Hujan Malam Akhir Pekan

Gambar
Photo: Dendysky, 2022 oleh Penulis Pagi ini muncul notifikasi dari laki-laki milik ibunya yang kucintai. Ehh, aku bingung soal cinta dan tak cukup pandai perihal tersebut. Ucapan permohonan maaf yang sering diulang setiap pagi dan esok paginya. Kadang aku, kadang juga laki-laki milik ibunya. Sayang, bolehkah aku memanggilmu seperti itu?. Rasanya pun canggung bila diucapkan dengan perasaan mendalam. Tapi, logatku yang biasanya slengek an alias peringisan membuat kata sayang tak segan-segan keluar. Notif, notifikasi itu kubiarkan menganga. Sebab masing-masing kita hancur dan sadar. Aku diam, kau pun tidur. Siang, kusimak linimasa milikmu, beberapa menit online. Aku diam. Itu berlaku sampai sore menjelang pulang kerja. Sore, aku yakin dengan sepenuh jiwa bahwa kau memberanikan diri untuk menghubungi lewat whats app. Lalu berakhir dengan kericuhan dan maaf untuk segala amarah, sayang.

Penulisan pesan



Semoga Salamku Tersempaikan Untuk Mama
assalamualaikum wr.wb
Mama, ini aku Aini. Anak yang sering mama banggakan dan di nomer satukan di antara saudaraku yang lain. Aku ingin menyampaikan sesuatu yang selama ini aku pendam sendiri dihati yang paling dalam, yaitu harapanku untuk menjadi seorang profesor, ma. Apakah mama disana masih ingat, tentang buku yang pernah aku beli berjudul “sebuah harapan dimasa mendatang” sebenarnya aku membelikan buku tersebut untuk mama. Hingga saat ini diriku pun masih berharap mama bisa membacakan cerita tersebut untuk diriku. Aku memebelikan buku itu agar mama bisa menerima aku menjadi seorang profesor seperti yang ku cita-citakan. Aku tahu bahwa mama tak menyukai tentang cita-citaku ini, tapi aku ingin sekali menjadi seorang profesor.
Mama, aku tidak pernah menyalahkan mama dalam hal apapun. Apakah mama masih ingat tentang tes masuk disekolah agama? Aku juga ingin seperti anak-anak yang lain, ma. Pendidikan agamanya maksimal, sedangkan aku?? Pengetahuan agamaku minim sekali, bukanya itu yang pernah mama katakan kepadaku. Mama sempat marah saat aku gagal tes disekolahan itu. Mama juga sering membeda-bedakan diriku dengan anak tetangga gara-gara pengetahuan agamanya lebih tinggi dari diriku. Aku menerima semua ucapan itu dengan hati yang tulus, karena itu kesalahanku sendiri yang kurang maksimal saat belajar. Tetapi mama juga harus tahu tentang sakitnya perasaanku saat mama membedakan antara diriku dengan anak tetangga. Aku ini Aini ma, bukan anak tetangga. Kemampuan kita berbeda. Mama harus mengatahui satu hal ini “semakin aku dipaksakan untuk terjun di pendidikan agama hatiku semakain kecil, ma. Meskipun aku sukses dipendidikan tersebut.
Aku memiliki harapan sendiri menjadi seorang profesor adalah cita-citaku sejak kecil. Untuk kali ini biarkan aku berjalan mengikuti waktu, seperti air yang megalir bukan seperti angin yang berhembus ketika ada benda pengnghalang pasti tidak dapat menembusnya. Meski aku tidak pernah menjadi anak yang seperti mama inginkan 100%, tapi aku yakin bahwa setiap ucapan, dan amarah mama adalah sebuah do’a untuk menjadikanku lebih baik lagi.
Aku ingat ketika kecil aku diajak berlibur di kebun binatang, mama mengajarkanku untuk memberanikan diri. Memberikan makanan untuk monyet disana. Ternyata aku tidak seberani itu, akhirnya aku menangis dan mama menggendongku dengan kasih sayang dan pelukan seorang ibu yang tulus. Aku rindu akan pelukan itu mama. Sejak saat itu aku tidak pernah mendapatkan pelukan tulus seperti dulu. Bagaimana aku meminta mama untuk memelukku saat ini. Sedangkan aku disini berbaring sendiri di tempat kecil ini.
Mama ini pesanku yang terakhir.
Di menit-menit terakhirku ini, aku ingin mama mengetahui satu hal. Bahwa aku sangat menyanyangimu, ma. Aku sangat bangga memiliki orang tua seperti mama. Mama selalu mendukungku saat aku berkompetisi meraih prestasi. Mamalah yang mengajarkanku itu semua, mama telah mengajarkan aku tentang banyak hal didunia ini. Dari mengajarkan tentang cara memandang hingga berjalan. Mama... “mama, jangan pernah lagi membeda-bedakan anak mama lagi ya!! Semua orang pastilah memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, karena manusia tidak ada yang sempurna. Jika ini terjadi pada adik-adikku, maka mama akan kecewa ke2 kalinya”. Saat ini aku sedang menderita sakit keras, mungkin gara-gara perbuatanku dan dosa-dosaku kepada mama, hingga tuhan menghukumku seperti ini.
Mama, aku minta maaf yang sebanyak-banyaknya. Perbuatan dan dosa-dosa anakmu ini mohon dimaafkan. Aku tidak dapat mengabari mama tentang hal ini, karena aku tahu jika aku mengatakan tentang pentyakitku ini kepada mama, pastilah mama akan khawatir seperti ketika aku jatuh dari kursi saat aku berumur 2 tahun.   
Wassalamualaikum wr.wb


Aini


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan Malam Akhir Pekan

Muak

Hilangnya Kesadaran yang Menyenangkan