Semoga Salamku Tersempaikan Untuk Mama
assalamualaikum wr.wb
Mama,
ini aku Aini. Anak yang sering mama banggakan dan di nomer satukan di antara
saudaraku yang lain. Aku ingin menyampaikan sesuatu yang selama ini aku pendam
sendiri dihati yang paling dalam, yaitu harapanku untuk menjadi seorang
profesor, ma. Apakah mama disana masih ingat, tentang buku yang pernah aku beli
berjudul “sebuah harapan dimasa mendatang” sebenarnya aku membelikan buku
tersebut untuk mama. Hingga saat ini diriku pun masih berharap mama bisa
membacakan cerita tersebut untuk diriku. Aku memebelikan buku itu agar mama
bisa menerima aku menjadi seorang profesor seperti yang ku cita-citakan. Aku
tahu bahwa mama tak menyukai tentang cita-citaku ini, tapi aku ingin sekali
menjadi seorang profesor.
Mama,
aku tidak pernah menyalahkan mama dalam hal apapun. Apakah mama masih ingat
tentang tes masuk disekolah agama? Aku juga ingin seperti anak-anak yang lain,
ma. Pendidikan agamanya maksimal, sedangkan aku?? Pengetahuan agamaku minim
sekali, bukanya itu yang pernah mama katakan kepadaku. Mama sempat marah saat
aku gagal tes disekolahan itu. Mama juga sering membeda-bedakan diriku dengan
anak tetangga gara-gara pengetahuan agamanya lebih tinggi dari diriku. Aku
menerima semua ucapan itu dengan hati yang tulus, karena itu kesalahanku
sendiri yang kurang maksimal saat belajar. Tetapi mama juga harus tahu tentang
sakitnya perasaanku saat mama membedakan antara diriku dengan anak tetangga.
Aku ini Aini ma, bukan anak tetangga. Kemampuan kita berbeda. Mama harus
mengatahui satu hal ini “semakin aku dipaksakan untuk terjun di pendidikan
agama hatiku semakain kecil, ma. Meskipun aku sukses dipendidikan tersebut.
Aku
memiliki harapan sendiri menjadi seorang profesor adalah cita-citaku sejak
kecil. Untuk kali ini biarkan aku berjalan mengikuti waktu, seperti air yang
megalir bukan seperti angin yang berhembus ketika ada benda pengnghalang pasti
tidak dapat menembusnya. Meski aku tidak pernah menjadi anak yang seperti mama
inginkan 100%, tapi aku yakin bahwa setiap ucapan, dan amarah mama adalah
sebuah do’a untuk menjadikanku lebih baik lagi.
Aku
ingat ketika kecil aku diajak berlibur di kebun binatang, mama mengajarkanku
untuk memberanikan diri. Memberikan makanan untuk monyet disana. Ternyata aku
tidak seberani itu, akhirnya aku menangis dan mama menggendongku dengan kasih
sayang dan pelukan seorang ibu yang tulus. Aku rindu akan pelukan itu mama.
Sejak saat itu aku tidak pernah mendapatkan pelukan tulus seperti dulu.
Bagaimana aku meminta mama untuk memelukku saat ini. Sedangkan aku disini berbaring
sendiri di tempat kecil ini.
Mama ini pesanku yang
terakhir.
Di
menit-menit terakhirku ini, aku ingin mama mengetahui satu hal. Bahwa aku
sangat menyanyangimu, ma. Aku sangat bangga memiliki orang tua seperti mama.
Mama selalu mendukungku saat aku berkompetisi meraih prestasi. Mamalah yang
mengajarkanku itu semua, mama telah mengajarkan aku tentang banyak hal didunia
ini. Dari mengajarkan tentang cara memandang hingga berjalan. Mama... “mama,
jangan pernah lagi membeda-bedakan anak mama lagi ya!! Semua orang pastilah
memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, karena manusia tidak ada yang
sempurna. Jika ini terjadi pada adik-adikku, maka mama akan kecewa ke2 kalinya”.
Saat ini aku sedang menderita sakit keras, mungkin gara-gara perbuatanku dan
dosa-dosaku kepada mama, hingga tuhan menghukumku seperti ini.
Mama,
aku minta maaf yang sebanyak-banyaknya. Perbuatan dan dosa-dosa anakmu ini
mohon dimaafkan. Aku tidak dapat mengabari mama tentang hal ini, karena aku
tahu jika aku mengatakan tentang pentyakitku ini kepada mama, pastilah mama akan
khawatir seperti ketika aku jatuh dari kursi saat aku berumur 2 tahun.
Wassalamualaikum wr.wb
Aini
Komentar