Hujan Malam Akhir Pekan

Gambar
Photo: Dendysky, 2022 oleh Penulis Pagi ini muncul notifikasi dari laki-laki milik ibunya yang kucintai. Ehh, aku bingung soal cinta dan tak cukup pandai perihal tersebut. Ucapan permohonan maaf yang sering diulang setiap pagi dan esok paginya. Kadang aku, kadang juga laki-laki milik ibunya. Sayang, bolehkah aku memanggilmu seperti itu?. Rasanya pun canggung bila diucapkan dengan perasaan mendalam. Tapi, logatku yang biasanya slengek an alias peringisan membuat kata sayang tak segan-segan keluar. Notif, notifikasi itu kubiarkan menganga. Sebab masing-masing kita hancur dan sadar. Aku diam, kau pun tidur. Siang, kusimak linimasa milikmu, beberapa menit online. Aku diam. Itu berlaku sampai sore menjelang pulang kerja. Sore, aku yakin dengan sepenuh jiwa bahwa kau memberanikan diri untuk menghubungi lewat whats app. Lalu berakhir dengan kericuhan dan maaf untuk segala amarah, sayang.

Kesempatan



Kesempatan

Berjuang ditengah teriknya matahari, bersama kawan yang kucintai di sebuah organisasi untuk negeri. Merah putih terlihat tersenyum melihat kami. Berlatih sepenuh hati. Tanah ini milik nenek moyang kami tak ada kata lain selain berjuang demi kemajuan negeri ini, Indonesia. Negeri para pecinta sastra, negeri orang-orang bijaksana.
Seorang laki-laki berusia 37 tahun itu melatih kami. Demi mendapatkan sebuah gelar juara di  universitas negeri. Namanya Teguh atau yang akrab dipanggil kak Teguh. Beliau adalah pembina ekstra pramuka kami. Tetapi tak jarang juga beliau menjadi seperti orang tua sendiri. Beliau memiliki tekad yang kuat. Begitu banyak hal yang beliau ajarkan kepada kami bagaimana cara memenejemen waktu. Beliau sering mengatakan kepada kami bahwa “kesempatan lebih banyak dari pada waktu yang tersedia” kalimat itu seakan-akan membuat kami haus akan perubahan bangsa.
Jiwa muda adalah jiwa bertalenta. Maka dari itu, kami semua berlatih untuk masa depan bangsa ini, meski usaha dan tenaga kami tak pernah dihargai didepan orang-orang besar. Kami akan tetap berlatih dan akan berjuang untuk menggapai gelar kemenangan. Banyak juara-juara yang telah kami raih, tapi apa kata mereka? “mungkin itu hanya kebetulan saja”  kami sampai bosan mendengarkan kalimat tersebut, anggap saja angin lewat.
Perkenalkan, dia adalah akhul ketua pramuka. Dia seorang laki-laki yang gagah. Tubuhnya tinggi dan terlihat tampan saat marah. Diantara kami semua, dialah yang memiliki sisterm menejemen terbaik. semua hal itu yang membuatnya terpilih untuk menjadi ketua pramuka di SMA kami. Hal yang sering dia lakukan adalah mengkonsep sebuah rencana masa depan. Bagaimana pramuka dimasa mendatang banyak peminat dan berfikir modern. Tidak hanya itu, dikesibukan yang dia memiliki biasanya terselip sebuah rahasia besar. Hanya Dindalah yang tau akan rahasia tersebut.
Dinda adalah pemangku adat pramuka disini. Dia adalah pemegang teguh prinsip, hal itulah yang membuat kak Teguh memilih untuk menegakkan hukum-hukum yang ada di pangkalan kami. Seorang yang keras kepala diantara kami semua, sebenarnya watak Dinda tidak hanya berlaku di organisasi saja, tetapi dalam hal bersahabat maupun menjadi seorang kakak watak tersebut juga diterapkan.
“Din.” panggil pembina
“Iya kak, ada apa?.” Jawab Dinda
“Kamu bertanggung jawab di perlombaan pionering dan LKBB tongkat variasi.”
“Apakah kak Teguh yakin dengan hal itu? Aku belum pernah berlatih tongkat variasi.”
“Nanti akan diajarkan oleh DK.” 
“Siap kak.’’
DK adalah sebutan dari senior kami, dewan kehormatan. Kak Teguh berusaha meyakinkan Dinda agar mengikuti lomba dibidang tersebut.
“Din.” Panggil Akhul
“Apa?.” Jawab Dinda
“Sebelum latihan nanti kamu siapkan perlengkapa buat reapling di depan lapangan.”
“Kenapa didepan lapangan?. Kenapa ngak langsung didepan parkiran, reapling akan dilaksanakan disanakan?.” Tanya Dinda
“Ia, tapi nanti kita di breafing terlebih dahulu sama senior diana.” Jawab Akhul
“Ok.”
Latihan berjalan dengan lancar, hanya sedikit yang dievaluasi pada sore hari ini, tentang waktu. Ternyata waktu yang molor membuat 1 mata lomba tidak dilatihkan sore ini. sudah 3 kali ini Dinda pulang telat kerumah, penyebabnya adalah latihan lomba. Dengan mendengarkan adzan berkumandang, Dinda menggayuh sepeda birunya seperti pembalap liar. Karena dia faham, kedatangannya di rumah pasti dia akan kena marah dengan ibunya. Ibunya sama seperti Dinda, memiliki watak yang keras dan semua yang diinginkan harus terpenuhi.
“Assalamu’alaikum.” Dinda
“ . . .??” tak ada jawaban didalam rumah
Dinda langsung masuk kerumah pelan-pelan. Didalam kamar Dinda melihat Hana yang tertidur lelap. Ia adalah adik terakhir Dinda yang berumur 2 tahun. Dia mencium kening Hana, kemudian terdengar kalimat muncul dari depan pintu.
“Seorang wanita sebenarnya tidak boleh pulang semalam ini, kamu tahu? Dengan kamu pulang semalam ini, ngajimu jadi ketinggalan. Kalau kamu masih sering mengikuti pramuka mendingan kamu pindah sekolah saja.”
Kalimat itu seakan-akan menyayat hati Dinda. Bukan sekali ataupun dua kali ibunya mengatakan hal itu. Keluar dari organisasi menurutnya sama seperti orang yang tidak berpengalaman. Tapi hari ini, kalimat tersebut yang paling menyakitkan. Dinda sama sekali tidak merespon perkataan ibunya, kemudian dia beraktivitas seperti biasanya.
Pada pukul 20.00 ia membuka buku untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh pembinanya. Terdengar suara adiknya sedang menonton TV. Dinda merasa terganggu dengan suaranya. Dinda sempat marah kepada adiknya.
“Dik, TV nya dikecilkan ya! Kakak sedang belajar nih.”
Dayat dan Hana seakan tidak merespon perintah Dinda. Lalu dengan cepatnya tangan Dinda mematikan TV tersebut. Hana menagis, dan tangisan itu terdengar oleh ibunya yang sedang duduk santai diteras rumah.
“Ada apa ini?.” ibu dengan cepat mengghampiri Hana dan menanyakan kepada Dinda
“TV nya dimatikan oleh kak Dinda, bu.” Jawab Dayat
Ibu melihat ke arah Dinda yang sedang membuka laptopnya. Ibu kelihatan marah sekali kepada Dinda. Seakan Dinda memerintah adiknya seenaknya sendiri. Padahal dia adalah seorang kakak yang harus selalu mengalah kepada adiknya.
“Nyalakan saja TV nya, kakakmu hanya membaca buku itu setiap hari. Sedangkan buku pendidikan agamanya tidak pernah dia baca. Ibu dengan nada keras mengatakan kalimat tersebut.
Dinda merasakakn sakit hati saat mendengar kalimat dari ibunya muncul langsung dengan nada tinggi. Dia merasa tidak ada apa-apanya dimata ibunya. Dinda sudah berusaha pulang secepat mungkin, membersihkan sebersih mungkin ataupun menata serapi mungkin. Ternyata semua hanya sia-sia.
Pukul 23.00. dinda belum bisa memejamkan matanya dengan setenang mungkin. Kata-kata yang dilontarka ibunya tadi memenuhi kepalanya. Bukan hanya sekali ataupun dua kali Dinda berfikir bahwa ia ingin kabur dari rumah gara-gara peraturan yang mengekang dirinya. Ketiga kalinya Dinda sudah berfikir ingin kabur dari rumah. Kemudian dia memutuskan untuk kabur dari rumah. “jika aku tidak kabur dari rumah pasti tidak ada yang mengerti bahwa aku merasa tertekan dengan semua peraturan ini.” batin Dinda.
Dinda hanya meninggalkan seutas surat dimeja belajaranya yang berisikan bahwa Dinda ingin menenagkan dirinya terlebih dahulu. Denga air mata yang bercucuran akhirnya surat tersebut siap ditinggalkan untuk ibunya. Pada pukul 02.30 dini  hari, Dinda siap meninggalkan rumah dan menuju kealamat rumah temannya yang bernama Risti. Dinda berjalan dengan hati-hati agar semua orang didalam tidak terbangun. Diperjalanan ia bertemu dengan orang yang tak dikenalinya, beliau mengendarai sepeda motor dan memberikan tumpangan kepada Dinda. Kemudian Dinda menolaknya agar tidak merepotkan orang tersebut. Dinda terus berjalan sekitar 4 km dari rumahnya, mungkin didikan dari pramuka membuat fisiknya terlatih.
Suara adzan sudah berkumandang, tapi Dinda belum sampai tujuan. Ia memutuskan untuk sholat disebuah masjid. Dia bersujud dan memasrahkan diri kepadaNya. Air matapun kembali ia keluarkan. Seorang nenek tua menepuk pundaknya, Dinda tersentak kaget merasakan pundaknya ditepuk oleh beliau.
Dengan cepat Dinda mencium tangan sinenek tua itu, dia menangis dipangkuannya, seakan ia menemukan seseorang yang bisa mengerti masalahnya.
“Berdoalah kepada gusti Allah, Dia akan selalu mendengarkan keluh dan kesahmu anak muda. Menagis tak ada gunanya.”
Dinda terbangun dari pangkuan nenek tersebut dengan mengucapkan terima kasih kepada beliau. Dinda melanjutkan perjalanan menuju rumah Risti.
Sampai disana Dinda hanya duduk diteras rumah, ia tak berani mengetok pintu ataupun memberi salam kepada tuan rumah. Dinda takut mengganggu karena dia melihat rumah masih dalam keadaan sunyi.
Tiba-tiba Arin membuka pintu rumah dan melihat Dinda.
“Mbak Dinda.” Sapa Arin
“Risti dimana Rin?.”
“Mbak Risti ada didalam, silahkan masuk mbak Din!!.”
“Tolong panggilkan saja ya Rin!. Mbak Dinda mau bicara sebentar saja.”
“Iya mbak Din.”
Belum sampai Arin memanggil Risti, kemudian tante Lina sudah keluar menemui Dinda.
“Tante...”
Dinda mencium tangan tante Lina dengan penuh kasih sayang kamudian tante Lina yang tak tega melihat wajah Dinda lalu memeluknya. Kemudian tanpa malu dan berfikir panjang, Dinda menceritakan semua masalahnya kepada tante Lina. Tante Lina sangat memahami Dinda karena dia adalah sahabat anaknya yang paling sering main kerumah. Dan akhirnya tante Lina mengizinkan Dinda untuk menginap dirumahnya tetapi dengan syarat yang harus diterima  Dinda yaitu “menghubungi orang rumah kalau Dinda baik-baik saja.”
Tak lama kemudian, ibu Dinda menelfonnya. Dinda ragu untuk mengangkat telfon tersebut karena dia tahu, jika dijawab pasti hasilnya tangisan yang terjadi. Tetapi, jika telfon tersebut tidak diangkat olehnya sama seperti mengingkari janji kepada tante Lina.
“Kamu dimana Din, maafkan ibu. Ibu tak sengaja mengatakan itu semua. Kamu cepat pulang ya.” Suaranya terdengar menangis.
Dinda tak kuasa mendengar permintaan maaf ibunya, ia tak mengatakan sepatah kalimatpun untuk ibunya. Dinda lngsung menutup telfonnya.
“Din.” Panggil tante Lina
“Iya tante.”
“Kamu sekolah?.”
“Iya tante.”
Didepan sekolah Dinda, sudah ada ayahnya yang siap menjemputnya. Ayahnya tidak melihat kearah Dinda. Tetapi Dinda menyadari bahwa pagi ini ayahnya sedang berada didepan sekolah untuk membawah pulang anaknya.
Didalam kelas Dirinya sempat menangis, teman-temanya tidak ada yang mengetahui hal tersebut. Sampai jam pulang ia cepat-cepat untuk menjemput Risti disekolahnya. Sekolah Risti dan Dinda tidak sama tetapi berseberangan. Didepan gerbang pandangannya tertujuh di orang berbaju biru. Itu adalah ayahnya yang ingin menjemput pulang. Sebelum ayahnya melihat, iya berlari kedalam dan menabrak senior pramuka. Namanya kak Sarah dan kak Dela. Dinda melihat keduanya seperti melihat setan, ia sangat takut, bagaimana jika kak Sarah dan kak Dela bertanya “kenapa tidak mengikuti latihan siang ini?” benar dugaan Dinda, mereka berdua menanyakn hal itu kepadanya.
“Kenapa berlarian Dek, pemansankan sudah selesai?.”
“Kak, kakak mau kedepan?.” Tanya Dinda
“Iya dek, ada apa?.”
“Nanti jika ada ayah mencari, bilang kalau aku sudah pulang. Soalnya Dinda ngak mau pulang kerumah kak. Dirumah masih banyak masalah. Dinda ingin menenangkan diri terlebih dahulu.” Jawab Dinda dengan nada menangis.
Dinda mencurahkan semua beban yang ada didalam hatinya kepada senior. Dia mendapatkan saran banyak dari eniornya, dan akhirnya dia sadar bahwa hidup itu dijalani bukan untuk dihindari.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan Malam Akhir Pekan

Muak

Hilangnya Kesadaran yang Menyenangkan