Hujan Malam Akhir Pekan

Gambar
Photo: Dendysky, 2022 oleh Penulis Pagi ini muncul notifikasi dari laki-laki milik ibunya yang kucintai. Ehh, aku bingung soal cinta dan tak cukup pandai perihal tersebut. Ucapan permohonan maaf yang sering diulang setiap pagi dan esok paginya. Kadang aku, kadang juga laki-laki milik ibunya. Sayang, bolehkah aku memanggilmu seperti itu?. Rasanya pun canggung bila diucapkan dengan perasaan mendalam. Tapi, logatku yang biasanya slengek an alias peringisan membuat kata sayang tak segan-segan keluar. Notif, notifikasi itu kubiarkan menganga. Sebab masing-masing kita hancur dan sadar. Aku diam, kau pun tidur. Siang, kusimak linimasa milikmu, beberapa menit online. Aku diam. Itu berlaku sampai sore menjelang pulang kerja. Sore, aku yakin dengan sepenuh jiwa bahwa kau memberanikan diri untuk menghubungi lewat whats app. Lalu berakhir dengan kericuhan dan maaf untuk segala amarah, sayang.

Tercecah Obrolan Cantik Itu Luka Beserta Pemilik Bukunya


Sampul buku Cantik Itu Luka

Novel yang diberi judul Cantik Itu Luka sengaja dipinjamkan oleh seorang senior sebelum melaksanakan sidang skripsi kemarin. Dia meminta tolong agar namanya dituliskan dengan sandangan The Lord dinarasi ini. Kemungkinan dia meminjamkan buku Eka Kurniawan dengan terpaksa. Entah disebabkan karena salah satu juniornya masih bodoh dan berharap setelah membaca karya Eka ini langsung berubah menjadi cerdas. Atau barangkali The Lord Jusuf Fitroh ini bersikap baik untuk melancarkan sidang skripsi yang terlaksana pada hari Senin kemarin. Tapi, kemungkinan besarnya anggapan junior ini salah. The Lord Jusuf Fitroh tidak mungkin selicik itu.
Buatnya, apa pun alasan The Lord Jusuf Fitroh meminjamkan buku berjumlah 505 halaman tak masalah. Meski dalam proses menikmati isi bukunya pun dipaksa agar cepat selesai dan segera diganti oleh karya Eka yang lain. Ia tak  sempat mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya secara langsung kepada pemilik buku. Ia takut, dilain meminta menuliskan sandangan Lord, junior juga diminta menyembah pada saat mengembalikan buku Jumat kemarin. Selain menerima ucapan terima kasih, The Lord Jusuf Fitroh mendapat sedikit doa dari Sang Junior semoga ia tetap waras sejak dalam pikiran. Ralat, semoga ia tetap waras sejak dalam kandungan (Permintaan Romafi W.K)
Atau jangan sampai seperti pria yang hidup di Halimunda. Mereka tergila-gila dengan kewibawaan Dewi Ayu hingga melupakan keluarganya di rumah. Begitu pula The Lord Jusuf Fitroh, dia berahi saat menceritakan isi novel Eka waktu itu. Junior keheranan ketika hal itu terjadi, Tuan Jusuf  begitu antusias dan ingin menyampaikan bahwa karya Eka yang satu ini benar-benar magic.
Hidangan pertama novel ini adalah kebangkitan seorang pelacur dari kuburnya. Pelacur yang begitu anggun, seanggun alur cerita yang ditulis oleh penulisnya. Atau saat dipelesetkan menjadi anggur yang terminum dengan sengaja oleh pemilik buku. Atau bahkan keangkuhan para staf pengajar yang memaksa mahasiswanya mengerjakan soal, sehingga kenikmatan saat membaca karya Eka ini tidak terpuaskan. Barangkali hal itu yang membuat ia tidak sempat cerdas kali ini, ia terlalu banyak dipaksa. Entah dipaksa membaca, dipaksa menulis, bahkan dipaksa membuat kopi untuk The Lord Jusuf Fitroh. Biarlah, biar nanti dibalas oleh Tuhan yang katanya Maha Pemurah.
Lain halnya dengan kisah Dewi Ayu yang memiliki empat anak perempuan cantik se-Halimunda. Sialnya, mereka semua terkena kutukan roh jahat yang selama-lamanya akan menjanda. Dewi Ayu hingga cucunya tidak memiliki suami tapi semua keluarganya pernah menikmati bagaimana kenikmatan saat bersetubuh dengan lawan jenis. Terdapat pula Tuhan yang pelit. Begitulah yang tertulis pada awal bab novel Cantik Itu luka cetakan ke-16. Semoga The Lord Jusuf Fitroh tidak pernah bertemu dengan Tuhan yang pelit, sebagaimana yang tertulis di novel tersebut. Dikarenakan dosa Sang Junior telah diperbanyak oleh perilaku The Lord Jusuf Fitroh.
Karya Eka dapat menyadarkan bahwa anjing pun dapat memperkosa seorang wanita. Sebagaimana pengakuan Krisan selaku cucu Dewi Ayu dari anaknya Adinda bersama Kamared Kliwon. Krisan mengaku bahwa ia telah memperkosa anak dari bibinya Maya Dewi. Tetapi sesungguhnya, Krisan tidak benar-benar mengakui hal itu, ia hanya mengaku kepada pembaca bahwa anjing telah memperkosa Rengganis si Cantik. Adapun Krisan terbukti melakukan pemerkosaan di toilet sekolah adalah berkat jelangkung yang sengaja dimainkan oleh anak seorang penggali kubur. Lalu menembak Krisan yang sedang asyik menikmati tubuh Cantik yang buruk rupa.
Dewi ayu dan anak-anaknya adalah penakluk seluruh pria di Halimunda. Seperti Maman Gendeng. Sebelum dan sesudah menikah dengan Maya Dewi, Maman Gendeng sengaja menikmati tubuh mertuanya. Begitu pula dengan tingkah Sang Shodancho. Suami dari anak pertama, Alamanda. Kedua menantu yang pernah menikmati tubuh mertuanya di tempat pelacuran.
Kamared Kliwon lah yang masih diberi kesempatan niat untuk meniduri mertua di masa hidupnya. Ia adalah suami dari Adinda putri kedua dari Dewi Ayu. Ia adalah orang yang mendeklarasikan serikat nelayan. Seorang aktivis buruh yang sering terjun ke laut. Sama halnya dengan The Lord Jusuf Fitroh yang pernah menjadi salah satu aktivis kampus. Apalagi, ketika akan melaksanakan sidang skripsi, The Lord Jusuf Fitroh sering datang ke kampus meminta bantuan kepada salah satu penduduk sipil bekas pemimpin redaksi di salah satu lembaga.
Novel yang dalam pembacaannya dipaksa dan menghasilkan waktu kurang dari dua minggu ini mengisahkan nasib Dewi Ayu. Ia kehilangan semua menantu dan cucunya, namun ia dapat memunculkan janda-janda di Halimunda. Alasan menjadi seorang pelacur pun sangat elegan. Dewi Ayu tak pernah bosan tidur dengan semua pria di Halimunda dengan alasan, ia tidak tega melihat para istri sedih karena suaminya pulang membawa gundik. Persis yang dialami oleh roh jahat ketika kekasihnya direbut oleh bangsa Belanda. Namanya Ma Iyang yang terbang setelah melakukan persetubuhan dengan senang hati bersama Ma Gedik di atas bukit.
Ma Iyang nenek Dewi Ayu dari Ibunya Aneu Stammler yang menikah dengan saudaranya sendiri yaitu Henri Stammler. Kisah kawin dan mengkawinkan, atau bahkan dikawinkan begitu brutal di dalam novel ini. Binatang juga ikut andil memperkosa seorang wanita. Salah satu menantunya juga memperkosa anjing karena tidak dapat menikmati tubuh istri yang sedang mengenakan celana dalam besi yang hanya dapat dibuka oleh mantra tersembunyi.
Sang Junior telah dibikin iri dengan karya yang disuguhkan oleh Eka Kurniawan. Kasih sayang, ideologis, filsafat, mitos, horor campur jadi satu. Seimbang dan bijak dalam menuliskan. Terima kasih untuk Gramedia Pustaka Utama telah mampu menerbitkan salah satu karya apik dari Eka Kurniawan.
Dikembalikannya buku ini kepada pemiliknya hingga menulis secuil narasi yang kemungkinan dianggap sampah oleh pembaca, termasuk The Lord Jusuf Fitroh, penulis berharap tidak ada revisi seperti penggarapan majalah kampus. Kemungkinan besar tidaklah salah bahwa tak ada revisi, sebab kali ini tidak ada yang memiliki hak untuk menyuruh penulis merevisi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan Malam Akhir Pekan

Muak

Hilangnya Kesadaran yang Menyenangkan