Hujan Malam Akhir Pekan

Gambar
Photo: Dendysky, 2022 oleh Penulis Pagi ini muncul notifikasi dari laki-laki milik ibunya yang kucintai. Ehh, aku bingung soal cinta dan tak cukup pandai perihal tersebut. Ucapan permohonan maaf yang sering diulang setiap pagi dan esok paginya. Kadang aku, kadang juga laki-laki milik ibunya. Sayang, bolehkah aku memanggilmu seperti itu?. Rasanya pun canggung bila diucapkan dengan perasaan mendalam. Tapi, logatku yang biasanya slengek an alias peringisan membuat kata sayang tak segan-segan keluar. Notif, notifikasi itu kubiarkan menganga. Sebab masing-masing kita hancur dan sadar. Aku diam, kau pun tidur. Siang, kusimak linimasa milikmu, beberapa menit online. Aku diam. Itu berlaku sampai sore menjelang pulang kerja. Sore, aku yakin dengan sepenuh jiwa bahwa kau memberanikan diri untuk menghubungi lewat whats app. Lalu berakhir dengan kericuhan dan maaf untuk segala amarah, sayang.

gitar kecil



Gitar Kecilku
ay-nie
Jika seseorang telah sukses masa depannya itu adalah karena masa lalunya. Kini semua telah berubah. Hidupku tak lagi disamping rel kereta api itu lagi, melainkan disebuah ruangan yang mewah tepat berada di atas gedung pencakar langit. Tak usah repot untuk berjalan kaki kepanasan ataupun dikejar-kejar orang untuk menyetorkan uang hasil jerih payahku. Sekarang, aku dapat membanggakan seorang ibu yang dulu sempat menginginkan aku untuk memakai seragam sekolah. Untukmu ibu, semua yangku miliki ini tidak ada gunanya tanpa do’a restu darimu.
Namaku Galih, atau yang biasanya akrab di sapa Galeh. aku berumur 7 tahun saat itu. Rumahku tak jauh dari stasiun tua yang tidak lagi difungsikan. Disana banyak anak-anak seumuranku yang bernasib sama sepertiku. Mereka semua memiliki keinginan yang sama yaitu bersekolah. Tetapi, tak ada satupun dari kami yang pernah duduk dibangku sekolah kecuali temanku yang bernama Rio. Ia duduk dibangku sekolah selama 2 tahun, setelah itu ia tidak melanjutkan lagi dikarenakan keluarganya tak mampu untuk membayar biaya sekolah. Kami menhgabiskan waktu dengan bermain dan bermain. Hingga umurku mencapai 10 tahun, aku baru sadar bahwa aku tidak bisa terus-terusan seperti ini sebaiknya ada sesuatu yang bisa dibanggakan, seperti membantu ibu untuk menyekolahkan adikku yang baru berumur 4 tahun. Ia harus lebih baik dariku, duduk dibangku sekolah dan menuntut ilmu hingga prestasi. Ku berniat untuk bekerja serabutan di pasar yang jaraknya lumayan jauh dengan tempat tinggalku.
Pagi ini aku tawarkan tenagaku di toko milik pak Subandi, tokonya menjual barang-barang pangan seperti beras, jagung, minyak, gula dan lain sebagainya. Ternyata pak Subandi menerima tenagaku hanya untuk menjaga toko agar tetap bersih atau bisa dibilang aku seorang penyapu toko
Aku : “Capek juga ternyata, nyapu toko sebesar ini.”
Aku tak sengaja mengucap kalimat itu, ternyata pak Subandi mengamatiku dari kejauhan. Aku sempat ketakutan melihat wajah beliau yang menatapku, berlahan kaki pak Subandi melangkah menuju kursi yang tepat berada di depanku.
Pak Subandi : “Leh, kamu itu masih muda, seharusnya semangatmu itu melebihi bapak Leh.”
Aku : “Iya pak, saya juga ngak pingin terus-terusan jadi penyapu toko atau nanti giliran aku yang memiliki toko seperti bapak ini.”
Pak Subandi dengan tersenyum dan mengatakan “Itu baru semangat muda.”
3 bulan kemudian aku beralih profesi. Mengingat tabunganku sudah banyak dan cukup untuk membelikan adik sebuah sepatu dan gitar kecil atau yang biasanya disebut kentrung, yang menjadi keinginanku semenjak aku bekerja di toko pak Subandi. Uang pembelian kentrung tersebut sebenarnya sebagian besar menggunakan uang ibu, sebab uangku tidak mencukupi untuk membeli barang semahal itu. Sebenarnya ibu telah melarangku untuk membelikan adik sebuah sepatu, tetapi itu sudah menjadi tangggunganku agar adik bisa bersekolah menggunakan sepatu seperti teman-temnya yang lain. Ngak perlu waktu lama untuk diriku menguasa kentrung tersebut karena sebelum bapak wafat dulu sering mengajarkanku cara memainkanya. Lagu yang seringku nyanyikan menggunakan kentrung adalah lagu berjudul gue apa adanya ciptaan Dhyo Prasetyo.
Aku memutuskan untuk menjadi pengamen jalanan, selain jarang seseorang yang memakai peofesi tersebut untuk bekerja memudahkan diriku untuk menghasilan uang yang banyak. Aku mengamen di jalan besar bersampingan dengan pasar yang dulu seringku lewati ketika masih bekerja ditoko pak Subandi.
Rio : “Hai Leh.” Sambut Rio kepada Galih.
Ternyataa disana sudah ada Rio yang berprofesi sebagai pengamen. Aku kira disini hanya ada aku dan mobil-mobil mewah. ehhh.... ternyata!!! Bukan hanya Rio, aku, ataupun mobil-mobil mewah itu, disana juga ada Adit, Riski, Rizal, Kenza. Banyak anak-anak yang seumuran dengaku. Tapi buat apa ia semua mengumpul disini. Bukanya malah mencari uang malah berkumpul disini.
Aku : “Ehh Rio, dari tadi?.”
Rio : “Lumayan, kamu baru menjadi pengamen ya Leh?.”
Aku : “Iy...” belum sempat aku menjawab pertanyaan Rio. Riski sudah menyeretku keluar dari area itu.
Riski : “Cepet sedikit Leh!! Atau kamu akan bernasib sama seperti aku dan yang lain. Ayo Leh!!. Dengan epat Riski menyeret tanganku.
Aku tak mengerti apa yang disampaikan oleh Riski kepadaku. Tapi cara Riski menyampaikan omanagnya kepadaku menandakan bahwa ia cepat-cepat ingin meyampaikan suatu hal penting kepada diriku. Ternyata Riski mengajakku bersembunyi dan mengatakan suatuhal kepada diriku.
Riski : “Leh, kamu ini anak baru disini, jadi aku mohon jangan mudah percaya dengan ajakan atau omongan orang lain kecuali aku ataupun Rio teman baikmu. Karena tempat ini penuh dengan pertumpahan darah. Kamu liat orang yang berdiri disana memakai baju hitam bertopi?. Amati orang itu!. Dia adalah oarang yang selalu mengambil hasil ngamen kami. Dan kamu pasti bertanya-tanya tentang sedang apa kita tadi berkumpul disana?. Kami berkumpul disana untuk pembagian tugas. Ingat satu hal bahwa kamu jangan mendekati orang-orang itu atau kamu akan bernasib sama sepertiku.”
“Braakk....” suara itu dari area berkumpul teman-teman.
Aku : “Ayo kita liat!!.”
Riski : “Jangan Leh, itu suara om-om yang sering mengambil hasil ngamen kita, jika nanti mereka tahu bahwa disini ada anak baru maka kamu juga akan di buat seperti itu. Kita liat dari arah jauh saja.”
Sudah 1 jam aku merenungkan apa yang telah diucapkan Riski padaku. Keputusanku untuk menjadi seorang pengamen tidak dapat mengalahkan omongan Riski. Mungkin menyanyi dan bermain gitar sudah menjadi hobiku sejak dulu.
1 miggu kemudian aku sudah lupa akan pernyataan Riski kemarin. Dibawah teriknya matahari dibawah flay over aku beradu kekuatan dengan seseorang yang mengambil hasil ngamenku. Aku teringat bahwa orang itu adalah orang yang dimaksud Riski kemarin “kamu jangan sampai mendekatinya.” aku ingat kata-kata itu. Semakin aku mengingat peringatan Riski kepada diriku, semakin lemas tubuhku untuk melanjutkan perkelahian ini. Kakiku tak kuat untuk menopang sendiri tubuhku. “Cetar” terakhir aku hanya mendengar senar gitarku putus, dan selanjutnya aku tak sadarkan diri.
Rio yang menemukanku terbaring disini dengan gitar kecil yang berada di sebelah kanan tanganku. Meski kaki tak mampu untuk berdiri, mulut tak sanggup berbicara, tangan yang sulit bergerak, aku tidak merasakan sakit sama sekali kecuali hatiku yang putus asa seperti senar yang selama ini aku petik dan gitar kecil pemberian ibuku rusak didepan mataku. Aku sangat kecewa dengan apa yang telah menimpa diriku. Alat musik itu memiliki banyak kenangan dengan ayah, tersimpan pengorbanan ibu yang luar biasa, tangis dan tawa teman-teman saat mengamen bersama. Jika aku menyerahkan uang kepada orang-orang itu pasti gitar kecilku tidak akan rusak seperti ini.
Perjalanan kerumah ada sebuah mobil yang mengikutiku dari belakang. Ternyata itu adalah pak Budi pemilik stasiun radio Gita Nada dikotaku. Stasion radionya sangat terkenal, banyak iklan yang meniklankan usahanya kesana.
Pak Budi :”Saudara Galih?.”
Aku : “Iya, benar pak.”
Aku tak menyangka bahwa pak Budi ini akan mengajakku rekaman di radionya. Pak Budi telah mendapatkan informasi tentang diriku melewati media elektronik. Seseorang yang telah mengambil gambar dan suaraku saat mengamen pada akhirnya pak Budi tertarik untuk bekerja sama denganku.
Aku dibawah ke kota bersama ibu dan adikku. Sekarang aku tinggal disini. 2 minggu ke kota, aku merasakan kangen pada teman-temanku yang dulu sering ngamen bersamaku. Aku putuskan kesana dengan membawah gitar kecilku. Tak usahku cari mereka sedang apa dan dimana. Biasanya jam segini mereka dibawah pohon mangga. Tiba-tiba terlantun tanpa sengaja aku menyanyikan sebuah lagu ciptaan Dhyo Prastyo dengan memainkan gitar kecil.
Aku : “Gue ini bekarya, bukan Cuma mau buang waktu saja, ini juga pekerjaan namanya menghibur orang besar pahalanaya”
Rio : “Ooo. . . Gitar, adalah temanku, dia tak bisa bicara, tapi dia bisa menghasilkan apa yang sekarangku punya.”
 Adit : “Keluarga, adalah harta berharga, mereka yang slalu haturkan do’a, disaatku diluar rumah jauh dari marah bahaya.”
Riski : “Teemannku . . . adalah darahku, mereka yang selalu membawahku dalam suka maupun duka mereka hilangkan semua problema dari dunia fana. . . . dari dunia yang keras. . . dunia yang harus bertarung melawan semua yang ada didepan mata.”
Aku dan teman-teman : “Walau gue ngak punya, tapi gue ini jujur apa adanya, dari pada eloh yang berpura-pura, jadi orang kaya padahal cuma bisa habisin harta orang tua.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan Malam Akhir Pekan

Muak

Hilangnya Kesadaran yang Menyenangkan