Hujan Malam Akhir Pekan

Gambar
Photo: Dendysky, 2022 oleh Penulis Pagi ini muncul notifikasi dari laki-laki milik ibunya yang kucintai. Ehh, aku bingung soal cinta dan tak cukup pandai perihal tersebut. Ucapan permohonan maaf yang sering diulang setiap pagi dan esok paginya. Kadang aku, kadang juga laki-laki milik ibunya. Sayang, bolehkah aku memanggilmu seperti itu?. Rasanya pun canggung bila diucapkan dengan perasaan mendalam. Tapi, logatku yang biasanya slengek an alias peringisan membuat kata sayang tak segan-segan keluar. Notif, notifikasi itu kubiarkan menganga. Sebab masing-masing kita hancur dan sadar. Aku diam, kau pun tidur. Siang, kusimak linimasa milikmu, beberapa menit online. Aku diam. Itu berlaku sampai sore menjelang pulang kerja. Sore, aku yakin dengan sepenuh jiwa bahwa kau memberanikan diri untuk menghubungi lewat whats app. Lalu berakhir dengan kericuhan dan maaf untuk segala amarah, sayang.

Bodohnya Pembaca Tidak Dapat Memahami Buku Berjumlah 188 Halaman

Sampul buku Ringkasan Sejarah Marxisme dan Komunisme

Buku bersampul biru ini ditemukan Sang Junior di meja milik salah satu lembaga kampus Tulungagung. Sang junior dengan sengaja menyentuh dan membaca judul, ketika sampul biru di buka tak disangka terdapat tanda tangan salah satu Senior yang keras kepala. Kemungkinan besar pemilik buku tersebut adalah ia yang sering mengintai Sang Junior. Dan kemungkinan semua itu benar, tidak salah.
Kemudian buku tersebut terambil dengan sengaja oleh Sang Junior. Dengan merasa bersalah, Sang Junior meminjam kepada Senior keras kepala tersebut. Ia mengatakan bahwa buku tersebut masih dalam proses pembacaan, tapi tak masalah jika kau mau pinjam. Begitulah kurang lebih Senior mengatakan kepada Sang Junior.
Sebenarnya, diksi yang digunakan Franz Magnis-Suseno S.J dalam menceritakan pemikiran Karl Mark ini ringan. Akan tetapi, diksi tersebut membentuk teori yang tidak semua orang bodoh memahami. Seperti yang dialami oleh Sang Junior. Ia terlalu bodoh untuk itu, akhirnya dalam menulis resensi sedikit membuka kembali buku yang berjumlah 188 halaman ini. Atau barangkali Seniornya pun tidak memahami terkait isi buku. Ia hanya sekedar memiliki untuk dipinjamkan kepada Sang Junior. Sang Junior sangat berterima kasih jika kemungkinan itu benar. Tapi, Junior sadar bahwa kemungkinan itu tentulah salah. Pastilah buku yang diberi judul Ringkasan Sejarah Marxisme dan Komunisme tersebut dimiliki Senior untuk menuntaskan kebodohan sendiri. Benar sekali, sekarang Senior dan Junior sama-sama bodohnya, akan tetapi kualitas dan kuantitas kebodohan mereka berbeda.
Mulai dari dongeng Marxisme, Leninisme, Neo-Marxisme, dan Komunisme dapat dibaca di buku karangan Franz Magnis ini. Keajaiban dongeng karangan Franz Magnis ini memang benar diterapkan disedikit negara. Bagaimana kondisi masyarakat yang dipetakan berdasarkan kelas sosial akan mengalami keterasingan, hal tersebut karena kepentingan semua orang berbeda-beda. Begitulah ringkasan yang telah didapat setelah Sang Junior membacanya. Keterangan tersebut sama halnya dengan kehidupan di salah satu lembaga kampus. Adanya sekat di antara staf dan pemimpin, atau bahkan kru. Tapi biarlah, semua itu hanyalah fase di mana kepompong akan menjadi kupu-kupu. Entah kupu-kupu jelek maupun buruk.
Sang Junior tidak begitu memahami isi buku ini. Sepertinya ia hanya sekedar membaca tanpa berpikir. Seharusnya Junior yang seperti ini perlu diperbaiki otaknya, agar mampu berpikir sebagaimana Marx hingga Herberd Marcuse mencetuskan teori dan kritiknya tentang tatanan kehidupan sosial. Atau Senior yang seharusnya disalahkan karena belum mampu mencerdaskan Sang Junior.
Seperti yang diungkapkan pada paragraf atas. Sang Junior terlalu bodoh hingga tidak tahu menahu soal Uni Soviet, Komunis, Rusia, Proretariat Amerika yang tertulis di dalam buku ini. Semoga saja setelah dikembalikannya buku ini, pemilik buku langsung memberi penjelasan lanjutan terkait isi. Begitulah harapan seorang Junior terhadap pemilik buku.
Hingga saat ini Sang Junior belum mengungkap terima kasihnya kepada pemilik buku. Tapi buat apa ungkapan tersebut. Biarlah tanpa mengucapkan terima kasih. Ucapan itu pun tidak berguna bagi seorang Senior. Atau bahkan Sang Junior berharap bahwa tanpa ucapan terima kasih darinya, pemilik buku menolak bukunya dikembalikan dan meminta Sang Junior untuk menerima buku yang diterbitkan oleh KMPD Press pada September 2012.
Terima kasih untuk penerbitnya. Semoga harapan kita semua terkabulkan, termasuk Sang Junior yang sering kurang ajar kepada kakak-kakak Seniornya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan Malam Akhir Pekan

Muak

Hilangnya Kesadaran yang Menyenangkan