Sampul buku Cantik Itu Luka
Novel yang diberi judul Cantik Itu Luka
sengaja dipinjamkan oleh seorang senior sebelum melaksanakan sidang skripsi
kemarin. Dia meminta tolong agar namanya dituliskan dengan sandangan The Lord
dinarasi ini. Kemungkinan dia meminjamkan buku Eka Kurniawan dengan terpaksa. Entah
disebabkan karena salah satu juniornya masih bodoh dan berharap setelah membaca
karya Eka ini langsung berubah menjadi cerdas. Atau barangkali The Lord Jusuf
Fitroh ini bersikap baik untuk melancarkan sidang skripsi yang terlaksana pada
hari Senin kemarin. Tapi, kemungkinan besarnya anggapan junior ini salah. The
Lord Jusuf Fitroh tidak mungkin selicik itu.
Buatnya, apa pun alasan The Lord Jusuf Fitroh
meminjamkan buku berjumlah 505 halaman tak masalah. Meski dalam proses
menikmati isi bukunya pun dipaksa agar cepat selesai dan segera diganti oleh
karya Eka yang lain. Ia tak sempat
mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya secara langsung kepada pemilik buku.
Ia takut, dilain meminta menuliskan sandangan Lord, junior juga diminta
menyembah pada saat mengembalikan buku Jumat kemarin. Selain menerima ucapan
terima kasih, The Lord Jusuf Fitroh mendapat sedikit doa dari Sang Junior
semoga ia tetap waras sejak dalam pikiran. Ralat, semoga ia tetap waras sejak dalam
kandungan (Permintaan Romafi W.K)
Atau jangan sampai seperti pria yang hidup di
Halimunda. Mereka tergila-gila dengan kewibawaan Dewi Ayu hingga melupakan
keluarganya di rumah. Begitu pula The Lord Jusuf Fitroh, dia berahi saat
menceritakan isi novel Eka waktu itu. Junior keheranan ketika hal itu terjadi,
Tuan Jusuf begitu antusias dan ingin
menyampaikan bahwa karya Eka yang satu ini benar-benar magic.
Hidangan pertama novel ini adalah kebangkitan
seorang pelacur dari kuburnya. Pelacur yang begitu anggun, seanggun alur cerita
yang ditulis oleh penulisnya. Atau saat dipelesetkan menjadi anggur yang
terminum dengan sengaja oleh pemilik buku. Atau bahkan keangkuhan para staf
pengajar yang memaksa mahasiswanya mengerjakan soal, sehingga kenikmatan saat
membaca karya Eka ini tidak terpuaskan. Barangkali hal itu yang membuat ia
tidak sempat cerdas kali ini, ia terlalu banyak dipaksa. Entah dipaksa membaca,
dipaksa menulis, bahkan dipaksa membuat kopi untuk The Lord Jusuf Fitroh.
Biarlah, biar nanti dibalas oleh Tuhan yang katanya Maha Pemurah.
Lain halnya dengan kisah Dewi Ayu yang
memiliki empat anak perempuan cantik se-Halimunda. Sialnya, mereka semua terkena
kutukan roh jahat yang selama-lamanya akan menjanda. Dewi Ayu hingga cucunya
tidak memiliki suami tapi semua keluarganya pernah menikmati bagaimana
kenikmatan saat bersetubuh dengan lawan jenis. Terdapat pula Tuhan yang pelit.
Begitulah yang tertulis pada awal bab novel Cantik Itu luka cetakan ke-16.
Semoga The Lord Jusuf Fitroh tidak pernah bertemu dengan Tuhan yang pelit,
sebagaimana yang tertulis di novel tersebut. Dikarenakan dosa Sang Junior telah
diperbanyak oleh perilaku The Lord Jusuf Fitroh.
Karya Eka dapat menyadarkan bahwa anjing pun
dapat memperkosa seorang wanita. Sebagaimana pengakuan Krisan selaku cucu Dewi Ayu
dari anaknya Adinda bersama Kamared Kliwon. Krisan mengaku bahwa ia telah
memperkosa anak dari bibinya Maya Dewi. Tetapi sesungguhnya, Krisan tidak
benar-benar mengakui hal itu, ia hanya mengaku kepada pembaca bahwa anjing
telah memperkosa Rengganis si Cantik. Adapun Krisan terbukti melakukan
pemerkosaan di toilet sekolah adalah berkat jelangkung yang sengaja dimainkan
oleh anak seorang penggali kubur. Lalu menembak Krisan yang sedang asyik
menikmati tubuh Cantik yang buruk rupa.
Dewi ayu dan anak-anaknya adalah penakluk
seluruh pria di Halimunda. Seperti Maman Gendeng. Sebelum dan sesudah menikah
dengan Maya Dewi, Maman Gendeng sengaja menikmati tubuh mertuanya. Begitu pula
dengan tingkah Sang Shodancho. Suami dari anak pertama, Alamanda. Kedua menantu
yang pernah menikmati tubuh mertuanya di tempat pelacuran.
Kamared Kliwon lah yang masih diberi
kesempatan niat untuk meniduri mertua di masa hidupnya. Ia adalah suami dari
Adinda putri kedua dari Dewi Ayu. Ia adalah orang yang mendeklarasikan serikat
nelayan. Seorang aktivis buruh yang sering terjun ke laut. Sama halnya dengan
The Lord Jusuf Fitroh yang pernah menjadi salah satu aktivis kampus. Apalagi, ketika
akan melaksanakan sidang skripsi, The Lord Jusuf Fitroh sering datang ke kampus
meminta bantuan kepada salah satu penduduk sipil bekas pemimpin redaksi di
salah satu lembaga.
Novel yang dalam pembacaannya dipaksa dan menghasilkan waktu kurang dari
dua minggu ini mengisahkan nasib Dewi Ayu. Ia kehilangan semua menantu dan
cucunya, namun ia dapat memunculkan janda-janda di Halimunda. Alasan menjadi seorang
pelacur pun sangat elegan. Dewi Ayu tak pernah bosan tidur dengan semua pria di
Halimunda dengan alasan, ia tidak tega melihat para istri sedih karena suaminya
pulang membawa gundik. Persis yang dialami oleh roh jahat ketika kekasihnya
direbut oleh bangsa Belanda. Namanya Ma Iyang yang terbang setelah melakukan
persetubuhan dengan senang hati bersama Ma Gedik di atas bukit.
Ma Iyang nenek Dewi Ayu dari Ibunya Aneu
Stammler yang menikah dengan saudaranya sendiri yaitu Henri Stammler. Kisah
kawin dan mengkawinkan, atau bahkan dikawinkan begitu brutal di dalam novel
ini. Binatang juga ikut andil memperkosa seorang wanita. Salah satu menantunya
juga memperkosa anjing karena tidak dapat menikmati tubuh istri yang sedang
mengenakan celana dalam besi yang hanya dapat dibuka oleh mantra tersembunyi.
Sang Junior telah dibikin iri dengan karya
yang disuguhkan oleh Eka Kurniawan. Kasih sayang, ideologis, filsafat, mitos,
horor campur jadi satu. Seimbang dan bijak dalam menuliskan. Terima kasih untuk
Gramedia Pustaka Utama telah mampu menerbitkan salah satu karya apik dari Eka
Kurniawan.
Dikembalikannya buku ini kepada pemiliknya
hingga menulis secuil narasi yang kemungkinan dianggap sampah oleh pembaca,
termasuk The Lord Jusuf Fitroh, penulis berharap tidak ada revisi seperti
penggarapan majalah kampus. Kemungkinan besar tidaklah salah bahwa tak ada
revisi, sebab kali ini tidak ada yang memiliki hak untuk menyuruh penulis merevisi.
Komentar