Hujan Malam Akhir Pekan

Gambar
Photo: Dendysky, 2022 oleh Penulis Pagi ini muncul notifikasi dari laki-laki milik ibunya yang kucintai. Ehh, aku bingung soal cinta dan tak cukup pandai perihal tersebut. Ucapan permohonan maaf yang sering diulang setiap pagi dan esok paginya. Kadang aku, kadang juga laki-laki milik ibunya. Sayang, bolehkah aku memanggilmu seperti itu?. Rasanya pun canggung bila diucapkan dengan perasaan mendalam. Tapi, logatku yang biasanya slengek an alias peringisan membuat kata sayang tak segan-segan keluar. Notif, notifikasi itu kubiarkan menganga. Sebab masing-masing kita hancur dan sadar. Aku diam, kau pun tidur. Siang, kusimak linimasa milikmu, beberapa menit online. Aku diam. Itu berlaku sampai sore menjelang pulang kerja. Sore, aku yakin dengan sepenuh jiwa bahwa kau memberanikan diri untuk menghubungi lewat whats app. Lalu berakhir dengan kericuhan dan maaf untuk segala amarah, sayang.

Jawa dan Feodal-nya

Sampul buku Gadis Pantai

Sampul buku Gadis Pantai

Terima kasih diucapkan untuk rekan-rekan si penulis yang mulia hatinya. Semoga di era kegilaan manusia ini kalian tetap waras dengan aktivitas yang kalian pilih. Buku ini diberikan oleh beberapa penghuni istana suram yang menyenangkan ketika hari jadi seorang manusia sialan. Penulis meminta maaf sedikit-dikitnya atas penyalahgunaan buku, karena racun dari buku ini menyerang beberapa manusia yang hidup di bumi.
Buku yang diberi oleh beberapa penghuni istana ini diterbitkan oleh Lentera Dipantara pada cetakan ke-7 ini menceritakan tentang seorang gadis yang tunduk pada budaya jawa. Novel dari penulis besar Pramodya Ananta Toer ini adalah sebuah trilogi dengan seri pertama berjudul Gadis Pantai. Pada seri kedua dan ketiga belum bisa ditemukan hingga sekarang. Hal tersebut disebabkan karena pada masa itu terjadi pergulatan politik di Indonesia pada zaman orde baru. Akibatnya, seri selanjutnya menghilang atau bahkan dihilangkan pada masa itu.
Buku berjumlah 270 halaman ini memuat cerita seorang tokoh yang diberi nama Gadis Pantai atau Mas Nganten (Sebutan orang jawa untuk istri pejabat tinggi pada masa kolonial). Sebelum julukan tersebut diberikan kepada Gadis Pantai, Gadis Pantai adalah sosok wanita yang selalu mengamini pernyataan dari orang yang lebih tua. Pada buku tersebut diceritakan bahwa ia tinggal di desa nelayan yang jauh dari pusat pemerintahan. Kegiatan sehari-hari adalah menyiapkan jala untuk bapak dan membantu sang ibu di dapur. Kedua kakaknya telah mati termakan ombak pada saat mencari ikan, kini tinggal Gadis Pantai dan kedua orang tuanya. Mereka hidup dari hasil mencari ikan dan termasuk keluarga yang perekonomiannya masuk ke dalam jenis menengah ke bawah. 
Pada saat itu, orang tua Gadis Pantai didatangi oleh asisten Bendoro, ia meminta agar putrinya menikah dengan Bendoro. Bendoro adalah istilah orang jawa untuk pejabat atau pemimpin. Di buku ini tidak dijelaskan secara gamblang terkait bendoro itu sendiri. Akan tetapi, buku ini mengatakan bahwa Bendoro adalah seorang pejabat daerah kaya raya dan bekerja untuk Belanda. 
Gadis Pantai terkejut setelah mengetahui lamaran yang dibawa oleh asisten Bendoro. Ia gadis 14 tahun yang masih membutuhkan ibunya. Gadis Pantai menolak lamaran dengan alasan tidak siap meninggalkan kedua orang tuanya. Akan tetapi kedua orang tua dan warga di lingkungan sekitar meyakinkan Gadis Pantai bahwa semua akan baik-baik saja. Kedua orang tua serta warga sekitar beranggapan bahwa suatu kehormatan apabila di desanya terdapat gadis yang diinginkan oleh Bendoro. Sekeras apa pun Gadis Pantai menangis, ibu dan bapaknya tetap memahamkan bahwa menjadi istri bendoro lebih baik dari pada menjadi anak seorang nelayan.
Semua orang berpikir bahwa gadis mana pun yang menjadi istri Bendoro hidup atau derajatnya di tatanan sosial semakin baik. Akan tetapi, sebelumnya Gadis Pantai tidak mengenal siapa atau apa Bendoro itu. Ia harus bagaimana menjadi istri seorang pimpinan. Bendoro tidak hanya terkenal dengan kekayaannya, namun bendoro juga terkenal dengan religiusnya.
Warga desa telah disibukkan oleh perkawinan antara gadis pantai dengan bendoro. Hingga waktunya tiba, rombongan dari kota pun datang, termasuk asisten yang pernah datang waktu itu. Bisa disebut rombongan dari kota bukanlah rombongan, akan tetapi hanya asisten dan beberapa rekannya. Sampai pada perkawinan pun, gadis pantai masih belum mengerti siapa kelak yang akan menjadi suaminya. Calon suami tidak bisa datang, hanya sebuah keris milik bendoro yang mewakili perkawinan tersebut. Para asisten menjelaskan bahwa Bendoro bertugas di luar kota. Seluruh warga termasuk kedua orang tua Gadis Pantai pun memaklumi hal itu.
Di kediaman bendoro pun tak ada yang menyambut kecuali asisten dan wanita tua pengurus rumah. Hanya kedua orang tua dan Gadis Pantai yang bisa masuk ruang tamu bendoro. Sepertinya telah menjadi tradisi bahwa orang kampung atau orang yang tidak sepadan tidak bisa memasuki kawasan rumah Bendoro. 
Ada pun kejadian setelah Bendoro memanggil kedua orang tua di ruangan lain adalah, ketika Bendoro menanyakan terkait kebalighan Gadis Pantai. Gadis Pantai adalah gadis yang masih berumur 14 tahun ketika itu, ia belum mengalami pubertas. Kedua orang tuanya mengatakan bahwa gadis pantai sudah pernah mengalami haid sebelumnya. Mereka berdua mengatakan hal itu karena jika Bendoro mengetahui bahwa Gadis Pantai belum haid, pernikahan ini gagal dan kedua orang tuanya menanggung malu kepada seluruh warga desa. Gadis yang sangat hormat kepada orang tua itu tak sadar bahwa ia juga korban dari keberangasan mereka yang dikagumi.
Hidup di rumah bendoro, ia hanya mengenal pembantu tua yang dijadikan ibu. Mas nganten, Gadis Pantai telah menyandang identitas seorang Mas Nganten. Tinggal dengan seorang Bendoro yang sering ditinggalkan karena kesibukannya, Mas Nganten pun kesepian. Ia tidak boleh mengobrol terlalu lama dengan pembantu, penjaga, bahkan keluar rumah atau sekedar berbicara dengan lainnya seperti di desa nelayan tempo lalu. Jika hal tersebut dilakukan oleh Mas Nganten sama seperti Mas Nganten menjatuhkan derajatnya sendiri, termasuk Bendoro juga menanggung malu akan hal itu. 
Di dalam rumah bendoro, ia dididik belajar agama dan harus melaksanakan salat dan ngaji. Mas nganten kaget, karena ia besar dilingkungan abangan. Ia sendiri tidak bisa menghindari hal tersebut, karena ia percaya bahwa seorang istri harus taat kepada suami.
Tak hanya itu, berada di rumah Bendoro serasa berada di dunia lain. Suaminya tidak pernah menemani, bahkan tidur pun Mas Nganten sendiri. Ditambah ketiga Agus (Sebutan untuk anak laki-laki bendoro) yang tidak menyukai keberadaan Mas Nganten. Para Agus tersebut menganggap bahwa dirinya lebih berkuasa dari pada Mas Nganten. Perilaku sewenang-wenang dan sering mengatakan bahwa Mas Nganten adalah gadis desa yang ditolong oleh ayah. 
Hingga Mas Nganten pun berada pada klimaks kebosanan tersebut. Ia menceritakan semua keluh dan kesahnya  kepada pembantu tua, pembantu tua pun menanggapi keluh tersebut. Pernyataan pembantu tua selalu meninggalkan pertanyaan di kepala Mas Nganten, termasuk budaya dan kebiasaan Bendoro.
Suatu kejadian ketika uang dari Bendoro untuk istrinya diambil oleh salah satu Agus. Mas nganten menceritakan hal tersebut kepada pembantu tua, ia tidak berani berbicara langsung kepada Bendoro. Hingga akhirnya pembantu tua lah yang mengatakan hal terebut. Mas Nganten dan pembantu tua yakin, bahwa jika kebiasaan Agus dibiarkan akan menjadi perilaku buruk. Padahal pembantu tua mengerti ganjaran ketika ia berbicara dengan Bendoro terkait hal tersebut.
Setelah pembantu tersebut bercerita kepada majikan, pembantu itu berkemas dan meninggalkan rumah majikan. Hal tersebut dikarenakan pembantu dianggap menuduh atau memfitnah Agus. Padahal, Agus sendiri telah mengaku di depan bendoro dan lainnya bahwa ia mencuri uang Mas Nganten. 
Lagi-lagi cara hidup yang merugikan kaum kecil. Dikisahkan jelas bahwa pernyataan pembantu yang tidak memiliki kekuasaan apa pun itu benar, dan tidak ada perintah untuk meninggalkan atau tetap berada di rumah. Tanpa diingatkan pun, pembantu tua mengerti tentang ganjaran yang didapat, ia harus meninggalkan rumah Bendoro. Kebiasaan itu melekat, kebiasaan bahwa kaum kecil yang mengungkap kejahatan atau aib dari priayi sama saja berkhianat.
Mas Nganten adalah seorang istri di perkawinan yang tidak sah menurut hukum. Bendoro dapat dikatakan memiliki istri ketika menikah dengan wanita yang sepadan dan memiliki status sosial sederajat. Namun yang terjadi adalah Bendoro menikah sebanyak tiga kali dengan wanita desa. Kebiasaan tersebut adalah kebiasaan kaum priyayi, sedangkan orang desa seperti masyarakat nelayan tidak mengerti dengan kebiasaan itu. Di takutkan jika masyarakat desa mengetahui hal ini maka tidak ada lagi orang tua yang memperbolehkan anaknya menikah dengan kaum priyai. 
Dalam hal lain adalah ketika Mas Nganten melahirkan seorang bayi perempuan. Bendoro selaku ayah dari bayi tersebut tidak ingin melihat bahkan menyentuhnya. Perempuan diyakini tidak menguntungkan dan hanya bisa mempermalukan keluarga. Seperti yang dialami Mas Nganten setelah melahirkan, ia diusir secara tidak terhormat. Ia tidak diakui sebagai istri dari Bendoro dan status keibuannya tidak berlaku. 
Mas nganten yang selalu bersikap hormat dan patuh kepada bendoro, kini memberontak setelah bayi yang belum dinamai tersebut diambil paksa oleh para pembantu rumah. Mas Nganten diusir pergi dan tidak boleh kembali di kawasan rumah bendoro, apalagi mengakui bahwa ia pernah menjadi istri seorang bendoro. 
Ayah mas nganten pun datang menjemput, mereka pergi meninggalkan kawasan dan menuju ke desa nelayan. Akan tetapi, setelah sampai di perbatasan kota, Mas Nganten meninggalkan sang ayah. Ia ingin menemui pembantu tua yang waktu itu meninggalkan rumah, yakni ke Blora.
Akhir dari buku menceritakan tentang gadis pantai yang melawan kesewenangan Bendoro, akan tetapi perlawanan tersebut gagal karena ia tidak memiliki status atau alat penguasa lainnya. Gadis Pantai meyakini bahwa satu-satunya orang yang dapat dipercaya adalah pembantu tua dengan semua teka-tekinya.
Si gadis pantai yang malang, ia buta terkait perkawinan. Bahkan calon suaminya pun tak di kenal. Ia hanya pasrah pada suatu kenyataan, bahwa ia tak bisa memilih takdirnya sendiri dan tunduk pada kebudayaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan Malam Akhir Pekan

Muak

Hilangnya Kesadaran yang Menyenangkan