Hujan Malam Akhir Pekan

Gambar
Photo: Dendysky, 2022 oleh Penulis Pagi ini muncul notifikasi dari laki-laki milik ibunya yang kucintai. Ehh, aku bingung soal cinta dan tak cukup pandai perihal tersebut. Ucapan permohonan maaf yang sering diulang setiap pagi dan esok paginya. Kadang aku, kadang juga laki-laki milik ibunya. Sayang, bolehkah aku memanggilmu seperti itu?. Rasanya pun canggung bila diucapkan dengan perasaan mendalam. Tapi, logatku yang biasanya slengek an alias peringisan membuat kata sayang tak segan-segan keluar. Notif, notifikasi itu kubiarkan menganga. Sebab masing-masing kita hancur dan sadar. Aku diam, kau pun tidur. Siang, kusimak linimasa milikmu, beberapa menit online. Aku diam. Itu berlaku sampai sore menjelang pulang kerja. Sore, aku yakin dengan sepenuh jiwa bahwa kau memberanikan diri untuk menghubungi lewat whats app. Lalu berakhir dengan kericuhan dan maaf untuk segala amarah, sayang.

Pesan Terakhir



Pesan Terakhir
Setiap purnama menampakkan cahaya di ujung pulau pesisir. Dimana kulihat pohon kelapa memanggil mengajak menari dan terbang keangkasa menyentuh bulan purnama. Burung berlarian dibawah langit diatas laut. Hari mulai gelap tak ada suara yang dapat mengusik kedamaian laut malam. Aku berjalan kearah bulan dengan kaki terbuka tanpa alas. Singgah disebuah perahu nelayan berwarn merah keorenan, sebab purnama mengirimkan cahaya diperahu pesiar. Metaku terarah ke atas lautan, disana kudengar purnama berkata “ ikhlaskan yang telah pergi dan jangan mencarinya lagi, Tuhan pasti menggantikan dengan yang lebih baik”. Aku berlari dan ingin meninggalkan purnama sendiri karena aku tak sanggup lagi memandang dengan penuh air mata. Kalimat itu seakan menyayat hatiku yang sedang terluka.
“Apa yang sedang kau lakukan anak muda?” seorang lelaki rentang menghampirinya.
“Aku sedang mencari perdamaian disini, lautan dan pasir sudah sering menemani dan menghiburku” jawab perempuan.
“Lautan ataupun pasir yang telah menghiburmu? Lautan hanya berisi air biru sedangkan pasir yang kau injak adalah bekas dari bangkai kehidupan manusia” berjalan meninggalkan lautan.
Ingin aku bertanya kenapa lelaki tua mengatakan itu semua kepada diriku. Apakah maksud bekas bangkai kehidupan?. Entah, pertanyaan semacam apa yang ku risaukan.
“Hei kawan, kenapa dengan mukamu?” memandang keheranan.
“Ada apa dengan mukaku?” tanya Dinda.
“Merah, seperti orang kesurupan” dengan tertawa Nita meledeknya.
“Apaan sih Nit” kesal Dinda.
“Sudah-sudah jangan ribut. Kita sudah telat 2 menit nih” bentak Resya
Kami bertiga ada janji dengan kepala perpustakaan untuk mengambil buku pesanan dari Bogor untuk tugas Statistika. Diperjalanan menuju ke perpustakaan kota tiba-tiba handphone Nita berbunyi. Pandangan Nita seperti orang gelagapan yang cepat-cepat menyembunyikan suara handphonenya. Aku dan Resya tak memperdulikan suara handphone itu, kami melanjutkan obrolan didalam mobil lagi. Selang beberapa menit handphone itu berbunyi kembali, Resya menyuruh Nita untuk mengangkat handphone karena siapa tahu telfon dari orang penting.
“Kenapa Nit?” tanya Resya.
“Ngak Res, telfon dari si bawel saja. Aku sedang bertengkar dengannya jadi males untuk jawab telfonnya” pinta Nita.
Aku tak pikir panjang saat itu, difikiranku bawel adalah nama seseorang yang selama ini dekat dengan Nita dan masih disembunyikan dari kami. Hingga tiba di halaman perpustakaan pusat, Nita meminta agar mobilku diparkirkannya. Aku tak mengerti dengan tingkahnya yang seaneh ini. Aku dan Resya langsung menuju kedalam untuk memeriksa buku pesanan dari Bogor.
Tak pelu waktu lama untuk mengecek dan mengambil bukunya karena buku yang dikirim sesuai dengan ketentuan yang kami sepakati. Nita tak kunjung masuk kedalam perpustakaan. Handphonenya masih sibuk dihubungi, mungkin Nita masih menerima telfon dari seseorang yang disembunyikan dari kami berdua. Aku dan Resya mewajarkan tentang hal itu, karena Nita adalah anak yang tertutup dalam hal apapun tetapi percayalah bahwa Nita adalah sahabat karib yang hingga sekarang masih mau menemani diriku.
Kemudian Resya memutuskan untuk kembali kedalam, hingga Nita bisa diketahui posisinya sekarang dimana. Sambil menunggu Nita, aku mengajak Dinda untuk mencari buku atau hanya sekedar baca-baca novel didalam. Aku faham bahwa sahabtku yang satu ini adalah type orang yang tak suka membaca, tetapi jangan salah menilai. Resya adalah anak terpandai dalam bidang statistik dan pernah menjuarahi lomba statistik se nusantara.
Awan telah tersapu bersih oleh angin dan digantikan oleh mendung yang tepat berada diatas kepala. Perpustakaan yang mulai sepi pengunjung dan Nita belum dapat dihubungi. Aku menuju ketempat parkir mobil yang telah sepi kendaraan. Hanya bebrapa kendaraan bermobil yang masih terpajang dilorong halaman. Resya mencoba bertanya dengan petugas keamanan setempat.
“Sore pak, permisi. Kami mau tanya, apakah tadi bapak melihat mobil hijau yaang biasanya kami kendarai bertiga?” tanya Resya.
“Tadi siang saya melihat seseorang menyetir mobil mbak Dinda keluar dari perpustakaan” jawab pak satpam.
“Terima kasih pak” Pinta Dinda.
Hampir semua petugas diperpustakaan pusat mengenal kami bertiga hal itu disebabkan karena kami yang paling sering mengunjungi perpustaakaan maupun pesan barang disini. Dari mulai penjaga parkir, tukang kebun, petugas kebersihan dan oprasional perpustakaan pusat juga mengenal kami bertiga.
Akhirnya aku bosan menunggu Nita dan Resya merasakan kekosongan pada perutnya. Kita menuju kehalte umtuk mencari taxi disana. Dalam perjalanan aku melihat Dimas dengan Diki yang sedang makan disebuah warung langganan. Aku mencoba memanggil tapi tak terdengar olehnya, Resya mengajakku untuk menghampiri dan sekalian mengisi perut.
Tak terasa kami sudah mengobrol dengan mereka berdua selam 1 jam. Hujan turun mengguyur kota kami. Aku yang menceritakan kejadian ini dengan mereka berdua kemudian dengan polosnya Dimas mengajak diriku dan Resya agar naik ke dalam mobilnya. Dimas dan Diki adalah kawan baru kami saat mengikuti porseni di Bali. Baru 3 hari yang lalu kami bisa akrab layaknya saudara sendiri.
Diperjalanan menuju rumah, Resya tak henti-hentinya menghubungi Nita yang entah sekarang keadaanya seperti apa. Akhirnya dipapnggilan yang ketujuh inilah Nita menjawab telfon dari Resya. Syukurlah ternyata Nita baik-baik saja dan ia akan segera menuju kerumah.
“Hey, ada apa Din?” kaget Diki.
“Hhh, ndak Dik. Oh ya nanti mampir masuk ya. Lagian kalian berduakan belum tahu rumah kami!” ajak Dinda.
“Kalian bertiga tinggal seatap?” tanya Dimas
“Iya Dim.”
Tiba dirumah hujan masih deras akhirnya Dimas dan Diki mampir untuk istirahat kedalam. Nita belum pulang dan Resya menuju kedapur untuk mengambilkan beberapa snack dan jus buah kesuakaan kami semua. Ditengah-tengah pembicaraan kami, Nita menampakkan dirinya dengan wajah seperti orang ketakutan saat melihatku.
“Kenalkan ini Dimas dan Diki teman kita saat porseni di Bali” ucap Dinda.
“Hai Nita” balas Dimas dengan berjabah tangan.
Hujan telah reda Dimas dan Diki pamit untuk pulang. Handphoneku bergetar dan ternyata Kevin telah memanggil berulang kali. Ia juga mengirimkan pesan singkat kepadaku bahwa ia akan mengajak makan malam di cafe biasannya. Aku membalas pesan singkatnya untuk memastikan bahwa ajakan itu bisa kuterima.
Diruang tamu Nita dan Resya sedang asyik menyiapkan menumakan malam. Entah mereka berdua mengobrol tentang apa sehingga suaranya sampai ke kamarku. Aku tak dapat berkonsentrasi penuh untuk mengerjakan tugas sekolah. Ada pikiran negatif terhadap Nita. Pertama aku pernah mempergoki Nita yang sedang makan malam dengan seorang pria, kedua Kevin yang sering menajak Nita nonoton dibanding mengajak diriku. Ketiga Nita pernah mengangkat telvon Kevin dengan sembunyi-sembunyi. Seharusnya diriku tak berfikiran seperti itu, apalagi terhadap sahabat dan pacar sendiri. Aku tak berani menceritakan hal ini kepada Resya, karena aku mengerti bahwa beban hidup yang ditanggungnya lebih besar dari pada diriku.
Tok tok tok...
“Din, ada kevin tuh.” pinta Resya.
“Iya bentar.”
Aku menuju kedepan untuk menemui Kevin, saat aku menuju kedepan terlihat bayangan seorang wanita disampingnya. Bayangan itu seakan-akan mendekati Kevin dan langsung memeluknya. Aku melangkah pelan untuk menuju kearah mereka berdua, ternyata bayangan itu adalah Nita. Aku tak dapat membendung air mata, seakan sedihku, kekecewaanku terhadap teman kecil membeludak malam ini juga. Aku ingin memanggil mereka dengan senyuman manis, tapi buat apa toh juga kejadian malam ini menyiksa batinku. Aku ingin memutuskan tali persahabatan ini, tapi buat apa memutus persahabatan untuk seorang pria brengsek seperti Kevin. Keraguanku dikamarku menjadi kenyataan saat ini, aku tak ingin melihat mereka berdua dan ingin pergi jauh menyusul mama ke Eropa.
Ternyata langkah kakiku yang meninggalkan pemandangan luar terdengar oleh Resya, aku berlari menuju kamar. Dibelakangku Resya sudah menampakkan dirinya dengan beribu pertanyaan saat melihat isak tangisku. Aku menceritakan semua kepada Resya tentang kecurigaanku dan terbukti pada malam hari ini. Resya memelukku dengan penuh kasih sayang. Pelukan tersebut menyadarkan diriku bahwa masih ada sahabat terbaikku Resya, aku tak ingin meninggalkan rumah ini.
“Temui saja Kevin, kalian berdua ingin pergi berduakan? Aku tahu Din pasti perasaanmu saat ini sedang kacau. Coba bicarakan masalah ini dengan Kevin sebelum kamu kegabah dengan kejadian malam ini. ingat pesanku jangan memperlihatkan kepadanya bahwa kamu telah mengetahui hubungannya dengan Nita.” saran Resya.
“Res, disini aku hanya memiliki dirimu. Aku hanya percaya kepadammu dan tolong bimbing aku untuk menyelesaikan masalah ini tanpa ada yang dilukai.” Pesanku
“Jangan putus asa. Aku hanya dapat menyarankan langkahmu tetapi semua pilihan tetap ada pada dirimu Din. Sekarang pergilah dan temui Kevin, jangan sampai terlihatan jika kamu telah mengetahui hubungannya dengan Nita.”
“Do’akan aku Res!.”
“Pasti.”
Aku menghilang ditelan kemacetan malam. Tak ada sekata patahpun dariku maupun Kevin. Kukirasa Kevin juga merasakan hal yang sama denganku. Tentang apa yang sudah ia perbuat didepan rumah.
“Din, mau pesan apa?” sambil menunjukkan buku menu.
“Seperti biasanya aja Vin” menghadap layar gaget.
“Kamu kenapa sih Din, bete banget sama gue” tanya Kevin
“Kamu menyembunyikan sesuatu dari diriku Vin?” dengan wajah heran
“Ndaklah Din buat apa menyembunyikan sesuatu darimu. Ujungnya juga bakal ketahuan”
Meja didepan kami seakan tak berpenghuni. Selang beberapa menit Kevin menawarkan permainan Tebak koin. Lama kelamaan aku sendiri terbawah oleh permainan tersebut.
“Kalah, sekarang jawab pertanyaanku” Kevin.
“hmm” dengan tersenyum.
“Pantai?”
“Pekan nanti aku akan berlibur dengan sahabatku di Krakal Jogjakarta. Ganti aku” lempar koin
“yes, menang lagi. Jawab pertanyaanku dengan benar ya Din! Cinta?” tanya Kevin dengan senyuman manjanya dan pandangan yang indah.
“Seseorang yang dapat merubah diriku menjadi lebih baik dan pastinya dapat melindungi dan setia denganku”. Jawab Dinda
“Siapa?pasti aku termasuk” tanya Kevin
“Yakin bisa merubah diriku? Sudahlah giliran aku lagi!” lempar koin.
“Yeah lemparan yang bagus. Dengar baik-baik pertanyaanku ya Kevin sayang!! Nita?” dengan wajah sedikit mengledek.
“Pertanyaan apa itu? Sahabat kekasihku Dinda, polos. Hmm?? Apalagi ya. Sudah deh”
“Oke jawaban yang menarik. Ayo giliranmu!. Yesss menang lagi” sambil tertawa
“Bayangan yang ada didekat dirimu saat menjemputku dan memelukmu?”
“Maksudnya?” tanya Kevin
Dengan meninggalkan selembar kertas dan foto dimejanya. Dinda tak ingin memperlihatkan butiran air dan langsung meninggalkan Kevin membiarkan ia membaca surat yang berisi berakhirnya hubungan mereka.
Malam itu, dimana ia sangat kecewa dengan sahabatnya dan disisi lain Dinda sangat merindukan sosok sahabat seperti Resya. Ia berlari menuju pelabuhan. Dimana dulu ia pertama kali mengenal Kevin, sosok pemuda tampan dan jenius. Seperti saat ini ia tak memiliki pilihan lain selain meninggalkan semua kenangan.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan Malam Akhir Pekan

Muak

Hilangnya Kesadaran yang Menyenangkan