Sampul buku Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas
Pada Rabu kemarin, seorang mantan redaktur online menampakkan dirinya menjelang madrasah diniyah dibubarkan. Ia meletakkan punggungnya disebalah petugas pelaksana online di depan dimensi. Tiba-tiba seonggok daging bernyawa datang, ia mengingatkan mantan redaktur itu untuk mengeluarkan buku yang kemarin dijanjikannya. Buku itu adalah karya Eka Kurniawan. Yah, lagi lagi Eka Kurniawan.
Sialan, buku ini tak secantik karya kemarin yang baru saja terbaca. Lebih membosankan dan tidak pantas diterbitkan. Eka, bukumu yang berjudul Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas miliki Romafi ini telah menghabiskan waktu tidur Si Pembaca. Buku yang disarankan dibaca dalam tempo sesingkat-singkatnya ini alurnya berantakan. Tak seanggun alur milik Cantik Itu Luka. Gaya bahasa yang ringan dan serampangan terlihat dari maju-mundurnya alur yang tersaji. Sayangnya, pembaca tidak nafsu dengan sajian yang dihidangkan oleh Eka ini.
Tak disangka, Ajo Kawir juga menuliskan judul buku ini pada bagian belakang truk. Berkat truk itulah Ajo Kawir bertemu dengan seorang wanita yang masuk ke dalaman mimpi Ajo Kawir untuk ditiduri. Berkat mimpi itu burungnya mampu mengeras dan kembali seperti sedia kala.
Ajo Kawir pemilik burung yang tidak bisa berdiri itu memiliki hobi berkelahi sebelum ia menjalani kehidupan sufi seperti yang dicontohkan oleh burungnya. Si Tokek. Si Tokek ini adalah teman Ajo Kawir yang mengajak untuk pergi ke rumah orang gila yang diperkosa bernama Rona Merah. Sebab itulah, mereka berdua terlalu khusuk melihat adegan pemerkosaan yang dilakukan Pemilik Luka dan Si Perokok Kretek, burung Ajo Kawir pun terserang impoten.
Usaha Ajo Kawir untuk mengembalikan esensi dari burungnya dibantu dengan Iwan Angsa. Ia mencarikan perempuan plesiran, akan tetapi cara tersebut gagal. Ajo Kawir mencoba mencari cara lain yaitu memoleskan cabai rawit dengan merata kepada sang burung yang masih tertidur. Cara itu benar-benar menyiksa Ajo Kawir beberapa minggu. Cara ketiga dilakukan, yaitu dengan menyengatkan sejumlah tiga lebah di bagian burungnya. Lalu, melakukan cara terakhir dengan membaca buku tipis stansilan karya Valentino. Lagi-lagi cara tersebut gagal. Kasihan pemilik burung, ia ditinggal mati suri oleh burung satu-satunya.
Ajo Kawir beristrikan Iteung, seorang petarung yang menyenangkan. Mereka berdua saling mencintai dan akhirnya menikah. Sayangnya, burung Ajo Kawir masih tertidur pulas. Terpaksa, salah satu jarinya harus memuaskan Iteung yang tak bisa mencicipi daging milik burung Ajo Kawir. Pada akhirnya ia pun berpisah dengan Iteung. Lagi-lagi penyebab burung yang mati suri. Ajo Kawir pun tersadar, bahwa ia belajar dari sang burung yang hidup di celana dalamnya. Di dalam sanalah burungnya hidup dengan damai, seperti Ajo Kawir menunggu waktu yang pas untuk melihat burungnya dapat berdiri kembali.
Kisah yang begitu vulgar, kosa kata yang menurut kebanyakan orang adalah tabu sepeti kuntul dan memek tertera jelas di sana. Novel yang ditujukan untuk kalangan 21+ menampilkan sebuah adegan seks yang dituliskan secara gamblang. Cerita yang meloncat-loncat karena alurnya yang maju-mundur ini membosankan, apalagi ditambah dengan paragraf yang pendek-pendek, hal tersebut menambah tingkat kesialan dan penyesalan pembaca.
Komentar