Pemilik buku yang mengagumi sosok penggarap
skripsi berjudul “Di Bawah Lentera Merah” ini memperjuangkan sebagian hidupnya
untuk datang di sebuah acara receh. Kerecehan itulah yang mengubah kewarasan menjadi gila. Akan tetapi, kegilaan itu tidak murni datang dari pemilik buku,
melainkan disebabkan oleh: sebut saja manusia pemilik otoritas kurang tinggi,
Penindas Umat, bahkan bisa dibilang Pimpinan Umum pada sebuah lembaga. Bodohnya,
pemilik buku luluh dengan wajah polos yang dimiliki oleh manusia tersebut.
Akhirnya, yang memiliki otoritas kurang tinggi itu menyalahgunakan wewenang
terhadap staf dan atau bahkan masyarakat kurang cerdas yang ada pada sebuah
kampus agak beradab.
Pemilik buku mengucapkan sedikit terima kasih kepada
teman atau musuh yang berperan aktif maupun pasif dalam sistem pemerintahan
pimpinan umum pada waktu itu, sebab telah mengajarkan banyak hal kepadanya.
Saya selaku wakil darinya mengucapkan sial yang benar-benar sial untuk pemilik
buku karena menghadapi cobaan sedemikian rupa. Hanya saya dan pemilik buku yang paham atas penyesalan dan kegilaannya. Salam.
Orang-orang Di Persimpangan Kiri Jalan, Sekali
Lagi, Di Bawah Lentera Merah dan Zaman Peralihan adalah judul buku dari
almarhum Soe Hok Gie. Pemuda berlatar belakang etnis Tionghoa ini lahir pada 17
Desember 1942 dan gugur pada 16 Desember 1969. Gie yang tidak memiliki nafsu
untuk mengubah namanya adalah seorang aktivis 1966 atau yang akrab disebut
angkatan 66. Hok Gie adalah manusia yang pernah didewakan karena tulisannya,
salah satunya adalah pemilik buku zaman peralihan ini.
Buku zaman peralihan berisi tentang catatan
Gie yang masuk ke surat kabar seperti Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan,
Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Buku ini bercerita terkait
permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia sekitar tahun 1962 hingga 1969.
Tulisan Gie yang kritis dan klimis telah mencerminkan rasa kemanusiaan dan
cinta terhadap tanah air. Terdapat empat bagian kisah dari buku zaman peralihan
ini.
Bagian pertama adalah masalah kebangsaan. Bagian ini mengisahkan cara kerja elit politik, aparat, dosen,
dan bahkan mahasiswanya sekaligus. Mahasiswa dan kaum intelektual lainnya tidak
dapat menjamin suasana menjadi lebih baik. Dosen mulai ikut andil dalam memperkaya
dan bersikap rakus terhadap materi. Penawaran kursi-kursi politik dilakukan
oleh pemerintah terhadap mahasiswa. Bahkan angkatan
darat pun memanfaatkan universitas sebagai wadah untuk mencari muka dengan
dalih “Pengetahuan tempur terus
diimbangi dengan wawasan kemasyarakatan yang mendalam pula” (hal 66). Kemudian
muncul batasan pada pers. Pers dikendalikan oleh pemerintah.
Permasalahan mahasiswa menjadi nomor
dua di buku zaman peralihan ini. Mahasiswa merasa dirobotkan. Dosen-dosen yang
suka bolos dan datang telat menjadi hal biasa. Bahkan Hok Gie mendapati dosen
yang bodoh. Kemudian ormek-ormek melakukan pengaderan
terhadap mahasiswa
baru. Buku anti-soekarno pun dilarang, bahkan film yang tidak mendukung sistem
pemerintahan tidak boleh ditayangkan. Keparat sekali zaman itu.
Masalah kemanusiaan pun dikritik
oleh manusia yang didewakan oleh pemilik
buku ini. Pembantaian, penyembelihan di pulau Bali dilaksanakan dengan sangat
cantik. Bukti-bukti dihilangkan. Ahh, semoga tidak terjadi kembali hal-hal
menjijikkan seperti itu.
Di akhir buku, Hok Gie menceritakan
perjalanannya ke Amerika dan
Australia. Di sana ia dikenalkan oleh berbagai media cetak. Beberapa
pengalaman kosmopolitan
membekas sampai ke Indonesia.
“Saya mimpi tentang sebuah dunia, di
mana para ulama-buruh dan pemuda bangkit dan berkata: stop semua kemunafikan,
stop semua pembunuhan atas nama apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian,
dan hanya sibuk dengan pembangunan
dunia, yang lebih baik…”
Gie: dalam puisinya.
Komentar