Sampul buku Allah Tidak Cerewet Seperti Kita
Buku yang berjudul Allah Tidak Cerewet Seperti Kita ini membicarakan mengenai rata-rata kehidupan masyarakat sekarang yang menuduh dirinya sendiri adalah manusia paling benar tanpa mengkaji suatu fakta yang terjadi. Seperti halnya manusia yang berani menghakimi manusia yang lain misalnya mengkafirkan dan membid’ahkan orang dengan alasan praktik agama yang berbeda.
Pengarang buku adalah Muhammad Ainun Najib yang juga seorang tokoh intelektual sekaligus budayawan ingin mengingatkan kepada manusia bahwa Tuhannya adalah maha baik hati yang senantiasa melayani makhluknya. Terdapat beberapa kasus yang ditulis oleh pengarang dalam bukunya yaitu pada saat pengarang mengadakan pengajian di area kerja PSK (Pekerja seks komersial). Diceritakan bahwa PSK sangat senang adanya pengajian tersebut, banyak PSK yang meminta doa kepada pengarang agar cepat diberi kesempatan keluar dari tempat seperti itu. Yang biasanya melayani delapan hingga dua belas laki-laki sehari, mungkin dalam setahun PSK melayani lebih dari dua ratus laki-laki. Tetapi yang terjadi pada saat itu semua PSK langsung memakai jilbab. Jadi, sebenarnya realita yang ada pada kehidupan seperti itu bukan karena rusaknya moral para pekerja, karena ada dorongan yang memaksa mereka.
Kejadian itu mengingatkan kepada manusia agar menelusuri seluk beluk permasalahan orang lain, jangan sampai memberi stigma dengan ucapan gak karuan maupun alasan yang berpotensi menjadikan ribet tatanan sosial. Manusia harus berpikir jernih meski tidak sejernih air dan seputih awan akan tetapi harus berusaha menghilangkan kotoran dalam akal. Tuhan menciptakan mereka seperti itu agar yang lain dapat pelajaran, bukan malah mengolok-olok dan menuduh dirinya sendiri suci.
Di awal-awal halamannya disuguhkan kisah temannya yang pada jam sembilan pagi hingga lima sore sering datang ke rumahnya. Sesampai di rumah ia menceritakan kepada istri selama ia datang di rumah pengarang. Ia merasa sudah bekerja dengan seperti itu, padahal ia hanya keluar rumah dan pergi dari rumah. Hal semacam itu sah-sah saja, yang terpenting punya niat dan mau berusaha ke luar rumah. Karena memiliki niat yang kuat, maka Tuhan sendiri yang akan bekerja untuk manusia. Selagi tidak diam di tempat, rezeki itu akan dihadirkan Tuhan sendiri.
Mayoritas manusia beranggapan bahwa bekerja harus menghasilkan uang. Pernyataan itu sungguh gila, namanya bekerja itu berusaha, biar Tuhan yang menggaji makhluknya sendiri berdasarkan usaha yang dilakukan. Beranggapan bahwa bekerja harus menghasilkan uang seakan-akan tidak yakin dengan adanya Tuhan. Kalau masih belum yakin semua amalan diterima, berarti manusia tersebut harus mempertanyakan di mana letak keimanan hatinya.
Eksistensi manusia dibangun dari pakaian yang dikenakan. Hal itu benar-benar bodoh, padahal pakaian adalah budaya yang tidak semua orang bisa menerima secara keseluruhan. Seperti halnya seorang ustaz yang berpakaian biasa tidak sama sekali menggambarkan seperti ustaz pada umumnya, yang bersorban, berpeci menarik dan berbaju kokoh. Ustaz yang memakai kaos oblong dan bersandal japit keilmuannya dipertanyakan dan diklaim seperti orang ke sawah.
Manusia yang memberi nilai kepada ustaz yang seperti itu harus menengok ke belakang. Nabi tidak pernah berpakaian bermegah-megahan, apalagi berlomba-lomba memenangkan kompetisi pakaian yang lagi tren. Pakaian yang dikenakan ustaz seharusnya pakaian yang juga dikenakan oleh orang-orang yang paling miskin.
Dijelaskan juga bahwa orang sakit bukan karena salah makanan, salah obat, tidak olah raga, melainkan karena hatinya yang kotor. Pada halaman 126 tertulis sumber kesehatan nomor satu adalah tidak berpikir curang. Orang akan sehat bila berpikir jujur. Saat diseret di tatanan sosial pernyataan rokok itu mematikan kurang tepat. Alasan seperti itu adalah soal perdagangan dan politik yang tidak ada hubungannya dengan kesehatan.
Alasan itu tidak mengantarkan perokok untuk bersorak, hendaklah para perokok tidak diperbudak oleh rokok itu sendiri. Rokok itu sehat jika digunakan seperlunya, fungsinya harus tepat. Merokok ketika apa, rokonya apa, berapa banyak yang terpenting lagi adalah tau kapan waktunya merokok.
Jika semua yang berpotensi membunuh itu dilarang, sangat banyak sekali perkara yang harus dihilangkan. Seperti sate, gule, kopi, gula, dan lain sebagainya. Ini bukanlah masalah sehat atau tidak sehat, hanya masalah perlakuan bagaimana menyikapi semuanya.
Sambat soal kemiskinan. Sambat gak punya uang, sambat gak bisa makan enak, sambat gak punya mobil. Sekalian saja sambat kenapa diciptakan oleh Tuhan. Tuhan itu maha baik hati, sudah seperti pelayan. Manusia juragannya. Apa pun yang dibutuhkan manusia selalu diciptakan, kemudian diberikan kepada makhluk-Nya. Toh, Tuhan juga tidak mungkin menyembunyikan atau mengambil apa yang dibutuhkan manusia. Dikira Tuhan sama seperti manusia yang butuh ini, itu. Tuhan tidak cerewet kok.
Hanya saja, manusia kurang usaha. Mintanya yang enak-enak, yang besar-besar, langsung jadi tapi gak mau usaha maksimal. Cukup dengan doa saja, Tuhan sudah mendengar. Pernyataan macam apa seperti itu? Tuhan bisa mendengar, tapi jasa apa yang harus digunakan-Nya agar transaksi untuk memenuhi keinginanmu tercapai. Orang seperti itu jelas pikirnya sependek umurnya. Mana ada habis salat minta uang langsung diturunkan uang di depannya, langsung dijatuhkan mobil di depannya, mustahil.
Pola masyarakat seperti itu biasanya disebabkan karena ketidaktahuan atau separuh-separuh dalam memahami suatu pernyataan. Kehendak manusia untuk berkuasa dalam realitas dan pengetahuan. Buku serupa yang menceritakan tentang pengetahuan dan tatanan atau merumuskan suatu permasalahan terdapat karangan F. Budi Hardiman yang berjudul Filsafat Modern. Pada halaman 273 terdapat kalimat bahwa kebenaran bersifat perspektival, tergantung perspektif penafsir.
Jika disentuhkan kepada karangan Emha Ainun Najib, pernyataan yang terdapat pada buku F. Budi Hardiman sama. Persoalan yang ditulis Emha pada bukunya, menggiring manusia berperilaku bijak terhadap tatanan sosial pada zaman sekarang. Manusia boleh mengklaim bahwa suatu hal itu benar, tetapi tidaklah baik menyalahkan pendapat orang lain.
Buku Emha Ainun Najib terbitan 2019 ini sinkron dengan apa yang terjadi pada masa sekarang. Bahwasanya sosial budaya itu ciptaan manusia dan bisa berubah sewaktu-waktu. Isinya tepat dibaca saat sedang mengalami pertarungan batin mengenai sistem masyarakat.
Kita tidak bisa meneruskan negara, di mana yang satu merasa dirinya malaikat dan menuduh lainnya setan. (Emha Ainun Najib, halaman 105).
Komentar