Hujan Malam Akhir Pekan

Gambar
Photo: Dendysky, 2022 oleh Penulis Pagi ini muncul notifikasi dari laki-laki milik ibunya yang kucintai. Ehh, aku bingung soal cinta dan tak cukup pandai perihal tersebut. Ucapan permohonan maaf yang sering diulang setiap pagi dan esok paginya. Kadang aku, kadang juga laki-laki milik ibunya. Sayang, bolehkah aku memanggilmu seperti itu?. Rasanya pun canggung bila diucapkan dengan perasaan mendalam. Tapi, logatku yang biasanya slengek an alias peringisan membuat kata sayang tak segan-segan keluar. Notif, notifikasi itu kubiarkan menganga. Sebab masing-masing kita hancur dan sadar. Aku diam, kau pun tidur. Siang, kusimak linimasa milikmu, beberapa menit online. Aku diam. Itu berlaku sampai sore menjelang pulang kerja. Sore, aku yakin dengan sepenuh jiwa bahwa kau memberanikan diri untuk menghubungi lewat whats app. Lalu berakhir dengan kericuhan dan maaf untuk segala amarah, sayang.

Kegilaan Dalam Mendapat sebuah buku: Zaman Peralihan


Pemilik buku yang mengagumi sosok penggarap skripsi berjudul “Di Bawah Lentera Merah” ini memperjuangkan sebagian hidupnya untuk datang di sebuah acara receh. Kerecehan itulah yang mengubah kewarasan menjadi gila. Akan tetapi, kegilaan itu tidak murni datang dari pemilik buku, melainkan disebabkan oleh: sebut saja manusia pemilik otoritas kurang tinggi, Penindas Umat, bahkan bisa dibilang Pimpinan Umum pada sebuah lembaga. Bodohnya, pemilik buku luluh dengan wajah polos yang dimiliki oleh manusia tersebut. Akhirnya, yang memiliki otoritas kurang tinggi itu menyalahgunakan wewenang terhadap staf dan atau bahkan masyarakat kurang cerdas yang ada pada sebuah kampus agak beradab.
Pemilik buku mengucapkan sedikit terima kasih kepada teman atau musuh yang berperan aktif maupun pasif dalam sistem pemerintahan pimpinan umum pada waktu itu, sebab telah mengajarkan banyak hal kepadanya. Saya selaku wakil darinya mengucapkan sial yang benar-benar sial untuk pemilik buku karena menghadapi cobaan sedemikian rupa. Hanya saya dan pemilik buku yang paham atas penyesalan dan kegilaannya. Salam.
Orang-orang Di Persimpangan Kiri Jalan, Sekali Lagi, Di Bawah Lentera Merah dan Zaman Peralihan adalah judul buku dari almarhum Soe Hok Gie. Pemuda berlatar belakang etnis Tionghoa ini lahir pada 17 Desember 1942 dan gugur pada 16 Desember 1969. Gie yang tidak memiliki nafsu untuk mengubah namanya adalah seorang aktivis 1966 atau yang akrab disebut angkatan 66. Hok Gie adalah manusia yang pernah didewakan karena tulisannya, salah satunya adalah pemilik buku zaman peralihan ini.
Buku zaman peralihan berisi tentang catatan Gie yang masuk ke surat kabar seperti Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Buku ini bercerita terkait permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia sekitar tahun 1962 hingga 1969. Tulisan Gie yang kritis dan klimis telah mencerminkan rasa kemanusiaan dan cinta terhadap tanah air. Terdapat empat bagian kisah dari buku zaman peralihan ini.
Bagian pertama adalah masalah kebangsaan. Bagian ini mengisahkan cara kerja elit politik, aparat, dosen, dan bahkan mahasiswanya sekaligus. Mahasiswa dan kaum intelektual lainnya tidak dapat menjamin suasana menjadi lebih baik. Dosen mulai ikut andil dalam memperkaya dan bersikap rakus terhadap materi. Penawaran kursi-kursi politik dilakukan oleh pemerintah terhadap mahasiswa. Bahkan angkatan darat pun memanfaatkan universitas sebagai wadah untuk mencari muka dengan dalih “Pengetahuan tempur terus diimbangi dengan wawasan kemasyarakatan yang mendalam pula” (hal 66). Kemudian muncul batasan pada pers. Pers dikendalikan oleh pemerintah.
Permasalahan mahasiswa menjadi nomor dua di buku zaman peralihan ini. Mahasiswa merasa dirobotkan. Dosen-dosen yang suka bolos dan datang telat menjadi hal biasa. Bahkan Hok Gie mendapati dosen yang bodoh. Kemudian ormek-ormek melakukan pengaderan terhadap mahasiswa baru. Buku anti-soekarno pun dilarang, bahkan film yang tidak mendukung sistem pemerintahan tidak boleh ditayangkan. Keparat sekali zaman itu.
Masalah kemanusiaan pun dikritik oleh manusia yang didewakan oleh pemilik buku ini. Pembantaian, penyembelihan di pulau Bali dilaksanakan dengan sangat cantik. Bukti-bukti dihilangkan. Ahh, semoga tidak terjadi kembali hal-hal menjijikkan seperti itu.
Di akhir buku, Hok Gie menceritakan perjalanannya ke Amerika dan Australia. Di sana ia dikenalkan oleh berbagai media cetak. Beberapa pengalaman kosmopolitan membekas sampai ke Indonesia.
“Saya mimpi tentang sebuah dunia, di mana para ulama-buruh dan pemuda bangkit dan berkata: stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan atas nama apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia, yang lebih baik…” Gie: dalam puisinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan Malam Akhir Pekan

Muak

Hilangnya Kesadaran yang Menyenangkan