Hujan Malam Akhir Pekan

Gambar
Photo: Dendysky, 2022 oleh Penulis Pagi ini muncul notifikasi dari laki-laki milik ibunya yang kucintai. Ehh, aku bingung soal cinta dan tak cukup pandai perihal tersebut. Ucapan permohonan maaf yang sering diulang setiap pagi dan esok paginya. Kadang aku, kadang juga laki-laki milik ibunya. Sayang, bolehkah aku memanggilmu seperti itu?. Rasanya pun canggung bila diucapkan dengan perasaan mendalam. Tapi, logatku yang biasanya slengek an alias peringisan membuat kata sayang tak segan-segan keluar. Notif, notifikasi itu kubiarkan menganga. Sebab masing-masing kita hancur dan sadar. Aku diam, kau pun tidur. Siang, kusimak linimasa milikmu, beberapa menit online. Aku diam. Itu berlaku sampai sore menjelang pulang kerja. Sore, aku yakin dengan sepenuh jiwa bahwa kau memberanikan diri untuk menghubungi lewat whats app. Lalu berakhir dengan kericuhan dan maaf untuk segala amarah, sayang.

Mahkota Mawar Yang Terjatuh



Mahkota Mawar Yang Terjatuh
Tak ada sepatah kata yang dapat diucapkan, angin seakan marah melihatnya, langit menagis mengeluarkan air mata. Sunyi dan hening, tak ada suara apapun yang terdengar.  Gelap gulita yang kini dirasa. Kulit meanahan dingin, helain kain menjadi selimut, kamar kosong membawah pertanda bahwa kehidupan tak lagi ada. Aku meninggalkan sebuah surat dikolong meja  kecil belajarku. Sebuah surat yang akan diterima oleh kekasihku. Hingga tiba saatnya ketika mata tak sanggup ku buka, udara tak sanggup kurasa, hanya sepasang telinga yang mendengar bahwa ia masih mencintaiku.
Mawar ini sengaja ku petik untuk mengenang sebuah kisah bersamanya. Fiqri adalah pemuda yang pernah menaklukkan hati seorang wanita bernama Dinda. Awal cerita dimulai ketika awal masuk SMA di sebuah gedung teater, Fiqri menyapa Dinda dengan senyuman manis Dinda membalasnya. Tak ada yang mengetahui, bagaimana awal Fiqri menyatakan cintanya kepada Dinda. Bahkan Deri sahabat Dinda tak mengetahui bahwa 6 bulan sebelum masuk di SMA Dinda sudah menjadi milik Fiqri. Dinda selalu mengira bahwa cinta yang diberikan Fiqri kepadanya adalah sebuah cinta rayuan semata, sebab tak mungkin Fiqri secepat itu melupakan mantan kekasihnya dulu yang bernama Loni asal Belanda.
Setiap Dinda menanyakan suatu hal yang berkaitan dengan Loni, Fiqri selalu badmot. Bahakan ia tak segan segan marah kepada Dinda hanya gara-gara pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Otomatis saja Dinda ketakutan, karena Dinda faham bahwa Fiqri itu sosok pemuda yang tegas dan memegang teguh pendiriannya. Dinda takut jika Fiqri meninggalkannya. Sebenarnya penyebab Fiqri meninggalkan Loni adalah kesombongan yang Loni miliki. Selama 1 bulan Fiqri menahan malu kepada dirinya sendiri karena selama pacaran dengan Loni, Fiqri tidak berhasil mengubah gaya kesombongan menjadi keluguan seperti yang dimliki oleh Dinda.
“Fiq, nanti kamu pulang jam berapa?”. Tanya Dinda.
“Sepertinya aku pulang malam deh Din. Soalnya aku ada jadwal bimbingan. Kamu ngak papakan pulang sendiri?”. Sambil memegang pundakku dan berjalan menuju kantin.
“Ok, ngak masalah. Kamu mau makan apa biar aku pesankan?”.
“Aku minum saja Din, soalnya aku ngak bisa lama-lama disin”.
Sambil memsan Dinda berfikir “Ada apa dengan Fiqri hari ini?”. Fiqri ingin memberikan kejutan kepada Dinda karena hari ini adalah hari kemenagan perlombaan Fiqri. Mungkin tanpa adanya Dinda, Fiqri tak dapat memenangkan pertandingan itu. Fiqri menjadi team disebuah club yang bernama cycling channel Indonesia. Prestasi Fiqri dan Dinda memang tidak menonjol diarea sekolahnya, tetapi keduanya sama-sama memiliki club di luar sekolah yang hasilnya lebih membanggakan. Fiqri ikut team balap sepeda sedangkan Dinda adalah ketua saka kalpataru di kotanya.
Saat perjalanan pulang Deri menghampiri Dinda yang sedang duduk sendiri. Dinda sempat kaget melihat kedatangan Deri yang tiba-tiba. Saking kagetnya Dinda menumpahkan sebuah es yang dibelikan Deri untuknya. Dikejauhan Fiqri melihat kejadian tersebut hingga pada akhirnya Deri memegang lengan Dinda untuk dibersihkan. Fiqir berlari mendatangi Dinda dan Deri, kemudian pukulan tiba-tiba menyantap mukanya. Dinda terjatuh akibat dorongan Fiqri. Deri tak bisa menerima dengan apa yang telah dilakukan Fiqri terhadap dirinya dan Dinda. Dinda tak sanggup berdiri karena ia merasa pusing akibat benturan saat terejatuh. Tak lama kemudian Lisa datang untuk membantunya, kemudian mereka memisahkan antara Deri dengan Fiqri.
“Kamu ngak papakan Der?”. Tanya Dinda.
Fiqri yang melihat Dinda mengusap tangan Deri langsung meninggalkan mereka bertiga. Fiqri cemburu melihat Dinda yang begitu perhatian dengan Deri dibandingkan dengan dirinya. Lisa meninggalkan Deri dan Dinda karena ia merasa bahwa tugas membatu Dinda telah usai.
“Sialan, kenapa tuh cowok datang-datang main pukul, ehh langsung pergi. Ngak pakek minta maaf lagi”. Grutuh Deri.
“Udahlah, mungkin ia cemburu melihatmu bersamaku.” Ketawa sambil menobati wajah Deri.
“Apa?? Cemburu??. Ngak salah dengar nih aku, emangnya ada yang cemburu denganmu Din?”.  Ledek Deri.
“Ehh, sialan loh Der”. Sambil memukul wajah Deri.
“Sakit tau Din, pelan-pelan napa!!”.
“Kamu sih pakek banyak omong”. Ketawa.
Fiqri tidak dapat konsentrasi penuh untuk menyiapkan kejutan tersebut, ia terus membayangkan kejadian siang tadi dan memikirkan Dinda. Ditengah-tengah berjalanan Dinda mendapat telfon dari Fiqri agar nanti malam jam 18:30 mereka berdua keluar bersama. Sore itu juga Deri mengajak Dinda untuk mencari buku baru di perpustakaan. Dinda tak dapat menolaknya karena dengan siapa lagi ia sampai kerumah jika tak ada Deri.
Dari dulu Deri mencintai Dinda, bukan tidak berani atau takut untuk menyatakan cintanya sebab dulu Deri pernah ditolak oleh Dinda dan menganggapnya hanya sebagai teman dekat saja. Dinda tidak pernah berfikir lagi bahwa sampai sekarang Deri masih menyimpan rasa kepadanya. Dinda selalu beranggapan bahwa pemikiran Deri sama sepertinya, padahal pemikiran itu salah Deri masih mencintai dan setia menunggu hingga Dinda mengerti tentang perasaan yang dimiliki Deri. Deri belum menyadari bahwa orang yang berantem dengannya tadi adalah kekasih Dinda. Dinda berkeinginan untuk memberitahu Deri akan hubungannya dengan Fiqri, tetapi waktu tidak mengizinkan Dinda untuk berkata kepadanya.
”Din, kamu lapar ngak?”. Tanya Deri.
“Tadi aku selesai makan Der, kamu lapar ya?”. Ledekan itu kembali muncul di mulut Dinda.
“Ndaklah, aku kasihan saja melihat mu yang kurus seperti ini. Jangan-jangan kamu tidak pernah di kasih uang jajan sama mama mu”. Tertawa.
“Udahlah, jangan mengejek terus, ayo pulang aku mau ada janji nih jam 18:30”. Ajak Dinda.
“Ok tuan putri yang cerewet”. Sambil memegang rambut Dinda dan tertawa.
Dinda sering pulang bareng bersama Deri saat Fiqri pulang malam. Fiqri hahu bahwa Dinda sering pulang dengan sahabatnya, tetapi ia tak tahu bahwa Derilah yang menjadi teman saat pulang sekolah. Dinda kira Fiqri mengetahui bahwa Deri sahabatnya yang sering mengantarkan pulang, tetapi jika dilihat dari kejadian sore sewaktu pulang sekolah sepertinya Fiqri belum mengetahui soal Deri.
“Masuk dulu nak Deri”. Ajak tante Salma.
“Ayo Der!!”. Ajak Dinda.
“Iya iya”. Jawab Deri.
Keluarga Dinda sangat ramah sehingga tak butuh waktu lama untuk mengenal satu persatu teman Dinda, begitu juga sebaliknya keluarga Dinda tak butuh waktu lama untuk mengenal Deri. Karena Dinda sering bercerita tentang satu sahabatnya itu kepada mamanya. Seperti rumah sendiri Deri langsung menuju kemeja makan untuk numpang makan dirumah Dinda. Hal itu sudah sering ia lakukan saat mampir kerumah Dinda. Dan biasanya mengantar Dinda sampai kerumah menjadi alasan agar mendapatkan masakan lezat tante Salma. Dinda meninggalkan Deri dengan mamanya karena ia harus bersiap-siap untuk pergi bersama Fiqri.
Jam sudah menujukkan pukul 18:15. Deri belum juga keluar dari rumah karena asik mengobrol dengan tante Salma.
“Din, kamu nungguin siapa sih?”. Tanya Deri.
“Aku nunggu Fi...”.
Dinda tak dapat menjawab pertanyyan tersebut karena tante Salma tiba-tiba memanggilnya. Akhirnya Deri pamit pulang kepada Dinda dan nitip salam saja untuk mamanya. Tak lama kemudian Fiqri sudah didepan rumah, ia mengetuk pintu berulang kali tetapi Dinda tak mendengarnya. Hingga akhirnya tante Salma yang membuka pintu tersebut.
“Ehh nak Fiqri, silahkan masuk. Dinda masih ibu suruh membersihkan meja makan didapur. Tunggu sebentar biar ibu panggilkan”. Dengan lembut tante Salma mempersilahkan masuk.
“Iya tante”. Dengan mencium tangan tante Salma.
“Tadi teman Dinda baru saja nyampek kerumah buat makan malam bersama, dia baru saja pulang”.
“Siapa tante?”. Tanya Deri.
“Ehh Fiqri, sudah dari tadi ya?. Maaf ya soalnya aku baru selesai membersihkan meja makan”. Sambil memeluk tangan kanan Fiqri.
“Ndak, aku baru saja sampai kok”. Jawab Fiqri sambil mengelus rambut Dinda.
“Tante, saya pamit dulu ya”. Sambil mencium tangan tante Salma.
Ternyata Deri belum pulang kerumah, ia mengamati Dinda digang depan rumahnya. Ia ingin tahu siapa yang mengajak Dinda keluar sehingga ia buruh-buruh cepat ingin pulang saat membeli buku. Padahal biasanya saat berada didalam perpustakaan ia tak ingin cepat-cepat pulang, Deri membuntuti mereka berdua. Ditengah perjalanan, bunga mawar yang telah disiapkan oleh Fiqri untuk Dinda tiba-tiba terjatuh. Fiqri tersentak kaget sehingga motor yang dibawahnya terguling menabrak trotoar jalan besar. Dinda dalam keadaan terpental 4 meter dari Fiqri. Deri hanya mendengar suara gebrakan motor yang jatuh, ia tak berfikir kalau itu motor yang ditumpangi oleh Dinda, karena ia berhenti untuk mengambil mawar milik Fiqri yang terjatuh tadi. Sepertinya kepala Dinda terbentur keras sehingga mengeluarkan banyak darah, kaki kanan Fiqri tak dapat digerakkan, ia mengesot menuju kearah Dinda. Tak ada satu orangpun yang melihat kecelakaan itu bahkan tak ada yang menolong Dinda dan Fiqri saat kejadian hanya Derilah yang langsung meloncat saat mendengar Fiqri meminta tolong.
“Sampaikan salam kepada mama, agar ia tak usah khawatir tentang kondisiku saat ini”. ujar Dinda kepada Fiqri.
“Dasar  Bodoh, kenapa kau malah diam dan menangis, Dinda butuh pertolongan”. Bentak Deri.
“Aku baik-baik saja Der, terima kasih banyak karena engkau selalu menemaniku dan membuat mama tersenyum dengan tingkah lakumu yang selalu konyol.” Dengan parau suara itu keluar dari mulut Dinda dan senyuman manis terlihat diwajahnya.
“Din, kamu harus bisa bertahan. Aku akanmenolongmu”. Ucap Deri, dengan memberikan sebuah mawar yang masih utuh kepada Fiqri.
“Din, maafkan aku, aku mengajakmu keluar hanya untuk merayakan keberhasilanmu dan memberikan mawar ini untukmu. Kejadian ini tak terfikirkan olehku”. Ujar Fiqri.
“Fiq, ada yang harus kamu ketahui. Kenapa aku kemarin sempat menolong Deri dari pada dirimu karena Deri adalah sahabat terbaikku dan tanganmu telah melukainya. Lalu untukmu Der, aku bangga mengenal orang baik sepertimu dan waktu membuat diriku tidak dapat mengatakan semua tentang Fiqri kepadamu”. Nafasnya tersendat-sendat dan memegang tangan Fiqri.
Fiqri hanya tercengang dan terus menangis, seakan ini dalam mimpi, ia melihat dengan mata kepala sendiri kematian Dinda kekasihnya. Fiqri mencium mawar itu dan memberikan kepada Dinda.
Mawar yang berwarna merah kini berubah menjadi putih. Warnanya hilang bersama diri kekasihnya, Dinda.
BIODATA NARASI
Nama Qurrotul Aini lahir di Jombang tanggal 17 juli 1999. Sekolah di SMA Negeri Mojoagung Jombang Jawa Timur. Alamat di ds. Catak Gayam kec.Mojowarno kab. Jombang. Hobi saya menyanyi dan menulis. Hal-hal yang paling saya sukai yaitu mendaki, obesrvasi, dan bersepeda. Harapan saya di tahun ini, memenagkan lomba kepenulisan minimal 10 kali.
No hp: 085732581376
Fb : Qurrotul Aini (ay-nie)
Email: ainiqurrotul666@gmail.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan Malam Akhir Pekan

Muak

Hilangnya Kesadaran yang Menyenangkan