Perlu Diketahui Bahwa Tulisan Ini Bertema
Kejahatan Intelektual Yang Akan Disambung Dilain Kesempatan. Semoga...
Di suatu hari terdapat tempat karantina untuk orang-orang bodoh seperti
kebanyakan manusia. Di tempat itulah hidup beberapa manusia dengan berbagai
jenis dan ukurannya. Salah satunya adalah Bocil. Bocil adalah merek manusia
berukuran kecil. Entah kecil pemikirannya maupun hatinya. Manusia merek Bocil
ini adalah manusia terbodoh se-dunia. Ia masuk karantina hampir dua tahun. Akan
tetapi, masuknya Bocil ke dalam karantina bukan karena kebodohan, melainkan disebabkan
karena salah satu kawan tidurnya mengatakan bahwa terdapat tempat karantina di
sebelah musala. Padahal karantina dekat dengan musala, kenapa yang diberdayakan
tidak cerdas-cerdas? Pikir Bocil pada saat itu.
Kemudian ia berniat masuk ke dalam karantina tersebut dengan percaya diri
bahwa dia akan menjadi cerdas seperti sedia kala (Sebelum keluar dari rahim
ibu). Ternyata, karantina itu tidak jauh dari pemukiman yang di tempati, akan
tetapi karantina itu mendadak terasa jauh saat lewat jalur utama. Kenapa bisa
dinamakan jalur utama jika menggapai tujuannya terlampau semakin jauh. Benar
gila yang menamakan jalur tersebut adalah jalur utama masuk karantina.
Untungnya, manusia bermerek Bocil memiliki kesabaran yang lebih untuk menjalankan
kaki menuju tempat tersebut.
Di karantina ia menemui berbagai jenis manusia. Terdapat manusia bodoh
dengan kualitas dan kuantitas yang bermacam-macam. Terdapat pula jenis
kebodohan yang dimiliki oleh tokoh-tokoh yang menghuni karantina, yaitu
kebodohan perilaku dan kebodohan bersikap. Bocil menganggap bahwa kebodohan
perilaku adalah suatu sikap yang dimunculkan ketika mansuia tersebut mendapat
rangsangan dari lingkungan. Sedangkan kebodohan bersikap adalah kebodohan yang
murni dimiliki oleh manusia tersebut. Salah satunya adalah manusia berhidung
mancung ke depan dan mancung ke dalam. Bocil membenci manusia berjenis tersebut.
Masuk ke dalam karantina, Bocil merasa bodoh selayaknya manusia yang
dilahirkan ke dunia. semakin lama, Bocil merasa bodoh se-karantina. Dan semakin
lama lagi, Si Bocil telah merasakan bahwa ia bodoh se-dunia. Entah kebodohan
tersebut sudah menuju kebodohan tingkat akhirat atau masih manjing di depan
jalur neraka.
Manusia berhidung mancung ke depan dan mancung ke dalam adalah salah satu jenis
manusia yang menyebalkan. Mereka berdua selalu di-tuhankan oleh jenis manusia
lain. Padahal manusia yang hidup di karantina adalah sebodoh-bodohnya manusia.
Bisa-bisanya mereka menuhankan sesama manusia bodoh? Pikir Bocil pada saat itu.
Komentar