Hujan Malam Akhir Pekan

Gambar
Photo: Dendysky, 2022 oleh Penulis Pagi ini muncul notifikasi dari laki-laki milik ibunya yang kucintai. Ehh, aku bingung soal cinta dan tak cukup pandai perihal tersebut. Ucapan permohonan maaf yang sering diulang setiap pagi dan esok paginya. Kadang aku, kadang juga laki-laki milik ibunya. Sayang, bolehkah aku memanggilmu seperti itu?. Rasanya pun canggung bila diucapkan dengan perasaan mendalam. Tapi, logatku yang biasanya slengek an alias peringisan membuat kata sayang tak segan-segan keluar. Notif, notifikasi itu kubiarkan menganga. Sebab masing-masing kita hancur dan sadar. Aku diam, kau pun tidur. Siang, kusimak linimasa milikmu, beberapa menit online. Aku diam. Itu berlaku sampai sore menjelang pulang kerja. Sore, aku yakin dengan sepenuh jiwa bahwa kau memberanikan diri untuk menghubungi lewat whats app. Lalu berakhir dengan kericuhan dan maaf untuk segala amarah, sayang.

Hujan atau Tuhan


Hujan yang lalu aku hanyut dalam belaian kasih sayang
Ketika itu dirinya mengirim pertanda bahwa ini nyata
Tak terhingga, suara itu terdengar hingga ujung raga
Menerpa ke dunia hingga pucuk samudera
Tuhanku, kau maha baik hati
Mau kah kau mengantarku kepada dirinya yang asli
Aku melihat kepalsuan disetiap maha
Tuhan, hanya zatmu yang ku percaya
Hujan tadi sore membawaku kembali pulang
Pulang bersama nestapa dan desahan luka
Ketika itu aku menjauh hingga relung jiwa tak lagi merasakan suara
Pulang dengan sedikit tertunduk malu
Kini hujan telah padam
Hujan membawaku kepadamu dan kembali pulang
Apakah ini terhambat? Tersekat? Tersesat? Atau mendekat?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan Malam Akhir Pekan

Muak

Hilangnya Kesadaran yang Menyenangkan