Mahkota Mawar Yang Terjatuh
Tak ada sepatah kata yang dapat diucapkan, angin seakan marah
melihatnya, langit menagis mengeluarkan air mata. Sunyi dan hening, tak ada
suara apapun yang terdengar. Gelap
gulita yang kini dirasa. Kulit meanahan dingin, helain kain menjadi selimut,
kamar kosong membawah pertanda bahwa kehidupan tak lagi ada. Aku meninggalkan
sebuah surat dikolong meja kecil
belajarku. Sebuah surat yang akan diterima oleh kekasihku. Hingga tiba saatnya
ketika mata tak sanggup ku buka, udara tak sanggup kurasa, hanya sepasang
telinga yang mendengar bahwa ia masih mencintaiku.
Mawar ini sengaja ku petik untuk mengenang sebuah kisah bersamanya.
Fiqri adalah pemuda yang pernah menaklukkan hati seorang wanita bernama Dinda.
Awal cerita dimulai ketika awal masuk SMA di sebuah gedung teater, Fiqri
menyapa Dinda dengan senyuman manis Dinda membalasnya. Tak ada yang mengetahui,
bagaimana awal Fiqri menyatakan cintanya kepada Dinda. Bahkan Deri sahabat
Dinda tak mengetahui bahwa 6 bulan sebelum masuk di SMA Dinda sudah menjadi
milik Fiqri. Dinda selalu mengira bahwa cinta yang diberikan Fiqri kepadanya adalah
sebuah cinta rayuan semata, sebab tak mungkin Fiqri secepat itu melupakan
mantan kekasihnya dulu yang bernama Loni asal Belanda.
Setiap Dinda menanyakan suatu hal yang berkaitan dengan Loni, Fiqri
selalu badmot. Bahakan ia tak segan segan marah kepada Dinda hanya gara-gara
pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Otomatis saja Dinda ketakutan, karena
Dinda faham bahwa Fiqri itu sosok pemuda yang tegas dan memegang teguh
pendiriannya. Dinda takut jika Fiqri meninggalkannya. Sebenarnya penyebab Fiqri
meninggalkan Loni adalah kesombongan yang Loni miliki. Selama 1 bulan Fiqri
menahan malu kepada dirinya sendiri karena selama pacaran dengan Loni, Fiqri tidak
berhasil mengubah gaya kesombongan menjadi keluguan seperti yang dimliki oleh
Dinda.
“Fiq, nanti kamu pulang jam berapa?”. Tanya Dinda.
“Sepertinya aku pulang malam deh Din. Soalnya aku ada jadwal
bimbingan. Kamu ngak papakan pulang sendiri?”. Sambil memegang pundakku dan
berjalan menuju kantin.
“Ok, ngak masalah. Kamu mau makan apa biar aku pesankan?”.
“Aku minum saja Din, soalnya aku ngak bisa lama-lama disin”.
Sambil memsan Dinda berfikir “Ada apa dengan Fiqri hari ini?”.
Fiqri ingin memberikan kejutan kepada Dinda karena hari ini adalah hari
kemenagan perlombaan Fiqri. Mungkin tanpa adanya Dinda, Fiqri tak dapat
memenangkan pertandingan itu. Fiqri menjadi team disebuah club yang bernama
cycling channel Indonesia. Prestasi Fiqri dan Dinda memang tidak menonjol
diarea sekolahnya, tetapi keduanya sama-sama memiliki club di luar sekolah yang
hasilnya lebih membanggakan. Fiqri ikut team balap sepeda sedangkan Dinda
adalah ketua saka kalpataru di kotanya.
Saat perjalanan pulang Deri menghampiri Dinda yang sedang duduk
sendiri. Dinda sempat kaget melihat kedatangan Deri yang tiba-tiba. Saking
kagetnya Dinda menumpahkan sebuah es yang dibelikan Deri untuknya. Dikejauhan
Fiqri melihat kejadian tersebut hingga pada akhirnya Deri memegang lengan Dinda
untuk dibersihkan. Fiqir berlari mendatangi Dinda dan Deri, kemudian pukulan
tiba-tiba menyantap mukanya. Dinda terjatuh akibat dorongan Fiqri. Deri tak bisa
menerima dengan apa yang telah dilakukan Fiqri terhadap dirinya dan Dinda.
Dinda tak sanggup berdiri karena ia merasa pusing akibat benturan saat
terejatuh. Tak lama kemudian Lisa datang untuk membantunya, kemudian mereka
memisahkan antara Deri dengan Fiqri.
“Kamu ngak papakan Der?”. Tanya Dinda.
Fiqri yang melihat Dinda mengusap tangan Deri langsung meninggalkan
mereka bertiga. Fiqri cemburu melihat Dinda yang begitu perhatian dengan Deri
dibandingkan dengan dirinya. Lisa meninggalkan Deri dan Dinda karena ia merasa
bahwa tugas membatu Dinda telah usai.
“Sialan, kenapa tuh cowok datang-datang main pukul, ehh langsung pergi.
Ngak pakek minta maaf lagi”. Grutuh Deri.
“Udahlah, mungkin ia cemburu melihatmu bersamaku.” Ketawa sambil
menobati wajah Deri.
“Apa?? Cemburu??. Ngak salah dengar nih aku, emangnya ada yang
cemburu denganmu Din?”. Ledek Deri.
“Ehh, sialan loh Der”. Sambil memukul wajah Deri.
“Sakit tau Din, pelan-pelan napa!!”.
“Kamu sih pakek banyak omong”. Ketawa.
Fiqri tidak dapat konsentrasi penuh untuk menyiapkan kejutan
tersebut, ia terus membayangkan kejadian siang tadi dan memikirkan Dinda.
Ditengah-tengah berjalanan Dinda mendapat telfon dari Fiqri agar nanti malam
jam 18:30 mereka berdua keluar bersama. Sore itu juga Deri mengajak Dinda untuk
mencari buku baru di perpustakaan. Dinda tak dapat menolaknya karena dengan
siapa lagi ia sampai kerumah jika tak ada Deri.
Dari dulu Deri mencintai Dinda, bukan tidak berani atau takut untuk
menyatakan cintanya sebab dulu Deri pernah ditolak oleh Dinda dan menganggapnya
hanya sebagai teman dekat saja. Dinda tidak pernah berfikir lagi bahwa sampai
sekarang Deri masih menyimpan rasa kepadanya. Dinda selalu beranggapan bahwa
pemikiran Deri sama sepertinya, padahal pemikiran itu salah Deri masih
mencintai dan setia menunggu hingga Dinda mengerti tentang perasaan yang
dimiliki Deri. Deri belum menyadari bahwa orang yang berantem dengannya tadi
adalah kekasih Dinda. Dinda berkeinginan untuk memberitahu Deri akan
hubungannya dengan Fiqri, tetapi waktu tidak mengizinkan Dinda untuk berkata
kepadanya.
”Din, kamu lapar ngak?”. Tanya Deri.
“Tadi aku selesai makan Der, kamu lapar ya?”. Ledekan itu kembali
muncul di mulut Dinda.
“Ndaklah, aku kasihan saja melihat mu yang kurus seperti ini.
Jangan-jangan kamu tidak pernah di kasih uang jajan sama mama mu”. Tertawa.
“Udahlah, jangan mengejek terus, ayo pulang aku mau ada janji nih
jam 18:30”. Ajak Dinda.
“Ok tuan putri yang cerewet”. Sambil memegang rambut Dinda dan
tertawa.
Dinda sering pulang bareng bersama Deri saat Fiqri pulang malam.
Fiqri hahu bahwa Dinda sering pulang dengan sahabatnya, tetapi ia tak tahu
bahwa Derilah yang menjadi teman saat pulang sekolah. Dinda kira Fiqri
mengetahui bahwa Deri sahabatnya yang sering mengantarkan pulang, tetapi jika
dilihat dari kejadian sore sewaktu pulang sekolah sepertinya Fiqri belum
mengetahui soal Deri.
“Masuk dulu nak Deri”. Ajak tante Salma.
“Ayo Der!!”. Ajak Dinda.
“Iya iya”. Jawab Deri.
Keluarga Dinda sangat ramah sehingga tak butuh waktu lama untuk
mengenal satu persatu teman Dinda, begitu juga sebaliknya keluarga Dinda tak
butuh waktu lama untuk mengenal Deri. Karena Dinda sering bercerita tentang
satu sahabatnya itu kepada mamanya. Seperti rumah sendiri Deri langsung menuju
kemeja makan untuk numpang makan dirumah Dinda. Hal itu sudah sering ia lakukan
saat mampir kerumah Dinda. Dan biasanya mengantar Dinda sampai kerumah menjadi
alasan agar mendapatkan masakan lezat tante Salma. Dinda meninggalkan Deri
dengan mamanya karena ia harus bersiap-siap untuk pergi bersama Fiqri.
Jam sudah menujukkan pukul 18:15. Deri belum juga keluar dari rumah
karena asik mengobrol dengan tante Salma.
“Din, kamu nungguin siapa sih?”. Tanya Deri.
“Aku nunggu Fi...”.
Dinda tak dapat menjawab pertanyyan tersebut karena tante Salma
tiba-tiba memanggilnya. Akhirnya Deri pamit pulang kepada Dinda dan nitip salam
saja untuk mamanya. Tak lama kemudian Fiqri sudah didepan rumah, ia mengetuk
pintu berulang kali tetapi Dinda tak mendengarnya. Hingga akhirnya tante Salma
yang membuka pintu tersebut.
“Ehh nak Fiqri, silahkan masuk. Dinda masih ibu suruh membersihkan
meja makan didapur. Tunggu sebentar biar ibu panggilkan”. Dengan lembut tante
Salma mempersilahkan masuk.
“Iya tante”. Dengan mencium tangan tante Salma.
“Tadi teman Dinda baru saja nyampek kerumah buat makan malam
bersama, dia baru saja pulang”.
“Siapa tante?”. Tanya Deri.
“Ehh Fiqri, sudah dari tadi ya?. Maaf ya soalnya aku baru selesai
membersihkan meja makan”. Sambil memeluk tangan kanan Fiqri.
“Ndak, aku baru saja sampai kok”. Jawab Fiqri sambil mengelus
rambut Dinda.
“Tante, saya pamit dulu ya”. Sambil mencium tangan tante Salma.
Ternyata Deri belum pulang kerumah, ia mengamati Dinda digang depan
rumahnya. Ia ingin tahu siapa yang mengajak Dinda keluar sehingga ia
buruh-buruh cepat ingin pulang saat membeli buku. Padahal biasanya saat berada
didalam perpustakaan ia tak ingin cepat-cepat pulang, Deri membuntuti mereka
berdua. Ditengah perjalanan, bunga mawar yang telah disiapkan oleh Fiqri untuk
Dinda tiba-tiba terjatuh. Fiqri tersentak kaget sehingga motor yang dibawahnya
terguling menabrak trotoar jalan besar. Dinda dalam keadaan terpental 4 meter
dari Fiqri. Deri hanya mendengar suara gebrakan motor yang jatuh, ia tak
berfikir kalau itu motor yang ditumpangi oleh Dinda, karena ia berhenti untuk
mengambil mawar milik Fiqri yang terjatuh tadi. Sepertinya kepala Dinda
terbentur keras sehingga mengeluarkan banyak darah, kaki kanan Fiqri tak dapat
digerakkan, ia mengesot menuju kearah Dinda. Tak ada satu orangpun yang melihat
kecelakaan itu bahkan tak ada yang menolong Dinda dan Fiqri saat kejadian hanya
Derilah yang langsung meloncat saat mendengar Fiqri meminta tolong.
“Sampaikan salam kepada mama, agar ia tak usah khawatir tentang
kondisiku saat ini”. ujar Dinda kepada Fiqri.
“Dasar Bodoh, kenapa kau
malah diam dan menangis, Dinda butuh pertolongan”. Bentak Deri.
“Aku baik-baik saja Der, terima kasih banyak karena engkau selalu
menemaniku dan membuat mama tersenyum dengan tingkah lakumu yang selalu
konyol.” Dengan parau suara itu keluar dari mulut Dinda dan senyuman manis
terlihat diwajahnya.
“Din, kamu harus bisa bertahan. Aku akanmenolongmu”. Ucap Deri,
dengan memberikan sebuah mawar yang masih utuh kepada Fiqri.
“Din, maafkan aku, aku mengajakmu keluar hanya untuk merayakan
keberhasilanmu dan memberikan mawar ini untukmu. Kejadian ini tak terfikirkan
olehku”. Ujar Fiqri.
“Fiq, ada yang harus kamu ketahui. Kenapa aku kemarin sempat
menolong Deri dari pada dirimu karena Deri adalah sahabat terbaikku dan
tanganmu telah melukainya. Lalu untukmu Der, aku bangga mengenal orang baik
sepertimu dan waktu membuat diriku tidak dapat mengatakan semua tentang Fiqri
kepadamu”. Nafasnya tersendat-sendat dan memegang tangan Fiqri.
Fiqri hanya tercengang dan terus menangis, seakan ini dalam mimpi,
ia melihat dengan mata kepala sendiri kematian Dinda kekasihnya. Fiqri mencium
mawar itu dan memberikan kepada Dinda.
Mawar yang berwarna merah kini berubah menjadi putih. Warnanya
hilang bersama diri kekasihnya, Dinda.
BIODATA NARASI
Nama Qurrotul Aini lahir di Jombang tanggal 17 juli 1999. Sekolah
di SMA Negeri Mojoagung Jombang Jawa Timur. Alamat di ds. Catak Gayam
kec.Mojowarno kab. Jombang. Hobi saya menyanyi dan menulis. Hal-hal yang paling
saya sukai yaitu mendaki, obesrvasi, dan bersepeda. Harapan saya di tahun ini,
memenagkan lomba kepenulisan minimal 10 kali.
No hp: 085732581376
Fb : Qurrotul Aini (ay-nie)
Email: ainiqurrotul666@gmail.com
Komentar