Gitar Kecilku
ay-nie
Jika seseorang telah sukses masa depannya itu adalah karena masa
lalunya. Kini semua telah berubah. Hidupku tak lagi disamping rel kereta api
itu lagi, melainkan disebuah ruangan yang mewah tepat berada di atas gedung
pencakar langit. Tak usah repot untuk berjalan kaki kepanasan ataupun
dikejar-kejar orang untuk menyetorkan uang hasil jerih payahku. Sekarang, aku
dapat membanggakan seorang ibu yang dulu sempat menginginkan aku untuk memakai
seragam sekolah. Untukmu ibu, semua yangku miliki ini tidak ada gunanya tanpa
do’a restu darimu.
Namaku Galih, atau yang biasanya akrab di sapa Galeh. aku berumur 7
tahun saat itu. Rumahku tak jauh dari stasiun tua yang tidak lagi difungsikan.
Disana banyak anak-anak seumuranku yang bernasib sama sepertiku. Mereka semua
memiliki keinginan yang sama yaitu bersekolah. Tetapi, tak ada satupun dari
kami yang pernah duduk dibangku sekolah kecuali temanku yang bernama Rio. Ia
duduk dibangku sekolah selama 2 tahun, setelah itu ia tidak melanjutkan lagi
dikarenakan keluarganya tak mampu untuk membayar biaya sekolah. Kami
menhgabiskan waktu dengan bermain dan bermain. Hingga umurku mencapai 10 tahun,
aku baru sadar bahwa aku tidak bisa terus-terusan seperti ini sebaiknya ada
sesuatu yang bisa dibanggakan, seperti membantu ibu untuk menyekolahkan adikku
yang baru berumur 4 tahun. Ia harus lebih baik dariku, duduk dibangku sekolah
dan menuntut ilmu hingga prestasi. Ku berniat untuk bekerja serabutan di pasar
yang jaraknya lumayan jauh dengan tempat tinggalku.
Pagi ini aku tawarkan tenagaku di toko milik pak Subandi, tokonya
menjual barang-barang pangan seperti beras, jagung, minyak, gula dan lain
sebagainya. Ternyata pak Subandi menerima tenagaku hanya untuk menjaga toko
agar tetap bersih atau bisa dibilang aku seorang penyapu toko
Aku : “Capek juga ternyata, nyapu toko sebesar ini.”
Aku tak sengaja mengucap kalimat itu, ternyata pak Subandi
mengamatiku dari kejauhan. Aku sempat ketakutan melihat wajah beliau yang
menatapku, berlahan kaki pak Subandi melangkah menuju kursi yang tepat berada
di depanku.
Pak Subandi : “Leh, kamu itu masih muda, seharusnya semangatmu itu
melebihi bapak Leh.”
Aku : “Iya pak, saya juga ngak pingin terus-terusan jadi penyapu
toko atau nanti giliran aku yang memiliki toko seperti bapak ini.”
Pak Subandi dengan tersenyum dan mengatakan “Itu baru semangat muda.”
3 bulan kemudian aku beralih profesi. Mengingat tabunganku sudah
banyak dan cukup untuk membelikan adik sebuah sepatu dan gitar kecil atau yang
biasanya disebut kentrung, yang menjadi keinginanku semenjak aku bekerja di
toko pak Subandi. Uang pembelian kentrung tersebut sebenarnya sebagian besar
menggunakan uang ibu, sebab uangku tidak mencukupi untuk membeli barang semahal
itu. Sebenarnya ibu telah melarangku untuk membelikan adik sebuah sepatu,
tetapi itu sudah menjadi tangggunganku agar adik bisa bersekolah menggunakan
sepatu seperti teman-temnya yang lain. Ngak perlu waktu lama untuk diriku
menguasa kentrung tersebut karena sebelum bapak wafat dulu sering mengajarkanku
cara memainkanya. Lagu yang seringku nyanyikan menggunakan kentrung adalah lagu
berjudul gue apa adanya ciptaan Dhyo Prasetyo.
Aku memutuskan untuk menjadi pengamen jalanan, selain jarang
seseorang yang memakai peofesi tersebut untuk bekerja memudahkan diriku untuk
menghasilan uang yang banyak. Aku mengamen di jalan besar bersampingan dengan
pasar yang dulu seringku lewati ketika masih bekerja ditoko pak Subandi.
Rio : “Hai Leh.” Sambut Rio kepada Galih.
Ternyataa disana sudah ada Rio yang berprofesi sebagai pengamen.
Aku kira disini hanya ada aku dan mobil-mobil mewah. ehhh.... ternyata!!! Bukan
hanya Rio, aku, ataupun mobil-mobil mewah itu, disana juga ada Adit, Riski,
Rizal, Kenza. Banyak anak-anak yang seumuran dengaku. Tapi buat apa ia semua
mengumpul disini. Bukanya malah mencari uang malah berkumpul disini.
Aku : “Ehh Rio, dari tadi?.”
Rio : “Lumayan, kamu baru menjadi pengamen ya Leh?.”
Aku : “Iy...” belum sempat aku menjawab pertanyaan Rio. Riski sudah
menyeretku keluar dari area itu.
Riski : “Cepet sedikit Leh!! Atau kamu akan bernasib sama seperti
aku dan yang lain. Ayo Leh!!. Dengan epat Riski menyeret tanganku.
Aku tak mengerti apa yang disampaikan oleh Riski kepadaku. Tapi
cara Riski menyampaikan omanagnya kepadaku menandakan bahwa ia cepat-cepat
ingin meyampaikan suatu hal penting kepada diriku. Ternyata Riski mengajakku
bersembunyi dan mengatakan suatuhal kepada diriku.
Riski : “Leh, kamu ini anak baru disini, jadi aku mohon jangan
mudah percaya dengan ajakan atau omongan orang lain kecuali aku ataupun Rio
teman baikmu. Karena tempat ini penuh dengan pertumpahan darah. Kamu liat orang
yang berdiri disana memakai baju hitam bertopi?. Amati orang itu!. Dia adalah
oarang yang selalu mengambil hasil ngamen kami. Dan kamu pasti bertanya-tanya
tentang sedang apa kita tadi berkumpul disana?. Kami berkumpul disana untuk
pembagian tugas. Ingat satu hal bahwa kamu jangan mendekati orang-orang itu atau
kamu akan bernasib sama sepertiku.”
“Braakk....” suara itu dari area berkumpul teman-teman.
Aku : “Ayo kita liat!!.”
Riski : “Jangan Leh, itu suara om-om yang sering mengambil hasil
ngamen kita, jika nanti mereka tahu bahwa disini ada anak baru maka kamu juga
akan di buat seperti itu. Kita liat dari arah jauh saja.”
Sudah 1 jam aku merenungkan apa yang telah diucapkan Riski padaku.
Keputusanku untuk menjadi seorang pengamen tidak dapat mengalahkan omongan
Riski. Mungkin menyanyi dan bermain gitar sudah menjadi hobiku sejak dulu.
1 miggu kemudian aku sudah lupa akan pernyataan Riski kemarin.
Dibawah teriknya matahari dibawah flay over aku beradu kekuatan dengan
seseorang yang mengambil hasil ngamenku. Aku teringat bahwa orang itu adalah
orang yang dimaksud Riski kemarin “kamu jangan sampai mendekatinya.” aku ingat
kata-kata itu. Semakin aku mengingat peringatan Riski kepada diriku, semakin
lemas tubuhku untuk melanjutkan perkelahian ini. Kakiku tak kuat untuk menopang
sendiri tubuhku. “Cetar” terakhir aku hanya mendengar senar gitarku putus, dan
selanjutnya aku tak sadarkan diri.
Rio yang menemukanku terbaring disini dengan gitar kecil yang
berada di sebelah kanan tanganku. Meski kaki tak mampu untuk berdiri, mulut tak
sanggup berbicara, tangan yang sulit bergerak, aku tidak merasakan sakit sama
sekali kecuali hatiku yang putus asa seperti senar yang selama ini aku petik
dan gitar kecil pemberian ibuku rusak didepan mataku. Aku sangat kecewa dengan
apa yang telah menimpa diriku. Alat musik itu memiliki banyak kenangan dengan
ayah, tersimpan pengorbanan ibu yang luar biasa, tangis dan tawa teman-teman
saat mengamen bersama. Jika aku menyerahkan uang kepada orang-orang itu pasti
gitar kecilku tidak akan rusak seperti ini.
Perjalanan kerumah ada sebuah mobil yang mengikutiku dari belakang.
Ternyata itu adalah pak Budi pemilik stasiun radio Gita Nada dikotaku. Stasion
radionya sangat terkenal, banyak iklan yang meniklankan usahanya kesana.
Pak Budi :”Saudara Galih?.”
Aku : “Iya, benar pak.”
Aku tak menyangka bahwa pak Budi ini akan mengajakku rekaman di
radionya. Pak Budi telah mendapatkan informasi tentang diriku melewati media
elektronik. Seseorang yang telah mengambil gambar dan suaraku saat mengamen
pada akhirnya pak Budi tertarik untuk bekerja sama denganku.
Aku dibawah ke kota bersama ibu dan adikku. Sekarang aku tinggal
disini. 2 minggu ke kota, aku merasakan kangen pada teman-temanku yang dulu
sering ngamen bersamaku. Aku putuskan kesana dengan membawah gitar kecilku. Tak
usahku cari mereka sedang apa dan dimana. Biasanya jam segini mereka dibawah
pohon mangga. Tiba-tiba terlantun tanpa sengaja aku menyanyikan sebuah lagu
ciptaan Dhyo Prastyo dengan memainkan gitar kecil.
Aku : “Gue ini bekarya, bukan Cuma mau buang waktu saja, ini juga
pekerjaan namanya menghibur orang besar pahalanaya”
Rio : “Ooo. . . Gitar, adalah temanku, dia tak bisa bicara, tapi
dia bisa menghasilkan apa yang sekarangku punya.”
Adit : “Keluarga, adalah
harta berharga, mereka yang slalu haturkan do’a, disaatku diluar rumah jauh
dari marah bahaya.”
Riski : “Teemannku . . . adalah darahku, mereka yang selalu
membawahku dalam suka maupun duka mereka hilangkan semua problema dari dunia
fana. . . . dari dunia yang keras. . . dunia yang harus bertarung melawan semua
yang ada didepan mata.”
Aku dan teman-teman : “Walau gue ngak punya, tapi gue ini jujur apa
adanya, dari pada eloh yang berpura-pura, jadi orang kaya padahal cuma bisa
habisin harta orang tua.”
Komentar