungkapnya waktu itu. lagi lagi aku payah, aku memilih dengan terpaksa. Sebab aku masih pincang sebelah.
Beberapa bulan lalu aku mendapat penghargaan dari diriku sendiri. sebab telah membakar habis sisa topeng dan berjalan pun bisa seimbang, beda dengan tahun lalu. 
Aku keluar dari penjara, meski sekedar mampir ke ruang toska. Ruang itu telah membius dengan minuman pemabuk yang sering disuguhkan oleh orang-orangnya. Pernah menyemprot muka seperti membersihkan kopi bekas diskusi semalam. Rumah toska, ahh aku rindu debumu dan seluruh partikel di dalamnya.
Sayang, pandemi kali ini mengembalikan ku ke penjara suci. Penjara yang aku sendiri baru sadar bahwa aku perlu berproses kembali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan Malam Akhir Pekan

Muak

Hilangnya Kesadaran yang Menyenangkan