Sampul buku Ringkasan Sejarah Marxisme dan Komunisme
Buku bersampul biru ini ditemukan Sang Junior
di meja milik salah satu lembaga kampus Tulungagung. Sang junior dengan sengaja
menyentuh dan membaca judul, ketika sampul biru di buka tak disangka terdapat
tanda tangan salah satu Senior yang keras kepala. Kemungkinan besar pemilik
buku tersebut adalah ia yang sering mengintai Sang Junior. Dan kemungkinan
semua itu benar, tidak salah.
Kemudian buku tersebut terambil dengan sengaja
oleh Sang Junior. Dengan merasa bersalah, Sang Junior meminjam kepada Senior
keras kepala tersebut. Ia mengatakan bahwa buku tersebut masih dalam proses
pembacaan, tapi tak masalah jika kau mau pinjam. Begitulah kurang lebih Senior
mengatakan kepada Sang Junior.
Sebenarnya, diksi yang digunakan Franz
Magnis-Suseno S.J dalam menceritakan pemikiran Karl Mark ini ringan. Akan
tetapi, diksi tersebut membentuk teori yang tidak semua orang bodoh memahami.
Seperti yang dialami oleh Sang Junior. Ia terlalu bodoh untuk itu, akhirnya
dalam menulis resensi sedikit membuka kembali buku yang berjumlah 188 halaman
ini. Atau barangkali Seniornya pun tidak memahami terkait isi buku. Ia hanya
sekedar memiliki untuk dipinjamkan kepada Sang Junior. Sang Junior sangat
berterima kasih jika kemungkinan itu benar. Tapi, Junior sadar bahwa
kemungkinan itu tentulah salah. Pastilah buku yang diberi judul Ringkasan
Sejarah Marxisme dan Komunisme tersebut dimiliki Senior untuk menuntaskan
kebodohan sendiri. Benar sekali, sekarang Senior dan Junior sama-sama bodohnya,
akan tetapi kualitas dan kuantitas kebodohan mereka berbeda.
Mulai dari dongeng Marxisme, Leninisme,
Neo-Marxisme, dan Komunisme dapat dibaca di buku karangan Franz Magnis ini.
Keajaiban dongeng karangan Franz Magnis ini memang benar diterapkan disedikit
negara. Bagaimana kondisi masyarakat yang dipetakan berdasarkan kelas sosial
akan mengalami keterasingan, hal tersebut karena kepentingan semua orang
berbeda-beda. Begitulah ringkasan yang telah didapat setelah Sang Junior
membacanya. Keterangan tersebut sama halnya dengan kehidupan di salah satu
lembaga kampus. Adanya sekat di antara staf dan pemimpin, atau bahkan kru. Tapi
biarlah, semua itu hanyalah fase di mana kepompong akan menjadi kupu-kupu. Entah
kupu-kupu jelek maupun buruk.
Sang Junior tidak begitu memahami isi buku
ini. Sepertinya ia hanya sekedar membaca tanpa berpikir. Seharusnya Junior yang
seperti ini perlu diperbaiki otaknya, agar mampu berpikir sebagaimana Marx
hingga Herberd Marcuse mencetuskan teori dan kritiknya tentang tatanan
kehidupan sosial. Atau Senior yang seharusnya disalahkan karena belum mampu
mencerdaskan Sang Junior.
Seperti yang diungkapkan pada paragraf atas.
Sang Junior terlalu bodoh hingga tidak tahu menahu soal Uni Soviet, Komunis,
Rusia, Proretariat Amerika yang tertulis di dalam buku ini. Semoga saja
setelah dikembalikannya buku ini, pemilik buku langsung memberi penjelasan
lanjutan terkait isi. Begitulah harapan seorang Junior terhadap pemilik buku.
Hingga saat ini Sang Junior belum mengungkap
terima kasihnya kepada pemilik buku. Tapi buat apa ungkapan tersebut. Biarlah
tanpa mengucapkan terima kasih. Ucapan itu pun tidak berguna bagi seorang
Senior. Atau bahkan Sang Junior berharap bahwa tanpa ucapan terima kasih
darinya, pemilik buku menolak bukunya dikembalikan dan meminta Sang Junior
untuk menerima buku yang diterbitkan oleh KMPD Press pada September 2012.
Terima kasih untuk penerbitnya. Semoga harapan
kita semua terkabulkan, termasuk Sang Junior yang sering kurang ajar kepada
kakak-kakak Seniornya.
Komentar