Kesempatan
Berjuang ditengah teriknya matahari, bersama kawan yang kucintai di
sebuah organisasi untuk negeri. Merah putih terlihat tersenyum melihat kami.
Berlatih sepenuh hati. Tanah ini milik nenek moyang kami tak ada kata lain
selain berjuang demi kemajuan negeri ini, Indonesia. Negeri para pecinta
sastra, negeri orang-orang bijaksana.
Seorang laki-laki berusia 37 tahun itu melatih kami. Demi
mendapatkan sebuah gelar juara di
universitas negeri. Namanya Teguh atau yang akrab dipanggil kak Teguh. Beliau
adalah pembina ekstra pramuka kami. Tetapi tak jarang juga beliau menjadi
seperti orang tua sendiri. Beliau memiliki tekad yang kuat. Begitu banyak hal
yang beliau ajarkan kepada kami bagaimana cara memenejemen waktu. Beliau sering
mengatakan kepada kami bahwa “kesempatan lebih banyak dari pada waktu yang
tersedia” kalimat itu seakan-akan membuat kami haus akan perubahan bangsa.
Jiwa muda adalah jiwa bertalenta. Maka dari itu, kami semua
berlatih untuk masa depan bangsa ini, meski usaha dan tenaga kami tak pernah dihargai
didepan orang-orang besar. Kami akan tetap berlatih dan akan berjuang untuk
menggapai gelar kemenangan. Banyak juara-juara yang telah kami raih, tapi apa
kata mereka? “mungkin itu hanya kebetulan saja”
kami sampai bosan mendengarkan kalimat tersebut, anggap saja angin
lewat.
Perkenalkan, dia adalah akhul ketua pramuka. Dia seorang laki-laki
yang gagah. Tubuhnya tinggi dan terlihat tampan saat marah. Diantara kami semua,
dialah yang memiliki sisterm menejemen terbaik. semua hal itu yang membuatnya
terpilih untuk menjadi ketua pramuka di SMA kami. Hal yang sering dia lakukan
adalah mengkonsep sebuah rencana masa depan. Bagaimana pramuka dimasa mendatang
banyak peminat dan berfikir modern. Tidak hanya itu, dikesibukan yang dia memiliki
biasanya terselip sebuah rahasia besar. Hanya Dindalah yang tau akan rahasia
tersebut.
Dinda adalah pemangku adat pramuka disini. Dia adalah pemegang
teguh prinsip, hal itulah yang membuat kak Teguh memilih untuk menegakkan
hukum-hukum yang ada di pangkalan kami. Seorang yang keras kepala diantara kami
semua, sebenarnya watak Dinda tidak hanya berlaku di organisasi saja, tetapi
dalam hal bersahabat maupun menjadi seorang kakak watak tersebut juga
diterapkan.
“Din.” panggil pembina
“Iya kak, ada apa?.” Jawab Dinda
“Kamu bertanggung jawab di perlombaan pionering dan LKBB tongkat
variasi.”
“Apakah kak Teguh yakin dengan hal itu? Aku belum pernah berlatih
tongkat variasi.”
“Nanti akan diajarkan oleh DK.”
“Siap kak.’’
DK adalah sebutan dari senior kami, dewan kehormatan. Kak Teguh
berusaha meyakinkan Dinda agar mengikuti lomba dibidang tersebut.
“Din.” Panggil Akhul
“Apa?.” Jawab Dinda
“Sebelum latihan nanti kamu siapkan perlengkapa buat reapling di
depan lapangan.”
“Kenapa didepan lapangan?. Kenapa ngak langsung didepan parkiran,
reapling akan dilaksanakan disanakan?.” Tanya Dinda
“Ia, tapi nanti kita di breafing terlebih dahulu sama senior
diana.” Jawab Akhul
“Ok.”
Latihan berjalan dengan lancar, hanya sedikit yang dievaluasi pada
sore hari ini, tentang waktu. Ternyata waktu yang molor membuat 1 mata lomba
tidak dilatihkan sore ini. sudah 3 kali ini Dinda pulang telat kerumah,
penyebabnya adalah latihan lomba. Dengan mendengarkan adzan berkumandang, Dinda
menggayuh sepeda birunya seperti pembalap liar. Karena dia faham, kedatangannya
di rumah pasti dia akan kena marah dengan ibunya. Ibunya sama seperti Dinda,
memiliki watak yang keras dan semua yang diinginkan harus terpenuhi.
“Assalamu’alaikum.” Dinda
“ . . .??” tak ada jawaban didalam rumah
Dinda langsung masuk kerumah pelan-pelan. Didalam kamar Dinda
melihat Hana yang tertidur lelap. Ia adalah adik terakhir Dinda yang berumur 2
tahun. Dia mencium kening Hana, kemudian terdengar kalimat muncul dari depan
pintu.
“Seorang wanita sebenarnya tidak boleh pulang semalam ini, kamu
tahu? Dengan kamu pulang semalam ini, ngajimu jadi ketinggalan. Kalau kamu
masih sering mengikuti pramuka mendingan kamu pindah sekolah saja.”
Kalimat itu seakan-akan menyayat hati Dinda. Bukan sekali ataupun
dua kali ibunya mengatakan hal itu. Keluar dari organisasi menurutnya sama
seperti orang yang tidak berpengalaman. Tapi hari ini, kalimat tersebut yang
paling menyakitkan. Dinda sama sekali tidak merespon perkataan ibunya, kemudian
dia beraktivitas seperti biasanya.
Pada pukul 20.00 ia membuka buku untuk mengerjakan tugas yang
diberikan oleh pembinanya. Terdengar suara adiknya sedang menonton TV. Dinda
merasa terganggu dengan suaranya. Dinda sempat marah kepada adiknya.
“Dik, TV nya dikecilkan ya! Kakak sedang belajar nih.”
Dayat dan Hana seakan tidak merespon perintah Dinda. Lalu dengan
cepatnya tangan Dinda mematikan TV tersebut. Hana menagis, dan tangisan itu
terdengar oleh ibunya yang sedang duduk santai diteras rumah.
“Ada apa ini?.” ibu dengan cepat mengghampiri Hana dan menanyakan
kepada Dinda
“TV nya dimatikan oleh kak Dinda, bu.” Jawab Dayat
Ibu melihat ke arah Dinda yang sedang membuka laptopnya. Ibu
kelihatan marah sekali kepada Dinda. Seakan Dinda memerintah adiknya seenaknya
sendiri. Padahal dia adalah seorang kakak yang harus selalu mengalah kepada
adiknya.
“Nyalakan saja TV nya, kakakmu hanya membaca buku itu setiap hari.
Sedangkan buku pendidikan agamanya tidak pernah dia baca. Ibu dengan nada keras
mengatakan kalimat tersebut.
Dinda merasakakn sakit hati saat mendengar kalimat dari ibunya
muncul langsung dengan nada tinggi. Dia merasa tidak ada apa-apanya dimata
ibunya. Dinda sudah berusaha pulang secepat mungkin, membersihkan sebersih
mungkin ataupun menata serapi mungkin. Ternyata semua hanya sia-sia.
Pukul 23.00. dinda belum bisa memejamkan matanya dengan setenang mungkin.
Kata-kata yang dilontarka ibunya tadi memenuhi kepalanya. Bukan hanya sekali
ataupun dua kali Dinda berfikir bahwa ia ingin kabur dari rumah gara-gara
peraturan yang mengekang dirinya. Ketiga kalinya Dinda sudah berfikir ingin
kabur dari rumah. Kemudian dia memutuskan untuk kabur dari rumah. “jika aku
tidak kabur dari rumah pasti tidak ada yang mengerti bahwa aku merasa tertekan
dengan semua peraturan ini.” batin Dinda.
Dinda hanya meninggalkan seutas surat dimeja belajaranya yang
berisikan bahwa Dinda ingin menenagkan dirinya terlebih dahulu. Denga air mata
yang bercucuran akhirnya surat tersebut siap ditinggalkan untuk ibunya. Pada
pukul 02.30 dini hari, Dinda siap
meninggalkan rumah dan menuju kealamat rumah temannya yang bernama Risti. Dinda
berjalan dengan hati-hati agar semua orang didalam tidak terbangun.
Diperjalanan ia bertemu dengan orang yang tak dikenalinya, beliau mengendarai
sepeda motor dan memberikan tumpangan kepada Dinda. Kemudian Dinda menolaknya
agar tidak merepotkan orang tersebut. Dinda terus berjalan sekitar 4 km dari
rumahnya, mungkin didikan dari pramuka membuat fisiknya terlatih.
Suara adzan sudah berkumandang, tapi Dinda belum sampai tujuan. Ia
memutuskan untuk sholat disebuah masjid. Dia bersujud dan memasrahkan diri
kepadaNya. Air matapun kembali ia keluarkan. Seorang nenek tua menepuk
pundaknya, Dinda tersentak kaget merasakan pundaknya ditepuk oleh beliau.
Dengan cepat Dinda mencium tangan sinenek tua itu, dia menangis
dipangkuannya, seakan ia menemukan seseorang yang bisa mengerti masalahnya.
“Berdoalah kepada gusti Allah, Dia akan selalu mendengarkan keluh
dan kesahmu anak muda. Menagis tak ada gunanya.”
Dinda terbangun dari pangkuan nenek tersebut dengan mengucapkan
terima kasih kepada beliau. Dinda melanjutkan perjalanan menuju rumah Risti.
Sampai disana Dinda hanya duduk diteras rumah, ia tak berani
mengetok pintu ataupun memberi salam kepada tuan rumah. Dinda takut mengganggu
karena dia melihat rumah masih dalam keadaan sunyi.
Tiba-tiba Arin membuka pintu rumah dan melihat Dinda.
“Mbak Dinda.” Sapa Arin
“Risti dimana Rin?.”
“Mbak Risti ada didalam, silahkan masuk mbak Din!!.”
“Tolong panggilkan saja ya Rin!. Mbak Dinda mau bicara sebentar
saja.”
“Iya mbak Din.”
Belum sampai Arin memanggil Risti, kemudian tante Lina sudah keluar
menemui Dinda.
“Tante...”
Dinda mencium tangan tante Lina dengan penuh kasih sayang kamudian
tante Lina yang tak tega melihat wajah Dinda lalu memeluknya. Kemudian tanpa
malu dan berfikir panjang, Dinda menceritakan semua masalahnya kepada tante
Lina. Tante Lina sangat memahami Dinda karena dia adalah sahabat anaknya yang
paling sering main kerumah. Dan akhirnya tante Lina mengizinkan Dinda untuk
menginap dirumahnya tetapi dengan syarat yang harus diterima Dinda yaitu “menghubungi orang rumah kalau
Dinda baik-baik saja.”
Tak lama kemudian, ibu Dinda menelfonnya. Dinda ragu untuk
mengangkat telfon tersebut karena dia tahu, jika dijawab pasti hasilnya tangisan
yang terjadi. Tetapi, jika telfon tersebut tidak diangkat olehnya sama seperti
mengingkari janji kepada tante Lina.
“Kamu dimana Din, maafkan ibu. Ibu tak sengaja mengatakan itu
semua. Kamu cepat pulang ya.” Suaranya terdengar menangis.
Dinda tak kuasa mendengar permintaan maaf ibunya, ia tak mengatakan
sepatah kalimatpun untuk ibunya. Dinda lngsung menutup telfonnya.
“Din.” Panggil tante Lina
“Iya tante.”
“Kamu sekolah?.”
“Iya tante.”
Didepan sekolah Dinda, sudah ada ayahnya yang siap menjemputnya.
Ayahnya tidak melihat kearah Dinda. Tetapi Dinda menyadari bahwa pagi ini
ayahnya sedang berada didepan sekolah untuk membawah pulang anaknya.
Didalam kelas Dirinya sempat menangis, teman-temanya tidak ada yang
mengetahui hal tersebut. Sampai jam pulang ia cepat-cepat untuk menjemput Risti
disekolahnya. Sekolah Risti dan Dinda tidak sama tetapi berseberangan. Didepan
gerbang pandangannya tertujuh di orang berbaju biru. Itu adalah ayahnya yang
ingin menjemput pulang. Sebelum ayahnya melihat, iya berlari kedalam dan
menabrak senior pramuka. Namanya kak Sarah dan kak Dela. Dinda melihat keduanya
seperti melihat setan, ia sangat takut, bagaimana jika kak Sarah dan kak Dela
bertanya “kenapa tidak mengikuti latihan siang ini?” benar dugaan Dinda, mereka
berdua menanyakn hal itu kepadanya.
“Kenapa berlarian Dek, pemansankan sudah selesai?.”
“Kak, kakak mau kedepan?.” Tanya Dinda
“Iya dek, ada apa?.”
“Nanti jika ada ayah mencari, bilang kalau aku sudah pulang.
Soalnya Dinda ngak mau pulang kerumah kak. Dirumah masih banyak masalah. Dinda
ingin menenangkan diri terlebih dahulu.” Jawab Dinda dengan nada menangis.
Dinda mencurahkan semua beban yang ada didalam hatinya kepada
senior. Dia mendapatkan saran banyak dari eniornya, dan akhirnya dia sadar
bahwa hidup itu dijalani bukan untuk dihindari.
Komentar