Hujan Malam Akhir Pekan

Gambar
Photo: Dendysky, 2022 oleh Penulis Pagi ini muncul notifikasi dari laki-laki milik ibunya yang kucintai. Ehh, aku bingung soal cinta dan tak cukup pandai perihal tersebut. Ucapan permohonan maaf yang sering diulang setiap pagi dan esok paginya. Kadang aku, kadang juga laki-laki milik ibunya. Sayang, bolehkah aku memanggilmu seperti itu?. Rasanya pun canggung bila diucapkan dengan perasaan mendalam. Tapi, logatku yang biasanya slengek an alias peringisan membuat kata sayang tak segan-segan keluar. Notif, notifikasi itu kubiarkan menganga. Sebab masing-masing kita hancur dan sadar. Aku diam, kau pun tidur. Siang, kusimak linimasa milikmu, beberapa menit online. Aku diam. Itu berlaku sampai sore menjelang pulang kerja. Sore, aku yakin dengan sepenuh jiwa bahwa kau memberanikan diri untuk menghubungi lewat whats app. Lalu berakhir dengan kericuhan dan maaf untuk segala amarah, sayang.

Jinggo dan sedikit kisahnya

Dulu, aku menyebutnya hewan ini laba-laba jinggo. Kata rekan-rekanku, laba-laba jinggo bisa memakan manusia, ia bisa tumbuh besar seperti monster yang ada di film-film. Hewan ini tidak boleh di bunuh atau pembunuh akan terserang oleh racun yang ada di jarinya itu. Entah, dia memiliki racun atau tidak? Aku hanya mendapat informasi minimal. Anehnya, diriku langsung percaya. Ahh, itu tahayul. Hingga sekarang aku belum menemui laba-laba sebesar manusia. Jikalau ada, pasti sudah masuk kebun binatang atau satwa yang dilindungi.
Iya, ketika itu aku belum tumbuh sebodoh kini. Aku waras dan sehat lahir batin. Jauh dari saat ini, hidup serba gila, goblok, tolol, sering tidak merdeka. Aku masih merindukan masa-masa di mana aku tunduk pada apa dan siapa pun, tanpa ada pertimbangan dan pemberontakan. Dulu semua benar; tak usah diragukan. 
Seharusnya seperti itu, ragu hanya membuat orang tergila-gila. Kritis hanya buat makhluk mikir berkali-kali. Ahh, meski dulu sarapan nasi dan garam akal tetap sehat. Ada kemungkinan tololku ini karena terlalu banyak memakan nasi-nya orang. 
Ahh, itu manusiawi. Sejak kecil aku juga diajarkan makan se-piring dengan saudaraku yang lain. Hingga sakarang, tapi sekarang se-kertas minyak dengan manusia atau makhluk lain. Yah, sekertas minyak sebab hidup harus nyampah. Kalau gak nyampah gengsi. Sialan.
Kembali ke laba-laba jinggo. Laba-laba ini memiliki punggung yang cantik dan kaki yang kurus. Sayang, aku tak bisa melihat jelas wajahnya, pasti menawan. Semoga….
Tuhan sering berkreasi untuk makhluknya. Atau bahkan untuk Tuhan sendiri. Bagi teman-temanku yang tidak bisa membuang umur di dunia, berbanggalah. Karena dunia tidak sepanjang umurmu dan seluas hatimu. Manusia, jangan pernah lupa bahwa mati lebih menyenagkan dari pada bernafas.
Atau lebih baik hidup tak bernyawa dari pada mati tak berarti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan Malam Akhir Pekan

Muak

Hilangnya Kesadaran yang Menyenangkan