Hujan Malam Akhir Pekan

Gambar
Photo: Dendysky, 2022 oleh Penulis Pagi ini muncul notifikasi dari laki-laki milik ibunya yang kucintai. Ehh, aku bingung soal cinta dan tak cukup pandai perihal tersebut. Ucapan permohonan maaf yang sering diulang setiap pagi dan esok paginya. Kadang aku, kadang juga laki-laki milik ibunya. Sayang, bolehkah aku memanggilmu seperti itu?. Rasanya pun canggung bila diucapkan dengan perasaan mendalam. Tapi, logatku yang biasanya slengek an alias peringisan membuat kata sayang tak segan-segan keluar. Notif, notifikasi itu kubiarkan menganga. Sebab masing-masing kita hancur dan sadar. Aku diam, kau pun tidur. Siang, kusimak linimasa milikmu, beberapa menit online. Aku diam. Itu berlaku sampai sore menjelang pulang kerja. Sore, aku yakin dengan sepenuh jiwa bahwa kau memberanikan diri untuk menghubungi lewat whats app. Lalu berakhir dengan kericuhan dan maaf untuk segala amarah, sayang.

MENYENTUH HARAPAN DAN LANGIT SEKETIKA

Menyentuh Harapan Dan Langit Seketika Hidup memang selalu berputar, Terkadang ada diatas terkadang juga ada dibawah. Banyak orang yang mengatakan hidup itu seperti air yang mengalir, tetapi menurutku pernyataan tersebut salah. Mungkin prinsip hidupku tak sama dengan mereka yang berfikiran seperti itu. Buatku, hidup itu seperti komponen sepeda, kita disuruh untuk melengkapi satu sama lain sehingga kita akan terlihat menyatu. Sama seperti kisahku ini, Banyak hal yang belum pernah kita buka untuk suatu hal yang baru. Tapi ingatlah, bahwa hidup ini milik kita sendiri. Bukan lagi milik orang lain. Perkenalkan, namaku Dinda asal dari Surabaya. Aku masih berstatus sebagai seorang pelajar di SMA negeri 7 Surabaya. Aku memiliki cita-cita sebagai seorang profesor dan hobiku sendiri adalah menyanyi. Ditakhir tahun ini aku memiliki harapan yang harus terwujud yaitu hiking and trekking. Kedua hal tersebut adalah keinginan lamaku yang belum sempat terwujud hingga saat ini. Aku sering hiking di tempat-tempat yanng membuatku merasa nyaman dengan ke tiga kawanku. Ia bernama Putri, Fansa dan Olik. Mereka bertigalah yang sering mengajak atau menemaniku saat hiking. Tetapi, yang paling sering menemaniku adalah Fansa karena ia juga memiliki hobi yang sama denganku. Siang ini aku dan ketiga temanku berkumpul sekedar untuk makan siang bersama Karena ujian semester sudah berakhir, maka Fansa menginginkan untuk liburan bersama. Tetapi ia sulit untuk memutuskan dimana tempat yang cocok untuk berlibur, hampir semua tempat di jawa sudah pernah kita kunjungi. Dan akhirnya kami semua memutuskan untuk mendaki disebuah gunung di Jawa Tengah. Awalnya Putri tak menyetujuhi keputusan itu, mungkin ia sadar diri bahwa tubuhnya gendut jadi ia pesimis untuk dapat pergi mendaki bersama, tetapi dengan rayuan gombal si Fansa ia menjadi terpengaruh olehnya. “Pliss Put!!!, kamu ikut ya!!”. Mohon Fansa kepada Putri. “Iya Put, benar kata Fansa, kamu harus ikut dengan kami mendaki. Memangnya kamu ngak ingin foto bersama disana, itukan bisa jadi sebuah momen terindah. Ikut ya!!!”. Ujar aku. “Hmm. . . bagaimana ya? Aku takut kalian meniggalkan aku sendirian. Aku ngak bisa mendaki dengan tubuh seperti ini”. terang putri. “Hahaha. . . “. Semua tertawa mendengar pernyataan Putri. “Emangnya kamu bisa mendaki sendiri, kan ada aku Put, yang selalu jogging denganmu”. Jwab Olik. “Iya benar, kamu bisa jogging setiap hari dengan Olik, siapa tahu kamu langsung kurus Put”. Ledek ku kepada Putri. “Janji ya, jangan ninggalin aku sendiri”. Mohon Putri. “Janji”. Ucap serentak. Pagi ini Aku akan menyiapkan semua perlengkapan untuk pendakian besok, dan Fansa kebagian tugas untuk memesan tiket dan konsumsi untuk disana, sedangkan Olik dan Putri sedang menurunkan berat badnnya. Jarang sekali kita mendaki bersama seperti ini, biasanya aku tinggalkan Putri dirumah sendirian dan kita bertiga pergi mendaki. Momen ini tidak kan aku lupakan, aku juga sudah menyiapkan semua ini agar semua berjalan dengan lancar. Seharian penuh aku menghabiskan waktu dengan ketiga temanku hingga aku lupa izin dengan ibu untuk berlibur. Tak disangka, suatu hal terjadi padaku. Ibu marah besar saat aku memohon izin untuk mendaki di gunung slamet Jawa Tengah. Ibu khawatir sekali karena aku berkunjung ke Jawa Tengah berempat, dan semua seorang adalah wanita. Kemudin aku izin kepada ibu untuk mengajak Ardi dan Abdi. Karena hanya mereka berdua yang dipercaya dengan ibu. Sebab Ardi dan Abdi sering main kerumah dan mengantarku pulang saat selesai latihan. Tak lama kemudian akhirnya ibu mengizinkan aku untuk berlibur disana. Aku bersyukur sekali, ternyata harapanku yang sudah lama aku pendam ini bisa terwujud ditahun baru 2017. Kemudian aku segera menuju kerumah Abdi untuk mengajaknya pergi besok, aku hanya berharap mereka berdu memiliki keinginan yang sama untuk pergi ke Jawa Tengah. Sampai disana aku tak menemukan mereka berdua, dan tante Reni mengatakana kepada diriku bahwa Abdi sedang latihan. Lalu aku menuju kerumah Ardi. “Tumben banget mampir kemari”. Sapa Ardi “Apaan sih, aku juga memiki kawan disini ndak hanya Fansa maupun yang lain”. Nada kesal. “Iya Din, aku cuman bercanda. Tapi benar deh Din, setelah kamu putus dengan Abdi, kamu tuh jarang main kesini”. Jawab Ardi. “Sudahlah Di, aku kesini bukan untuk membicarakan hubunganku dengan Abdi. Aku kesini ingin mengajak kamu mendaki”. Terang ku. Tak lama kemudian Abdi datang dan tib-tiba menepuk pundakku dan berkata. “Oyy”. Getak Abdi “Abdi, sejak kapan kau kemari?”. Tanya ku “Baru sampai, Di minta minum ya!! Kehabisan nih”. Abdi “Kamu mau mengajakku Liburan Din?”. Dengan nada yang sedikit penasaran dan melirik ke Abdi. “Apa?”. Kaget Abdi. “Iya, kenapa? Kamu ngak mau”. “Bukannya ngak mau Din, tapi masak aku sendirian”. “Siapa yang mengajakmu pergi sendiri?, aku mengajak kalian berdua karena mama telah mempercayai kalian”. Jelas ku. “Kenapa kami?? kamukan punya teman hidup baru. Si Rendy”. Tanya Abdi. “Di, kamu ini kenapa sih? Selalu saja seperti ini. Rendy itu bukan teman hidupku, dia hanya teman tenis saja. Sudahlah, kamu jangan beranggapan seperti itu”. Nada kesal ku ujarkan kalimat tersebut kepada Abdi. “Sudah, sudah selalu saja bertengkar”. Ardi “Nanti malam ku harap kalian menemui ku di tempat biasanya. Karena kita juga butuh membicarakan liburan itu bersama yang lain”. Jawab ku. “Oke”. Sepuang dari rumah Ardi, aku menyempatkan untuk menemui Fansa dirumahnya karena pemesanan tikat harus bertambah. Aku belum sempat merngatakan kepada Fansa bahwa personil liburan akan bertambah 2. Ternyata disana juga ada Putri dan Olik, mereka bertiga bercanda diteras rumah. “Fan, Ardi dan Abdi akan berlibur bersama kita. Soalnya ketika aku izin mama kemarin harus ada cowok yang menemani”. Jelas ku kepada Fansa. “Oke, ngak masalah. Tapi siapa yang akan kasih tahu mereka jika mereka berdua ikut liburan bersama kita?”. Tanya Putri. “Dindakan baru selesai dirumah Ardi untuk menemui Abdi”. Ledek Olik. “Hahaha”. Semua tertawa. Aku tak semarah saat Ardi dan Abdi menledekku, dihadapan ketiga sahaatku ini aku tak dapat marah dan bawahannya selalu tersenyum. Mungkin karena mereka bertiga selalu ada untukku sehingga aku tak bisa marah didepannya. Jujur saja, sampai saat ini perasaanku kepad Abdi masih sama seperti dulu, aku masih mencintaidirinya dan jika diberi kesepatan untuk kembali lagi kepadanya kesempatan itu tidak aan aku sia-siakan. Sekarang sudah menunjukkan pukul 19.00. kita berempat seger menuju rumah pohon. Rumah pohin itu dibuat ketika ulang tahunku ke 15 tahun dari paman sebelum meninggal. Sekarang menjadi tempat kita berkumpul sepulang sekolah. Disana sudah ada Ardi dan Abdi yang mendahului diriku. Kemudian diskusipun kita mulai. Tak terasa 2 jam kita berdiskusi dan menghasilkan sebuah keputusan bahwa pada pukul 02.30 dini hari kita harus sudah berkumpul disini. Dibawah rumah pohon, siapapun yang telambat akan mendapatkan hukuman berupa mematuhi perkataan orang yang datang lebih dahulu selama 1 minggu. Pada pukul 02.00 aku membangunkan ketiga kawanku untuk bersiap-siap agar tidak terlambat. Tak lama kemudian aku menlfon Abdi dan Ardi agar segera berkemas-kemas. Tak usah buang-buang waktu, karena kita hanya perlu memeprsiapkan menampilan saja, semua perlengkapan sudah kami siapkan sejak kemarin sebelum tidur. Setelah selesai, aku dan Putri menuju keumah pohon, sedangkan Olik dan Fansa masih ada didalam kamr mandi. Jam sudah menunjukkan pukul 02.30, tetapi mereka berempat tak kunjung datang. Terlihat dari kejauhan Olik dan Fansa melangkah menuju rumah pohon tetapi 2 Ardi dan Abdi belum datang. Kami berusaha menghubungi mereka berdua, ternyata mobilnya mogok di perempatan saat menuju kemari. Kita putuskanuntuk berjalan menuju kesana untuk menemui mereka berdua. “Karena aku yang datang pertama , kamu tidk boleh menolak permintaanku selama 1 minggu penuh”. Ledek Dinda kepada Abdi. “Kamu tega melakukan semau itu kepadaku Din?”. Tnya Abdi “Tegalah, tunggu permintaanku ya Di!!”. Ledek ku. Aku dan teman-teman segera menuju kedalam bis, Ard Kita sus kami segera berangkat menuju ke Banyu mas. Tak perlu berhari-hari untuk menuju kesana. Pada pukul 23.00 kami sudah sampai dipenginapan. Aku dan kawan bersiap untuk trakking besok pagi. Aku dan kawan-kawan menuju ke pos perizinan gunung slamet. Kami semua tidak mendapat kendala saat pendaftar. Perjalanan disana sangat menyenangkan. Tidak ada kendala apapun dan semua berjalan dengan lancar. Momen beginilah yang tak bisa aku lupakan, lebih lagi aku tak menyangka kalau harapankuy untuk mendaki bisa terwujud dengan ke 3 sahabatku. Saat perjalanan kurang dari 3 km, putri mengalami cidera di kaki sebelah kanan. Ia tak sanggup lagi meneruskan hingga sampai puncak. Dengan tenaga yang tersisa, kami semua membantu Putri agar dapat melanjutkan perjalanan hingga kepuncak. Hingga pada waktunya kami semua pun dapat menikmati panorama diatas sana. Hal yang tak disangka-sangka adalah saat kita melihat wisatawan mengibarkan bendera merah putih dan berkata wonderful Indonesia. Bukan hanya hati yang tekesan tetapi air matapun ikut meluap melihatnya. kita sebagai bangsa asli Indonesia malah merusak lingkungan, sampah yang bertebaran dimana-mana membuat wisatawan tersebut harus memunguti dan membawahnya hingga puncak. Sungguh hebat orang luar negeri tersebut. Aku malu melihatnya karena aku terkadang juga tidak perduli dengan sampah-sampah tersebut. Setelah kita mengibarkan dan menyanyikan lagu Indonesia raya, harapan ke duaku juga terwujud di puncak slamet ini. Abdi yang aku harapkan menjadi kekasihku itu ternyata juga menyimpan rasa denganku. Abdi mengungkapkan perasaanku diatas awan dan gunung Banyumas Jawa Tengah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan Malam Akhir Pekan

Muak

Hilangnya Kesadaran yang Menyenangkan