Pesan Terakhir
Setiap purnama menampakkan cahaya di ujung pulau pesisir. Dimana kulihat
pohon kelapa memanggil mengajak menari dan terbang keangkasa menyentuh bulan
purnama. Burung berlarian dibawah langit diatas laut. Hari mulai gelap tak ada
suara yang dapat mengusik kedamaian laut malam. Aku berjalan kearah bulan
dengan kaki terbuka tanpa alas. Singgah disebuah perahu nelayan berwarn merah
keorenan, sebab purnama mengirimkan cahaya diperahu pesiar. Metaku terarah ke
atas lautan, disana kudengar purnama berkata “ ikhlaskan yang telah pergi dan
jangan mencarinya lagi, Tuhan pasti menggantikan dengan yang lebih baik”. Aku
berlari dan ingin meninggalkan purnama sendiri karena aku tak sanggup lagi
memandang dengan penuh air mata. Kalimat itu seakan menyayat hatiku yang sedang
terluka.
“Apa yang sedang kau lakukan anak muda?” seorang lelaki rentang
menghampirinya.
“Aku sedang mencari perdamaian disini, lautan dan pasir sudah
sering menemani dan menghiburku” jawab perempuan.
“Lautan ataupun pasir yang telah menghiburmu? Lautan hanya berisi
air biru sedangkan pasir yang kau injak adalah bekas dari bangkai kehidupan
manusia” berjalan meninggalkan lautan.
Ingin aku bertanya kenapa lelaki tua mengatakan itu semua kepada
diriku. Apakah maksud bekas bangkai kehidupan?. Entah, pertanyaan semacam apa
yang ku risaukan.
“Hei kawan, kenapa dengan mukamu?” memandang keheranan.
“Ada apa dengan mukaku?” tanya Dinda.
“Merah, seperti orang kesurupan” dengan tertawa Nita meledeknya.
“Apaan sih Nit” kesal Dinda.
“Sudah-sudah jangan ribut. Kita sudah telat 2 menit nih” bentak
Resya
Kami bertiga ada janji dengan kepala perpustakaan untuk mengambil
buku pesanan dari Bogor untuk tugas Statistika. Diperjalanan menuju ke
perpustakaan kota tiba-tiba handphone Nita berbunyi. Pandangan Nita seperti
orang gelagapan yang cepat-cepat menyembunyikan suara handphonenya. Aku dan
Resya tak memperdulikan suara handphone itu, kami melanjutkan obrolan didalam
mobil lagi. Selang beberapa menit handphone itu berbunyi kembali, Resya
menyuruh Nita untuk mengangkat handphone karena siapa tahu telfon dari orang
penting.
“Kenapa Nit?” tanya Resya.
“Ngak Res, telfon dari si bawel saja. Aku sedang bertengkar
dengannya jadi males untuk jawab telfonnya” pinta Nita.
Aku tak pikir panjang saat itu, difikiranku bawel adalah nama
seseorang yang selama ini dekat dengan Nita dan masih disembunyikan dari kami.
Hingga tiba di halaman perpustakaan pusat, Nita meminta agar mobilku
diparkirkannya. Aku tak mengerti dengan tingkahnya yang seaneh ini. Aku dan
Resya langsung menuju kedalam untuk memeriksa buku pesanan dari Bogor.
Tak pelu waktu lama untuk mengecek dan mengambil bukunya karena
buku yang dikirim sesuai dengan ketentuan yang kami sepakati. Nita tak kunjung
masuk kedalam perpustakaan. Handphonenya masih sibuk dihubungi, mungkin Nita
masih menerima telfon dari seseorang yang disembunyikan dari kami berdua. Aku
dan Resya mewajarkan tentang hal itu, karena Nita adalah anak yang tertutup
dalam hal apapun tetapi percayalah bahwa Nita adalah sahabat karib yang hingga
sekarang masih mau menemani diriku.
Kemudian Resya memutuskan untuk kembali kedalam, hingga Nita bisa
diketahui posisinya sekarang dimana. Sambil menunggu Nita, aku mengajak Dinda
untuk mencari buku atau hanya sekedar baca-baca novel didalam. Aku faham bahwa
sahabtku yang satu ini adalah type orang yang tak suka membaca, tetapi jangan salah
menilai. Resya adalah anak terpandai dalam bidang statistik dan pernah
menjuarahi lomba statistik se nusantara.
Awan telah tersapu bersih oleh angin dan digantikan oleh mendung
yang tepat berada diatas kepala. Perpustakaan yang mulai sepi pengunjung dan
Nita belum dapat dihubungi. Aku menuju ketempat parkir mobil yang telah sepi
kendaraan. Hanya bebrapa kendaraan bermobil yang masih terpajang dilorong halaman.
Resya mencoba bertanya dengan petugas keamanan setempat.
“Sore pak, permisi. Kami mau tanya, apakah tadi bapak melihat mobil
hijau yaang biasanya kami kendarai bertiga?” tanya Resya.
“Tadi siang saya melihat seseorang menyetir mobil mbak Dinda keluar
dari perpustakaan” jawab pak satpam.
“Terima kasih pak” Pinta Dinda.
Hampir semua petugas diperpustakaan pusat mengenal kami bertiga hal
itu disebabkan karena kami yang paling sering mengunjungi perpustaakaan maupun
pesan barang disini. Dari mulai penjaga parkir, tukang kebun, petugas
kebersihan dan oprasional perpustakaan pusat juga mengenal kami bertiga.
Akhirnya aku bosan menunggu Nita dan Resya merasakan kekosongan
pada perutnya. Kita menuju kehalte umtuk mencari taxi disana. Dalam perjalanan
aku melihat Dimas dengan Diki yang sedang makan disebuah warung langganan. Aku mencoba
memanggil tapi tak terdengar olehnya, Resya mengajakku untuk menghampiri dan
sekalian mengisi perut.
Tak terasa kami sudah mengobrol dengan mereka berdua selam 1 jam.
Hujan turun mengguyur kota kami. Aku yang menceritakan kejadian ini dengan
mereka berdua kemudian dengan polosnya Dimas mengajak diriku dan Resya agar
naik ke dalam mobilnya. Dimas dan Diki adalah kawan baru kami saat mengikuti
porseni di Bali. Baru 3 hari yang lalu kami bisa akrab layaknya saudara
sendiri.
Diperjalanan menuju rumah, Resya tak henti-hentinya menghubungi
Nita yang entah sekarang keadaanya seperti apa. Akhirnya dipapnggilan yang
ketujuh inilah Nita menjawab telfon dari Resya. Syukurlah ternyata Nita
baik-baik saja dan ia akan segera menuju kerumah.
“Hey, ada apa Din?” kaget Diki.
“Hhh, ndak Dik. Oh ya nanti mampir masuk ya. Lagian kalian
berduakan belum tahu rumah kami!” ajak Dinda.
“Kalian bertiga tinggal seatap?” tanya Dimas
“Iya Dim.”
Tiba dirumah hujan masih deras akhirnya Dimas dan Diki mampir untuk
istirahat kedalam. Nita belum pulang dan Resya menuju kedapur untuk
mengambilkan beberapa snack dan jus buah kesuakaan kami semua. Ditengah-tengah
pembicaraan kami, Nita menampakkan dirinya dengan wajah seperti orang ketakutan
saat melihatku.
“Kenalkan ini Dimas dan Diki teman kita saat porseni di Bali” ucap
Dinda.
“Hai Nita” balas Dimas dengan berjabah tangan.
Hujan telah reda Dimas dan Diki pamit untuk pulang. Handphoneku
bergetar dan ternyata Kevin telah memanggil berulang kali. Ia juga mengirimkan
pesan singkat kepadaku bahwa ia akan mengajak makan malam di cafe biasannya.
Aku membalas pesan singkatnya untuk memastikan bahwa ajakan itu bisa kuterima.
Diruang tamu Nita dan Resya sedang asyik menyiapkan menumakan
malam. Entah mereka berdua mengobrol tentang apa sehingga suaranya sampai ke
kamarku. Aku tak dapat berkonsentrasi penuh untuk mengerjakan tugas sekolah.
Ada pikiran negatif terhadap Nita. Pertama aku pernah mempergoki Nita yang
sedang makan malam dengan seorang pria, kedua Kevin yang sering menajak Nita
nonoton dibanding mengajak diriku. Ketiga Nita pernah mengangkat telvon Kevin
dengan sembunyi-sembunyi. Seharusnya diriku tak berfikiran seperti itu, apalagi
terhadap sahabat dan pacar sendiri. Aku tak berani menceritakan hal ini kepada
Resya, karena aku mengerti bahwa beban hidup yang ditanggungnya lebih besar
dari pada diriku.
Tok tok tok...
“Din, ada kevin tuh.” pinta Resya.
“Iya bentar.”
Aku menuju kedepan untuk menemui Kevin, saat aku menuju kedepan
terlihat bayangan seorang wanita disampingnya. Bayangan itu seakan-akan
mendekati Kevin dan langsung memeluknya. Aku melangkah pelan untuk menuju
kearah mereka berdua, ternyata bayangan itu adalah Nita. Aku tak dapat
membendung air mata, seakan sedihku, kekecewaanku terhadap teman kecil
membeludak malam ini juga. Aku ingin memanggil mereka dengan senyuman manis, tapi
buat apa toh juga kejadian malam ini menyiksa batinku. Aku ingin memutuskan
tali persahabatan ini, tapi buat apa memutus persahabatan untuk seorang pria
brengsek seperti Kevin. Keraguanku dikamarku menjadi kenyataan saat ini, aku
tak ingin melihat mereka berdua dan ingin pergi jauh menyusul mama ke Eropa.
Ternyata langkah kakiku yang meninggalkan pemandangan luar
terdengar oleh Resya, aku berlari menuju kamar. Dibelakangku Resya sudah
menampakkan dirinya dengan beribu pertanyaan saat melihat isak tangisku. Aku
menceritakan semua kepada Resya tentang kecurigaanku dan terbukti pada malam
hari ini. Resya memelukku dengan penuh kasih sayang. Pelukan tersebut
menyadarkan diriku bahwa masih ada sahabat terbaikku Resya, aku tak ingin
meninggalkan rumah ini.
“Temui saja Kevin, kalian berdua ingin pergi berduakan? Aku tahu
Din pasti perasaanmu saat ini sedang kacau. Coba bicarakan masalah ini dengan
Kevin sebelum kamu kegabah dengan kejadian malam ini. ingat pesanku jangan
memperlihatkan kepadanya bahwa kamu telah mengetahui hubungannya dengan Nita.”
saran Resya.
“Res, disini aku hanya memiliki dirimu. Aku hanya percaya kepadammu
dan tolong bimbing aku untuk menyelesaikan masalah ini tanpa ada yang dilukai.”
Pesanku
“Jangan putus asa. Aku hanya dapat menyarankan langkahmu tetapi
semua pilihan tetap ada pada dirimu Din. Sekarang pergilah dan temui Kevin,
jangan sampai terlihatan jika kamu telah mengetahui hubungannya dengan Nita.”
“Do’akan aku Res!.”
“Pasti.”
Aku menghilang ditelan kemacetan malam. Tak ada sekata patahpun
dariku maupun Kevin. Kukirasa Kevin juga merasakan hal yang sama denganku.
Tentang apa yang sudah ia perbuat didepan rumah.
“Din, mau pesan apa?” sambil menunjukkan buku menu.
“Seperti biasanya aja Vin” menghadap layar gaget.
“Kamu kenapa sih Din, bete banget sama gue” tanya Kevin
“Kamu menyembunyikan sesuatu dari diriku Vin?” dengan wajah heran
“Ndaklah Din buat apa menyembunyikan sesuatu darimu. Ujungnya juga
bakal ketahuan”
Meja didepan kami seakan tak berpenghuni. Selang beberapa menit
Kevin menawarkan permainan Tebak koin. Lama kelamaan aku sendiri terbawah oleh
permainan tersebut.
“Kalah, sekarang jawab pertanyaanku” Kevin.
“hmm” dengan tersenyum.
“Pantai?”
“Pekan nanti aku akan berlibur dengan sahabatku di Krakal
Jogjakarta. Ganti aku” lempar koin
“yes, menang lagi. Jawab pertanyaanku dengan benar ya Din! Cinta?”
tanya Kevin dengan senyuman manjanya dan pandangan yang indah.
“Seseorang yang dapat merubah diriku menjadi lebih baik dan pastinya
dapat melindungi dan setia denganku”. Jawab Dinda
“Siapa?pasti aku termasuk” tanya Kevin
“Yakin bisa merubah diriku? Sudahlah giliran aku lagi!” lempar
koin.
“Yeah lemparan yang bagus. Dengar baik-baik pertanyaanku ya Kevin
sayang!! Nita?” dengan wajah sedikit mengledek.
“Pertanyaan apa itu? Sahabat kekasihku Dinda, polos. Hmm?? Apalagi
ya. Sudah deh”
“Oke jawaban yang menarik. Ayo giliranmu!. Yesss menang lagi”
sambil tertawa
“Bayangan yang ada didekat dirimu saat menjemputku dan memelukmu?”
“Maksudnya?” tanya Kevin
Dengan meninggalkan selembar kertas dan foto dimejanya. Dinda tak
ingin memperlihatkan butiran air dan langsung meninggalkan Kevin membiarkan ia
membaca surat yang berisi berakhirnya hubungan mereka.
Malam itu, dimana
ia sangat kecewa dengan sahabatnya dan disisi lain Dinda sangat merindukan
sosok sahabat seperti Resya. Ia berlari menuju pelabuhan. Dimana dulu ia
pertama kali mengenal Kevin, sosok pemuda tampan dan jenius. Seperti saat ini
ia tak memiliki pilihan lain selain meninggalkan semua kenangan.
Komentar